Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia masih akan lanjut tertekan menjelang dan setelah review MSCI November 2026.
Asal tahu saja, review indeks MSCI Indonesia akan diumumkan pada 11 November 2026 waktu Amerika Serikat (AS) mendatang.
Per Jumat (6/11/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di level 5.050 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak awal tahun, IHSG sudah turun 41,59% year to date (YTD).
Baca Juga: Mata Uang Asia Volatil, Rupiah Diproyeksi Bergerak hingga Rp 18.350
Aliran dana asing juga sudah keluar sebesar Rp 127,26 triliun YTD di pasar reguler sejak awal 2026.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, pergerakan IHSG sepekan ke depan diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, meskipun peluang penguatan teknikal tetap terbuka.
Penguatan ini menjadi indikasi adanya upaya pembelian pada saat indeks mengalami tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa pasar telah memasuki fase pemulihan yang solid.
“Hal ini terlihat dari komposisi perdagangan yang masih didominasi saham melemah, yakni 381 saham turun berbanding 192 saham menguat,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).
Dari sisi sentimen, pasar domestik masih dibayangi pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp18.080–Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS) dan arus dana asing masih terus keluar.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi US$ 146,8 miliar pada akhir Oktober memberikan bantalan positif bagi stabilitas eksternal. Lalu, terdapat volatilitas bursa global.
“Khususnya, tekanan pada saham teknologi AS dan Asia akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi serta prospek investasi kecerdasan buatan (AI), di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global,” ungkapnya.
Hendra melihat, hasil evaluasi MSCI pekan ini berpotensi memengaruhi arah IHSG. Sebab, review ini berkaitan dengan persepsi investor global terhadap transparansi, likuiditas, struktur kepemilikan saham, dan investability pasar modal Indonesia.
Pasar tidak hanya akan mencermati perubahan komposisi saham dalam indeks, tetapi juga bagaimana MSCI menilai perkembangan reformasi pasar modal Indonesia. Khususnya, terkait keterbukaan informasi kepemilikan saham, transparansi free float, serta kualitas tata kelola perdagangan.
Apabila hasil evaluasi memberikan sinyal positif dan menunjukkan adanya kemajuan yang kredibel, hal tersebut berpotensi menjadi katalis pemulihan kepercayaan investor asing.
“Sebaliknya, apabila masih terdapat catatan serius atau ketidakpastian mengenai status dan aksesibilitas pasar Indonesia, tekanan jual berpotensi kembali meningkat,” ungkapnya.
Baca Juga: Emas Global Perkasa pasca-Pemilu AS, Harga Emas Antam Berpotensi Lanjutkan Reli
Hendra pun melihat PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akan terlempar dari MSCI Indonesia Index pada review November ini.
Namun, dampak dari review MSCI pekan ini tidak hanya bersifat teknikal melalui penyesuaian portofolio dana pasif yang mengikuti indeks MSCI, tetapi juga psikologis. Sebab, keputusan tersebut menjadi salah satu tolok ukur kepercayaan investor institusi internasional.
“Dengan demikian, menjelang pengumuman tersebut, volatilitas pasar berpotensi meningkat dan investor sebaiknya tidak terlalu agresif mengambil posisi sebelum arah kebijakan dan implikasinya menjadi lebih jelas,” paparnya.
Secara teknikal, Hendra melihat, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami tekanan cukup dalam dan belum menunjukkan konfirmasi pembalikan tren jangka menengah.
Area 5.000 menjadi level psikologis sekaligus support penting yang perlu dipertahankan.
Untuk perdagangan IHSG sepekan ke depan, support terdekat berada di kisaran 5.040–5.015, kemudian 5.000 dan 4.960 sebagai area pertahanan berikutnya.
Apabila tekanan jual meningkat dan IHSG kembali menembus ke bawah 4.960, risiko koreksi lanjutan menuju area 4.900 bahkan 4.800 perlu diantisipasi.
Sebaliknya, resistance terdekat berada pada 5.065–5.080, dengan target penguatan berikutnya di kisaran 5.150–5.200.
IHSG masih membutuhkan penguatan yang konsisten di atas area resistance tersebut, disertai peningkatan volume transaksi dan meluasnya jumlah saham yang menguat, untuk memberikan konfirmasi pemulihan yang lebih meyakinkan.
“Artinya, kenaikan indeks yang hanya ditopang beberapa saham berkapitalisasi besar belum cukup menjadi indikasi bahwa kepercayaan pasar telah pulih secara menyeluruh,” katanya.
Dalam kondisi pasar yang masih volatil, investor disarankan untuk mengutamakan manajemen risiko dibandingkan mengejar keuntungan jangka pendek.
Investor juga perlu menjaga ketersediaan dana tunai agar memiliki fleksibilitas ketika muncul peluang pada saat pasar mengalami koreksi.
“Hindari penggunaan margin berlebihan, pembelian saham hanya karena mengikuti momentum kenaikan sesaat, serta keputusan investasi yang didasarkan pada rumor atau spekulasi menjelang pengumuman MSCI,” paparnya.
Untuk investor jangka pendek, disiplin menentukan titik masuk, target keuntungan, dan batas toleransi kerugian menjadi sangat penting.
Sementara itu, investor jangka menengah dan panjang dapat memanfaatkan koreksi secara selektif untuk mengakumulasi saham berkualitas, tetapi tetap memperhatikan valuasi dan kondisi keuangan emiten.
Dalam situasi seperti sekarang, menjaga modal jauh lebih penting daripada memaksakan keuntungan ketika arah pasar belum sepenuhnya jelas.
Dari sisi pilihan saham, sejumlah saham perbankan besar masih menarik untuk dicermati karena memiliki likuiditas tinggi, basis bisnis yang relatif kuat, dan berpotensi memperoleh manfaat ketika kepercayaan pasar mulai pulih.
Baca Juga: Obligasi ESG 2027 Masih Dibayangi Tantangan, Ini Penyebabnya
Sebaliknya, investor sebaiknya lebih selektif terhadap saham-saham yang mengalami kenaikan atau penurunan ekstrem tanpa didukung fundamental dan kinerja keuangan yang memadai.
“Terutama, saham berlikuiditas rendah, memiliki free float terbatas, struktur kepemilikan yang kurang transparan, serta rentan mengalami pergerakan harga tidak wajar,” katanya.
Hendra pun merekomendasikan speculative buy untuk BBCA, BRIS, dan ADRO dengan target harga masing-masing Rp 5.800 per saham, Rp 1.295 per saham, dan Rp 2.500 per saham.
Baca Juga: Yuan dan Ringgit Lebih Prospektif, Rupiah Masih Rentan Tertekan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
