kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   4.000   0,16%
  • USD/IDR 18.082   122,00   0,68%
  • IDX 5.280   -583,89   -9,96%
  • KOMPAS100 676   -84,95   -11,16%
  • LQ45 527   -63,34   -10,73%
  • ISSI 180   -21,45   -10,65%
  • IDX30 295   -34,16   -10,39%
  • IDXHIDIV20 384   -38,90   -9,20%
  • IDX80 78   -9,71   -11,12%
  • IDXV30 105   -10,29   -8,89%
  • IDXQ30 97   -10,79   -9,99%

MSCI Buka Potensi Turunkan Status Pasar Saham RI, Mantan Dirut BEI Turut Buka Suara


Jumat, 16 Oktober 2026 / 08:56 WIB
MSCI Buka Potensi Turunkan Status Pasar Saham RI, Mantan Dirut BEI Turut Buka Suara
ILUSTRASI. MSCI buka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar saham RI jadi Standalone Market menunjukkan minimnya kepercayaan atas pasar saham RI.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah MSCI membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market menunjukkan minimnya kepercayaan atas pasar saham Indonesia.  

Pengamat Pasar Modal sekaligus mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Zein Mahmud menilai pengumuman MSCI menunjukkan pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi syarat untuk tetap masuk kategori Emerging Market. 

“MSCI sejatinya menegaskan bahwa pasar modal Indonesia tidak lagi memenuhi syarat masuk dalam Emerging Market. Namun belum sampai pada downgrading ke Frontier Market,” katanya, Jumat (16/10/2026). 

Baca Juga: MSCI Tidak Akan Turunkan Pasar Modal Indonesia Ke Frontier Market

Menurutnya, persoalan utama yang menjadi perhatian MSCI bukan sekadar klasifikasi pasar, melainkan transparansi identitas pemegang saham karena ketidakjelasan kepemilikan dapat mengganggu pembentukan harga saham. 

“MSCI cuma tidak percaya satu hal, yaitu identitas pemegang saham karena pengendali atau bandar menggunakan banyak nominee agar bisa mengatur harga,” ucapnya. 

Hasan menjelaskan MSCI menggunakan istilah coordinated trading behavior untuk menggambarkan dugaan transaksi terkoordinasi di pasar saham Indonesia yang harusnya ditindak tegas. 

Lebih lanjut, Hasan bercerita dirinya pernah mengusulkan adopsi profesi spesialis seperti yang diterapkan di New York Stock Exchange saat masih bertugas di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). 

“Waktu saya di Bapepem, 30 tahun yang lalu, saya mengusulkan untuk mengadopsi profesi specialist seperti di NYSE untuk meningkatkan likuiditas dan memelihara pembentukan harga wajar,” ucapnya. 

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 4.000 Jadi Rp 2.565.000 per Gram, Jumat (16/10)

Menurutnya, perbaikan transparansi membutuhkan perubahan mendasar dalam praktik pasar dan penegakan aturan. Dia mengibaratkan pasar modal Indonesia sebagai pasien dan perlu menjalani proses pemulihan. 

Hasan menyoroti tantangan membangun pasar yang transparan juga berkaitan dengan praktik pihak-pihak yang berupaya menyembunyikan aktivitasnya. Dus, di perubahan budaya menjadi bagian penting dalam membenahi pasar modal Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×