Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan pasar obligasi dan sukuk berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) diperkirakan belum akan melaju kencang dalam waktu dekat. Sejumlah tantangan, mulai dari tingginya biaya pendanaan hingga terbatasnya minat investor, masih membayangi prospek penerbitan instrumen tersebut hingga 2027.
Peluncuran Indonesia ESG Bond Index oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) diharapkan dapat menjadi salah satu katalis pengembangan pasar obligasi ESG domestik. Indeks ini sekaligus memberikan referensi bagi investor untuk memantau kinerja obligasi dan sukuk berbasis ESG.
Indonesia ESG Bond Index terdiri atas dua indeks, yakni Indonesia ESG Corporate Bond Index dan Indonesia Prime ESG Bond Index. Obligasi yang masuk dalam konstituen indeks tersebut juga mempertimbangkan peringkat kredit, mulai dari AAA hingga BBB-.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menilai peluncuran indeks tersebut merupakan langkah positif bagi pengembangan pasar obligasi ESG di Indonesia.
Menurutnya, keberadaan indeks tidak hanya menyediakan acuan yang lebih transparan bagi investor dalam memantau kinerja obligasi dan sukuk ESG, tetapi juga berpotensi mendorong pengembangan produk investasi berbasis ESG.
Baca Juga: Rupiah Mulai Menguat, Ini Sederet Sentimen yang Perlu Diwaspadai
“Namun, daya tarik obligasi tetap ditentukan oleh imbal hasil, risiko kredit, dan likuiditasnya. Label ESG saja belum cukup menarik investor,” ujar Budi kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Dari sisi penerbitan, Budi menilai prospek obligasi dan sukuk ESG hingga akhir 2026 maupun sepanjang 2027 masih menghadapi tantangan. Salah satu faktor utamanya adalah tingginya yield obligasi yang berdampak pada peningkatan biaya pendanaan bagi emiten.
Meski demikian, peluang perbaikan penerbitan obligasi ESG pada 2027 tetap terbuka. Budi memperkirakan prospek pasar dapat membaik apabila didukung penurunan suku bunga, stabilitas nilai tukar rupiah, serta peningkatan permintaan dari investor institusi. Kendati begitu, proses pemulihan diperkirakan berlangsung secara bertahap.
Berdasarkan catatan BEI, akumulasi penerbitan instrumen obligasi dan sukuk ESG sejak 2018 hingga September 2026 mencapai Rp 89,46 triliun dengan melibatkan 16 penerbit.
Instrumen tersebut mencakup Sukuk Social Musyarakah, Sukuk Social Mudharabah, Social Bond, Sustainable Sukuk, Sustainability-Linked Bond (SLB), Sustainable Bond, serta Green Bond.
Namun, tren penerbitan instrumen ESG justru mengalami perlambatan pada 2026. Hingga September 2026, penerbitan obligasi dan sukuk ESG tercatat hanya sebesar Rp 16,9 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp 35,6 triliun.
Baca Juga: IHSG Dibayangi Outflow Asing, Ini 3 Saham Rekomendasi MNC Sekuritas
Budi melihat, tertahannya penerbitan obligasi dan sukuk ESG pada 2026 tidak terlepas dari tingginya biaya pendanaan dan ketidakpastian pasar. Selain itu, basis investor yang memiliki perhatian khusus terhadap instrumen ESG masih relatif terbatas.
Penerbitan instrumen ESG juga membutuhkan biaya tambahan, terutama untuk memenuhi kebutuhan sertifikasi dan pelaporan. Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi perusahaan sebelum menerbitkan obligasi atau sukuk berbasis ESG.
“Menurut saya, kunci pertumbuhan pasar obligasi ESG bukan sekadar tersedianya indeks, melainkan biaya pendanaan yang kompetitif, kualitas penerbit, dan permintaan investor yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
