kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Masih rugi di semester I, begini proyeksi analis untuk saham Bakrie Telecom (BTEL)


Jumat, 30 Agustus 2019 / 19:03 WIB
Masih rugi di semester I, begini proyeksi analis untuk saham Bakrie Telecom (BTEL)
ILUSTRASI. RUPS PT Bakrie Telecom Tbk

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih bukukan rugi bersih di semester I 2019. Melansir laporan keuangan yang dirilis (30/8) BTEL mencatatkan penurunan pendapatan 6,7% year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 1,86 miliar pada semester I 2018 menjadi Rp 1,73 miliar. 

Pendapatan usahanya hanya didapat dari jasa telekomunikasinya yang turun 11,2% yoy menjadi Rp 3,9 miliar. Perolehan pendapatan ini dikurangi beban interkoneksi yang melebihi dari setengah pendapatan usahanya yakni sebesar Rp 2,17 miliar. 

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) berencana garap industri hilir batubara

Setelah pendapatannya dikurangi beban usaha, BTEL membukukan rugi bersih Rp 5,89 miliar. 

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas menjelaskan melihat kinerja BTEL tidak hanya bisa dari laporan di semester I 2019 saja. 

“Kalau dilihat dari rugi bersihnya dari 2016 BTEL terus memperlihatkan upaya memperbaiki laporan keuangan karena tren rugi bersih mengalami penurunan,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (30/8). 

Sukarno bilang saat ini pemegang saham terbesar setelah publik adalah Huawei Tech Investment yang memiliki 16,83% saham BTEL. Mungkin saja ke depannya Huawei bisa berperan dalam perbaikan dan kinerja perusahaan. 

Jadi kalau proses kajian dengan Huawei dan perusahaan lain yang juga pemegang saham BTEL rampung dan persoalan utangnya selesai, kemungkinan prospek bisnis BTEL bisa lebih cerah.

Baca Juga: PGN (PGAS) rombak susunan direksi dan komisaris

Sebenarnya ada beberapa masalah yang menjerat BTEL saat ini. Simpul utamanya berada di beban utang yang berat sehingga proses restrukturisasi masih belum bisa berjalan dengan baik.

Tapi BTEL telah berupaya dengan mengajukan perlindungan PKPU di Amerika Serikat dengan harapan hasilnya dapat diakui sebagai penyelesaian kreditur di AS. 

Nantinya kalau perlindungan PKPU nya selesai, BTEL baru bisa melakukan proses exchange offer yang berujung pada utang BTEL bisa diselesaikan dengan skema Obligasi Wajib Konversi (OWK). Jadi kreditur dapat mengonversikan OWK tersebut menjadi saham BTEL.

Walaupun keadaan keuangan BTEL masih rugi bersih, Sukarno menyatakan potensi BTEL di-delisting masih jauh selagi BTEL mengikuti aturan bursa dan terus berupaya untuk mengembangkan bisnisnya.

Baca Juga: Selain Fonterra, Kalbe Farma juga gandeng Westland Milk untuk perkuat divisi nutrisi

Buktinya saja walaupun masih mencatatkan rugi bersih, BTEL mampu mencetak laba dan mengurangi ruginya dari semester I 2018. 

Berbeda dengan Sukarno, Analis Panin Sekuritas William Hartanto justru lebih menimbang prospek bisnis BTEL dari layanan baru yang akan dijalaninya saat ini. Menurut William arah bisnis BTEL juga jadi perhatian Bursa. 

“Sebenarnya prospeknya bisa saja baik, tapi tergantung pengembangan layanan TV digitalnya, seberapa besar pengaruh dan jangkauan pasarnya,” jelasnya. 

Tapi kalau melihat dari berita terakhir, BTEL sedang mengembangkan bisnis infrastruktur yang bisa mendukung bisnis penyiaran televisi digital. BTEL berencana menjadi penyedia menara dan infrastruktur yang dibutuhkan lembaga penyiaran TV. 

Di samping itu BTEL juga konsisten menjalankan bisnis utamanya di layanan call center atau contact center. BTEL terus mengembangkan layanan telekomunikasinya dengan menyasar korporasi di gedung tinggi.

Tapi menurut William, ekspansinya saat ini masih belum cukup untuk membalikkan keadaan rugi bersih yang sudah dibukukan dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Penjualan Phapros (PEHA) tumbuh tapi laba turun di semester I, begini kata manajemen

Jadi menurut William, saham BTEL berpotensi delisting karena Bursa pun menyatakan masih belum melihat keseriusan Bakrie Telecom memperbaiki bisnisnya. 

Asal tahu saja sejak Mei lalu saham BTEL disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga saat ini BTEL juga diberikan tiga tanda khusus dari Bursa yakni E, D, dan L. 

E artinya laporan keuangan terakhir menunjukkan ekuitas negatif, D adanya opini tidak menyatakan pendapat (disclaimer)  dari akuntan publik dua tahun terakhir, L yakni BTEL belum menyampaikan laporan keuangan.




TERBARU

Close [X]
×