kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Mengintip Prospek Kinerja Emiten EBT pada 2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan Analis


Rabu, 08 April 2026 / 18:38 WIB
Mengintip Prospek Kinerja Emiten EBT pada 2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. Barito Renewables (BREN) (Barito Renewable Energy/BREN)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan emiten pengembang energi baru terbarukan (EBT) cukup beragam pada 2025. Pengoperasian proyek-proyek EBT hasil ekspansi bisnis akan menentukan nasib kinerja emiten di sektor tersebut pada 2026.

Salah satu emiten pengembang energi hijau, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencetak kenaikan pendapatan 1,4% year on year (yoy) menjadi US$ 605 juta pada 2025.

Pertumbuhan ini terutama didorong oleh produksi listrik panas bumi yang stabil serta kontribusi dari Unit Binary Salak. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk BREN juga tumbuh 8,3% yoy menjadi US$ 132 juta. 

Baca Juga: Dinilai Masih Prospektif, Simak Rekomendasi Saham HEAL, MIKA dan SILO

Sebaliknya, pemain EBT besar lainnya yaitu PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengalami penurunan laba bersih 14,2% yoy menjadi US$ 137,69 juta pada 2025. Namun, pendapatan mereka meningkat 6,29% yoy menjadi US$ 432,72 juta. 

Emiten EBT lainnya yaitu PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) mengalami penurunan pendapatan 9,35% yoy menjadi US$ 34,33 juta pada 2025.

Kendati demikian, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk KEEN tumbuh 24,56% yoy menjadi US$ 7,76 juta. 

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) mampu meraih pertumbuhan kinerja top line dan bottom line yang positif pada 2025.

Baca Juga: Besok (3/4) Bursa Saham Libur, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis Hari Ini

Pendapatan ARKO naik 43,70% yoy menjadi Rp 343,32 miliar sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ARKO bertambah 52,87% yoy menjadi Rp 63,90 miliar. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, secara umum prospek kinerja emiten EBT pada 2026 cukup positif dan berpotensi tumbuh lebih tinggi.

Hal ini sejalan dengan beroperasinya sejumlah proyek pembangkit listrik berbasis energi terbarukan yang digarap emiten. 

Sebagai contoh, BREN membidik commercial operation date (COD) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 dengan kapasitas masing-masing 30 megawatt (MW) dan 40 MW pada kuartal IV-2026, sehingga langsung mendorong pendapatan. 

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Rumah Sakit di 2026

"ARKO diuntungkan oleh PLTA Kukusan 2 yang mulai beroperasi Februari 2026, sementara PLTA Tomoni yang selesai akhir 2026 akan menjadi mesin pertumbuhan pada 2027," ujar Abida, Rabu (8/4/2026). 

Emiten-emiten EBT juga mendapat sentimen positif yang bersifat eksternal. Di antaranya adalah dorongan investasi dari BPI Danantara untuk proyek EBT strategis, tren dekabornisasi global, hingga potensi pemangkasan suku bunga acuan yang dapat menurunkan biaya pendanaan.

Abida menambahkan, tren pelemahan kurs rupiah belakangan ini berpotensi membebani emiten EBT, mengingat sebagian besar komponen capital expenditure (capex) emiten tersebut masih berdenominasi dolar AS.

Namun, risiko tersebut relatif rendah bagi emiten EBT yang berpendapatan dari valuta asing (valas) atau dolar AS. 

Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pelemahan rupiah akan memicu pembengkakan kebutuhan capex berjalan untuk menuntaskan proyek EBT, terutama jika mayoritas komponennya berasal dari impor.

Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi Pada Rabu (1/4/2026), Berikut Rekomendasi Saham dari Analis

Tantangan lain bagi emiten EBT adalah ketidakpastian negosiasi tarif dalam Power Purchase Agreement (PPA) yang melibatkan emiten dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Ditambah lagi, infrastruktur jaringan transmisi yang menghubungkan pembangkit EBT di area remote masih tergolong minim. 

Menurut Wafi, emiten EBT yang berpeluang unggul kinerjanya pada 2026 adalah perusahaan yang mayoritas proyeknya sudah beroperasi secara komersial, memiliki arus kas stabil, dan punya kontrak PPA jangka panjang dengan PLN. 

"Emiten yang unggul juga ditandai dengan memiliki akses green financing berbunga rendah untuk menekan cost of fund," kata dia, Rabu (8/4).

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten LQ45 Usai Raih Kinerja Positif di Tahun 2025

Lantas, Wafi menyebut saham PGEO, BREN, ARKO, dan KEEN dapat dicermati oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 1.350 per saham, Rp 6.500 per saham, Rp 10.000 per saham, dan Rp 950 per saham. 

 

Abida menilai, PGEO, ARKO, dan BREN bakal menjadi emiten yang memimpin di sektor EBT dengan keunggulan yang berbeda-beda.

BREN didukung oleh skala panas bumi terbesar, PGEO ditopang oleh ekosistem Pertamina dan Danantara, serta ARKO diuntungkan oleh agresivitasnya ekspansi di segmen PLTA. 

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten Migas Saat Harga Minyak Mendidih

"Modal utama agar kinerja emiten resilien adalah kepastian PPA jangka panjang dengan PLN, neraca yang kuat untuk mendanai capex tanpa overleveraging, dan kemampuan eksekusi proyek tepat waktu," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×