Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif sepanjang pekan ini dengan mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, prospek mata uang Garuda masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, terutama ketidakpastian politik di AS dan dinamika geopolitik global.
Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 18.089 per dolar AS pada Jumat (6/11). Posisi tersebut menguat 0,32% dibandingkan penutupan Jumat pekan sebelumnya (30/10) yang berada di level Rp 18.147 per dolar AS.
Tren penguatan juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Rupiah JISDOR ditutup di level Rp 18.130 per dolar AS pada Jumat (6/11), menguat tipis 0,04% dibandingkan posisi Rp 18.138 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Ketidakpastian politik di Amerika Serikat serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi pasar energi menjadi faktor yang membayangi pergerakan mata uang.
Baca Juga: IHSG Dibayangi Outflow Asing, Ini 3 Saham Rekomendasi MNC Sekuritas
Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik memberikan dukungan bagi rupiah, terutama setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 tercatat lebih kuat dari perkiraan.
"Sentimen utama pekan ini adalah pemilu legislatif AS yang membuat ketidakpastian bagi investor. Harga minyak juga volatil diterpa isu serangan militer, kebijakan pascapemilu AS, dan upaya pembicaraan damai. Di sisi lain, data PDB kuartal III Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan cukup mendukung rupiah," kata Lukman kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan mencermati respons investor global terhadap hasil pemilu di AS. Perkembangan tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan mata uang di pasar keuangan.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi yang berkaitan dengan daya beli dan konsumsi masyarakat, terutama data penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen.
Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Melesat, DMAS dan SSIA Catat Lonjakan Laba
"Pekan depan akan ditentukan oleh sentimen umum investor global dalam merespons hasil pemilu AS. Tidak banyak data ekonomi penting. Dari domestik, yang perlu dicermati adalah data penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen," tutur Lukman.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada pekan depan. Ia memproyeksikan rupiah berada dalam kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.300 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
