kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.185   38,00   0,21%
  • IDX 5.266   -106,96   -1,99%
  • KOMPAS100 682   -13,68   -1,97%
  • LQ45 533   -9,14   -1,69%
  • ISSI 179   -4,42   -2,41%
  • IDX30 300   -4,55   -1,49%
  • IDXHIDIV20 399   -1,83   -0,46%
  • IDX80 79   -1,55   -1,93%
  • IDXV30 111   -0,19   -0,17%
  • IDXQ30 101   -0,86   -0,84%

Rupiah Diprediksi Masih Melemah hingga Akhir 2026, Ini Rentang Pergerakannya


Selasa, 27 Oktober 2026 / 16:03 WIB
Rupiah Diprediksi Masih Melemah hingga Akhir 2026, Ini Rentang Pergerakannya
ILUSTRASI. Rupiah diprediksi melemah hingga 2027 akibat arus modal asing dan harga minyak. Simak proyeksi kurs serta pilihan mata uang untuk diversifikasi. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2026 seiring arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia dan tingginya harga minyak dunia. Ketidakpastian terkait indeks MSCI juga menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Pada Selasa (27/10/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 18.156 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut melemah 0,12% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 18.135 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, sentimen domestik berupa arus keluar dana asing yang berkelanjutan, terutama terkait kekhawatiran penurunan peringkat (downgrade) MSCI, turut memberikan tekanan signifikan terhadap rupiah.

Selain itu, harga minyak dunia yang tinggi berisiko menekan neraca eksternal Indonesia sekaligus memperburuk kondisi fiskal.

Baca Juga: Kinerja SIDO Tertekan hingga Kuartal III-2026, Simak Rekomendasi dan Prospeknya

Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut pada awal 2027 apabila belum ada perbaikan sentimen pasar dan arus modal asing.

“Namun, rupiah bisa kembali stabil dan berbalik menguat jika dolar Amerika Serikat (AS) melemah, harga energi turun, dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia pulih,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Lukman menjelaskan, nilai tukar mata uang tidak hanya mencerminkan fundamental ekonomi suatu negara, tetapi juga dipengaruhi premi risiko dan sentimen pasar.

Sejumlah analisis valuasi, termasuk yang menggunakan pendekatan daya beli dan nilai tukar efektif riil, menunjukkan bahwa rupiah saat ini sudah relatif undervalued atau berada di bawah nilai wajarnya.

Meski demikian, tekanan arus modal keluar dan ketidakpastian domestik dapat membuat rupiah bertahan di level lemah dalam waktu lebih lama.

Karena itu, menurut Lukman, sulit menentukan satu angka pasti yang dapat merepresentasikan nilai fundamental rupiah.

“Valuasi juga harus mempertimbangkan kondisi neraca eksternal, inflasi, produktivitas, arus modal, dan kredibilitas kebijakan,” ungkapnya.

Proyeksi Rupiah hingga 2027

Untuk sisa 2026, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 18.000 hingga Rp 18.400 per dolar AS. Sementara itu, prospek rupiah sepanjang 2027 masih sulit dipastikan karena dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan domestik.

Sejumlah faktor yang akan menentukan arah pergerakan rupiah antara lain perkembangan MSCI, indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST), serta harga minyak dunia dan dinamika geopolitik.

Perubahan pada faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor dan arus modal ke pasar keuangan Indonesia.

“Dengan data dan perkembangan yang ada saat ini, rupiah diperkirakan berkisar Rp 18.500 - Rp 18.800 per dolar AS di kuartal 2027,” paparnya.

Baca Juga: Laba Bersih Sampoerna (HMSP) Melonjak 44,42% hingga Kuartal III-2026

Dolar Singapura hingga Franc Swiss untuk Diversifikasi

Di tengah ketidakpastian nilai tukar rupiah, Lukman menilai investor dapat mempertimbangkan diversifikasi ke sejumlah mata uang asing. Salah satu pilihan yang dinilai menarik adalah dolar Singapura (SGD).

Mata uang tersebut didukung kebijakan nilai tukar Monetary Authority of Singapore (MAS) dan dinilai relatif defensif dibandingkan sejumlah mata uang lain di kawasan.

Selain dolar Singapura, ringgit Malaysia (MYR) juga dapat menjadi alternatif investasi karena memperoleh dukungan dari kinerja ekspor dan kondisi eksternal Malaysia.

Sementara itu, yuan China (CNY) dapat dipertimbangkan oleh investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap perekonomian China.

Bagi investor yang ingin memperluas diversifikasi portofolio, yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) juga dapat menjadi pilihan.

Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa setiap mata uang memiliki karakteristik dan risiko tersendiri yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.

“Namun, masing-masing tetap memiliki risiko tersendiri,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×