Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten kawasan industri mencatatkan kinerja keuangan yang bervariasi sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Permintaan lahan dari sektor data center, kendaraan listrik (EV), manufaktur, hingga relokasi pabrik menjadi penopang pertumbuhan sejumlah perusahaan.
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membukukan pendapatan sebesar Rp 4,81 triliun pada periode Januari-September 2026. Angka tersebut tumbuh 44,7% secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan pendapatan turut mendorong lonjakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 344,44 miliar. Raihan tersebut jauh meningkat dibandingkan Rp 6,47 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kinerja perusahaan secara keseluruhan terutama ditopang oleh segmen properti dan perhotelan,” kata VP of Investor Relations & Sustainability SSIA Erlin Budiman dalam keterbukaan informasi, Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 2,65 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat hampir 3,4 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Menguat Terbatas, Simak Level Support dan Resistance
Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS Tondy Suwanto mengatakan, kontribusi terbesar terhadap pendapatan perseroan masih berasal dari segmen industri.
Segmen tersebut menyumbang Rp 2,54 triliun atau sekitar 96% dari total pendapatan usaha DMAS.
“Sebagian besar pendapatan di sembilan bulan pertama tahun 2026 berasal dari penjualan lahan industri, khususnya kepada sektor data center,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (20/10/2026).
DMAS juga mencatatkan kenaikan laba bersih menjadi Rp 1,49 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut melonjak 284% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 525 miliar.
Kinerja positif juga dicatatkan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST). Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 441,57 miliar hingga kuartal III-2026, tumbuh 79,43% secara tahunan.
BEST berhasil membalikkan posisi dari rugi bersih Rp 19,30 miliar menjadi laba bersih Rp 134,11 miliar.
Selain ditopang kenaikan pendapatan, kinerja perseroan juga didukung peningkatan pendapatan lain-lain bersih dari Rp 6,47 miliar menjadi Rp 11,18 miliar per September 2026.
Berbeda dengan ketiga emiten tersebut, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang tidak diikuti kenaikan laba bersih.
KIJA membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 4,25 triliun hingga kuartal III-2026, meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,67 triliun.
Corporate Secretary KIJA Muljadi Suganda mengatakan, pertumbuhan pendapatan perseroan ditopang dua pilar bisnis utama, yakni Land Development & Property serta Infrastructure.
Namun, laba bersih KIJA justru terkoreksi 38% secara tahunan menjadi Rp 391,7 miliar dari Rp 634,6 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Baca Juga: Pemerintah Targetkan ST017 Raup Rp 15 Triliun, Imbal Hasil hingga 7,05%
Penurunan laba tersebut dipengaruhi beban non-operasional yang bersifat tidak berulang (one-off) terkait refinancing Senior Notes menjadi pinjaman bank dalam mata uang rupiah.
“Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif atau lindung nilai (hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027,” ujarnya dalam keterbukaan informasi tanggal 4 November 2026.
Prospek Emiten Kawasan Industri hingga 2027
Tim Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Sekuritas mencermati bahwa penjualan lahan ke sektor data center, otomotif dan EV, serta relokasi pabrik menjadi pendorong utama kinerja emiten kawasan industri.
Pertumbuhan tersebut turut didukung oleh penerimaan modal asing (PMA) yang meningkat.
DMAS, SSIA, dan BEST menikmati pengakuan penjualan lahan bermargin tinggi sepanjang periode tersebut. Khusus BEST, kinerja perseroan juga terbantu oleh penyewa dari sektor pusat data.
Sementara itu, KIJA menghadapi tekanan laba akibat biaya refinancing dan utang valuta asing (valas) di tengah pelemahan rupiah.
“Masalah KIJA di neraca, bukan permintaan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Rilis Obligasi US$ 300 Juta Beri Kupon 8,875%, Moody's Ganjar Ba3
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai, kinerja emiten kawasan industri pada September 2026 secara umum masih positif.
“Hal ini didorong permintaan lahan dari sektor data center, manufaktur, kendaraan listrik, elektronik, dan logistik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, prospek emiten properti kawasan industri pada kuartal IV-2026 hingga 2027 masih positif, meskipun investor perlu bersikap selektif.
Pada kuartal IV, kinerja emiten kawasan industri biasanya cenderung menguat karena banyak transaksi penjualan lahan yang diakui pada akhir tahun. Namun, realisasi pendapatan tersebut dapat berlangsung secara bergelombang.
KISI Sekuritas melihat sentimen positif sektor ini berasal dari permintaan pusat data, ekosistem EV, relokasi pabrik, serta kenaikan harga lahan.
Di sisi lain, sejumlah risiko masih membayangi, antara lain pelemahan rupiah dan suku bunga yang memberatkan emiten dengan utang valas, masalah perizinan, persaingan kawasan industri, persepsi risiko akibat isu MSCI, serta tingginya basis kinerja 2026.
Dari sisi prospek masing-masing emiten, DMAS dinilai unggul berkat neraca yang kuat dan potensi dividen. SSIA memiliki keunggulan dari kehadiran BYD.
“BEST menunjukkan pemulihan paling tajam, tapi perlu bukti keberlanjutan. Di sisi lain, KIJA paling berisiko karena masih punya utang valas,” ungkapnya.
Elandry menilai, sektor kawasan industri masih memiliki katalis positif dari ekspansi data center, hilirisasi, investasi kendaraan listrik, serta relokasi manufaktur global hingga 2027.
Meski demikian, investor perlu mencermati risiko perlambatan ekonomi global, suku bunga, pelemahan rupiah, dan realisasi investasi asing.
Secara fundamental, DMAS dinilai unggul berkat profitabilitas dan neraca yang kuat tanpa utang. SSIA juga menarik dari sisi pertumbuhan serta ekspansi Subang Smartpolitan.
“Sedangkan, BEST berpotensi melanjutkan turnaround dan KIJA masih memiliki peluang pemulihan laba,” ungkapnya.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan, tren positif kinerja emiten properti kawasan industri berpotensi berlanjut. Namun, pengakuan pendapatan tetap bergantung pada realisasi transaksi lahan.
Baca Juga: IHSG Ditutup di 5.050 Jumat (6/11), Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing Sepekan
Prospek sektor ini masih ditopang ekspansi data center, kendaraan listrik, baterai, serta relokasi manufaktur. Adapun risiko yang perlu diperhatikan mencakup pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, dan perlambatan investasi.
“SSIA menarik dari potensi pengembangan Subang Smartpolitan, sedangkan DMAS unggul dari sisi neraca dan likuiditas yang kuat,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Rekomendasi Saham DMAS, SSIA, BEST, dan KIJA
Di tengah prospek sektor kawasan industri yang masih positif, sejumlah analis memberikan rekomendasi saham pilihan.
Elandry merekomendasikan buy on weakness untuk saham DMAS dengan target harga indikatif Rp 181 per saham.
Ia juga menyematkan rekomendasi trading buy untuk SSIA dengan target harga Rp 1.760 per saham.
Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy untuk DMAS dengan target harga Rp 175 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
