Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini (6/4/2026). Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup melemah 2,19% atau 157,66 poin ke level 7.026,78 pada Kamis (2/4/2026).
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, IHSG masih berada dalam tekanan dengan kecenderungan konsolidasi pada perdagangan awal pekan ini.
“Support kuat di level 7.000 dan resistance di kisaran 7.100 hingga 7.200. Selama sentimen global belum kondusif, IHSG kemungkinan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah,” jelasnya.
Senada, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, pergerakan IHSG berada dalam fase sideways setelah mengalami tekanan jual yang cukup panjang.
Baca Juga: Rupiah dan Harga Minyak Uji IHSG, Cermati Rekomendasi Saham IPOT
“Secara teknikal, IHSG mulai membentuk base, sehingga fase fear yang sebelumnya dominan mulai mereda. Namun, belum terlihat adanya buyer kuat yang mampu mendorong indeks keluar dari fase konsolidasi,” katanya.
Menurutnya, arah pergerakan IHSG ke depan masih sangat bergantung pada sentimen global, khususnya pergerakan harga minyak yang saat ini menjadi salah satu indikator utama pasar.
Jika harga minyak mulai turun, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang penguatan IHSG. Sebaliknya, kenaikan harga minyak dapat kembali menekan pasar global, termasuk Indonesia.
“Untuk Indonesia, tekanan bisa lebih besar karena masih dibayangi kekhawatiran fiskal akibat kenaikan harga minyak,” tambahnya.
Secara teknikal, Ekky memperkirakan resistance IHSG berada di kisaran 7.200, sementara support utama di area 7.000. Jika level tersebut ditembus, IHSG berpotensi menguji level 6.800.
Untuk hari ini (6/4/2026), IHSG diproyeksikan masih bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, seiring dominasi sentimen eksternal.
Dalam kondisi tersebut, investor disarankan untuk cenderung defensif dan selektif. Pendekatan trading jangka pendek dinilai lebih sesuai dibandingkan akumulasi agresif.
Dari sisi sektoral, peluang masih terbuka pada sektor energi dan komoditas yang diuntungkan dari kenaikan harga global, seperti batubara, minyak, dan crude palm oil (CPO). Selain itu, emas juga tetap menarik sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Reza menambahkan, beberapa saham yang dapat dicermati antara lain PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap disiplin dalam manajemen risiko sambil mencermati perkembangan sentimen global yang masih menjadi penggerak utama pasar dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













