kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

LPPI: Buyback Belum Cukup Topang Saham Bank di Tengah Sentimen Watchlist S&P DJI


Kamis, 09 Juli 2026 / 08:12 WIB
LPPI: Buyback Belum Cukup Topang Saham Bank di Tengah Sentimen Watchlist S&P DJI
ILUSTRASI. IHSG Anjlok (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Aura Putri | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masuknya Indonesia ke dalam S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) Country Classification Watchlist memberikan tekanan terhadap saham-saham perbankan, khususnya bank berkapitalisasi besar (big banks).

Meski demikian, aksi pembelian kembali saham (buyback) dinilai belum cukup kuat untuk menopang harga saham jika tekanan pasar terus berlanjut.

Baca Juga: BEI: Masih Ada 6 Perusahaan Besar Antre IPO, Setelah JELI BACH PRDL Diserbu Investor

Pada perdagangan Rabu (8/7/20206), seluruh saham bank besar ditutup di zona merah. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat pelemahan terdalam dengan turun 2,59% ke level Rp 3.380 per saham.

Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 2,46% menjadi Rp 3.970 per saham, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 2,45% ke Rp 2.790 per saham. Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,98% ke level Rp 6.175 per saham.

Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai, apabila tekanan terhadap harga saham masih berlanjut, perbankan sebaiknya tidak hanya mengandalkan program buyback sebagai penopang harga saham.

Baca Juga: Cek Rekening! Hari Ini (9/7) Pembayaran Dividen Tunai 9 Saham, Triliunan Rupiah Cair

"Jika tekanan terhadap harga saham berlanjut, fokus utama bank bukan sekadar melakukan buyback, melainkan menjaga kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, serta memperkuat komunikasi dengan investor karena faktor fundamental tetap menjadi penentu valuasi jangka panjang," ujar Trioksa kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Menurut Trioksa, program buyback yang tengah dijalankan sejumlah bank besar hingga kini masih berlangsung dan sebagian besar belum rampung. Namun, efektivitasnya lebih terbatas pada menjaga kepercayaan investor dan meredam volatilitas harga saham.

Ia menilai buyback belum tentu mampu membalikkan arah pergerakan saham apabila tekanan berasal dari sentimen global yang masih kuat.

"Buyback lebih berfungsi menjaga kepercayaan pasar dan mengurangi volatilitas harga dibandingkan menjadi katalis pembalikan tren ketika sentimen eksternal masih mendominasi," jelasnya.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Koreksi Kamis (9/7), Cermati Saham AKRA, ELSA, dan PGAS

Trioksa menambahkan, keputusan S&P DJI memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantau juga membuat investor asing cenderung mengambil sikap wait and see.

Pelaku pasar disebut masih menunggu langkah regulator dalam meningkatkan transparansi, aksesibilitas pasar, serta kepastian implementasi reformasi di pasar modal Indonesia.

Meski demikian, ia menilai pelemahan saham-saham perbankan saat ini lebih mencerminkan aksi penyesuaian portofolio dan ambil untung (profit taking) daripada memburuknya kondisi fundamental industri perbankan.

"S&P DJI baru memasukkan Indonesia ke dalam watchlist, belum menurunkan status klasifikasi pasar. Karena itu, pelemahan saham bank lebih merupakan respons terhadap sentimen jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental sektor perbankan," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×