kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Mata Uang Asia Volatil, Rupiah Diproyeksi Bergerak hingga Rp 18.350


Minggu, 08 November 2026 / 16:18 WIB
Mata Uang Asia Volatil, Rupiah Diproyeksi Bergerak hingga Rp 18.350
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia diperkirakan masih berfluktuasi hingga akhir 2026. Ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan pemerintahan Amerika Serikat (AS), serta potensi tekanan dari sektor teknologi menjadi sejumlah sentimen yang membayangi pasar valuta asing.

Melansir Trading Economics Minggu (8/11/2026) pukul 15.45 WIB, pasangan valas USD/JPY berada di level 158,473. Angka ini menunjukkan yen melemah 0,49% terhadap dolar AS secara harian dan 0,25% secara bulanan. 

Sementara itu, yuan China (CNY) berada di level 6,67240 per dolar AS. Yuan melemah 0,11% secara harian, tetapi masih menguat 0,45% secara bulanan terhadap dolar AS.

Adapun ringgit Malaysia (MYR) bertengger di level 4,061 per dolar AS. Ringgit menguat 0,36% secara harian, tapi terkoreksi 0,62% dalam sebulan terakhir. Dolar Singapura (SGD) tercatat di level 1,2827 per dolar AS. Nilai tersebut menguat 0,41% secara harian dan 0,23% sebulan. 

Lalu rupiah (IDR) di pasar spot ditutup pada level Rp 18.089 per dolar AS pada Jumat (6/11/2026). Posisi tersebut menguat 0,32% dibandingkan penutupan Jumat pekan sebelumnya (30/10/2026) yang berada di level Rp 18.147 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan Presiden AS Donald Trump setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu legislatif AS. 

Baca Juga: Yuan dan Ringgit Lebih Prospektif, Rupiah Masih Rentan Tertekan

Investor juga menanti apakah kemenangan tersebut dapat membatasi langkah Trump dalam mengambil kebijakan, termasuk terkait konflik geopolitik.

Menurutnya, kemenangan Partai Demokrat tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap saham perusahaan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Apabila koreksi saham teknologi berlanjut, sentimen penghindaran risiko atau risk-off berpotensi merembet ke pasar Asia.

"Dampaknya terutama dapat dirasakan oleh negara-negara yang memiliki eksposur besar terhadap sektor teknologi, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan," ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).

Di tengah kondisi tersebut, pergerakan mata uang Asia diperkirakan tidak akan seragam. Yuan China, misalnya, diperkirakan mulai stabil dan tidak melanjutkan pelemahannya. 

Stabilitas yuan diharapkan dapat membantu meredam sentimen risk-off yang dipicu oleh koreksi saham-saham teknologi berbasis AI. Sementara itu, pergerakan ringgit Malaysia, yen Jepang, dan rupiah masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Rupiah Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS, Simak Proyeksinya Awal Pekan

Adapun dolar Singapura memiliki karakteristik berbeda. Menurut Lukman, pergerakan mata uang tersebut relatif sulit diproyeksikan karena Monetary Authority of Singapore (MAS) memiliki kemampuan untuk mengelola nilai tukar sesuai dengan perkembangan kondisi ekonomi.

Proyeksi Mata Uang Asia hingga Akhir 2026

Lukman memperkirakan pasangan USD/CNY akan bergerak dalam kisaran 6,6-6,7 hingga akhir 2026. Sementara itu, USD/MYR diproyeksikan berada di rentang 4,0-4,1.

Untuk yen Jepang, pasangan USD/JPY diperkirakan bergerak di kisaran 150-160. Adapun rupiah diproyeksikan berada pada rentang Rp 18.000-Rp 18.350 per dolar AS.

Di tengah volatilitas pasar valuta asing, Lukman menyarankan investor untuk menerapkan strategi diversifikasi. 

"Investor semestinya melakukan diversifikasi karena mata uang-mata uang tersebut memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Di tengah ketidakpastian ini, tidak ada alasan untuk masuk ke salah satu mata uang saja," tandasnya.

Baca Juga: Rupiah Menguat 0,32% Dalam Sepekan, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×