Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dipandang masih memiliki prospek positif hingga akhir 2026, setelah mencatatkan pertumbuhan kinerja pada Semester I-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan serta laba, didukung kondisi neraca yang sehat dan posisi MIKA sebagai salah satu emiten rumah sakit dengan karakter bisnis defensif.
Pada Semester I-2026, MIKA membukukan pendapatan sebesar Rp2,76 triliun, tumbuh 8,01% secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba bersih juga meningkat 6,92% YoY menjadi Rp684,05 miliar, dengan laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar Rp 49,25 per saham.
Dari sisi neraca, total aset MIKA mencapai Rp 9,98 triliun. Sementara itu, total liabilitas tercatat Rp 1,71 triliun dan ekuitas sebesar Rp 8,26 triliun.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, kinerja MIKA diperkirakan tetap positif hingga akhir tahun 2026.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjutkan Technical Rebound Kamis (13/8), Ini Kata Analis
“Kami melihat kinerja MIKA tetap positif hingga akhir 2026. Pertumbuhan pendapatan dan laba diperkirakan berada di kisaran 8%-10%,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).
Menurut Azis, pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh kenaikan tarif layanan, perbaikan case mix, serta peningkatan utilisasi rumah sakit.
Ia menambahkan, terdapat sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja MIKA pada Semester II-2026. Salah satunya berasal dari peningkatan layanan dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi.
“Katalis utama berasal dari kenaikan tarif layanan, peningkatan layanan berkompleksitas tinggi, optimalisasi kapasitas tempat tidur, serta pembukaan dua rumah sakit baru pada kuartal IV-2026,” jelasnya.
Selain itu, kondisi neraca MIKA yang sehat dinilai memberikan ruang bagi perseroan untuk melakukan ekspansi lebih lanjut tanpa tekanan leverage yang berlebihan.
Azis menilai pertumbuhan kunjungan pasien tetap menjadi salah satu faktor penting bagi MIKA. Namun, ke depan, pertumbuhan pendapatan per pasien atau revenue per patient diperkirakan semakin berperan dalam menopang kinerja.
“Pertumbuhan kunjungan pasien tetap penting, tetapi kami melihat revenue per patient menjadi faktor yang semakin dominan melalui kenaikan tarif dan perbaikan case mix,” katanya.
Baca Juga: Henan Asset Siapkan Strategi Demi Dongkrak Pertumbuhan AUM di Sisa 2026
Sementara itu, pembukaan rumah sakit baru akan menambah kapasitas MIKA sekaligus menjadi sumber pertumbuhan dalam jangka menengah. Meski demikian, kontribusi terhadap laba diperkirakan belum akan maksimal dalam waktu dekat.
“Rumah sakit baru akan menambah kapasitas dan menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah, meski kontribusi labanya kemungkinan baru lebih terasa pada 2027,” ungkap Azis.
Senada, Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi menilai prospek MIKA masih konstruktif. Pertumbuhan pendapatan dan laba pada Semester I-2026 dinilai menunjukkan kinerja yang moderat, tetapi konsisten.
“Revenue tumbuh 8,01% dan laba 6,92%, cukup moderat tetapi konsisten. EPS Rp49,25 juga mengonfirmasi profitabilitas yang stabil,” ujar Wafi.
Ia menambahkan, kondisi neraca MIKA juga menjadi salah satu keunggulan utama perseroan. Dengan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) sekitar 0,2 kali, MIKA memiliki fleksibilitas finansial yang cukup besar untuk melakukan ekspansi.
Dari sisi bisnis, Wafi melihat tingginya porsi pasien mandiri dan asuransi swasta memberikan fleksibilitas harga bagi MIKA. Kondisi tersebut juga dapat membantu perseroan menghadapi tekanan biaya, termasuk dampak pelemahan rupiah.
“Katalis utama berasal dari porsi pasien mandiri dan asuransi swasta yang tinggi, sehingga memberikan pricing flexibility untuk menyerap tekanan biaya akibat rupiah yang lemah,” jelasnya.
Selain itu, potensi ekspansi kapasitas serta sentimen positif terhadap sektor kesehatan juga menjadi katalis bagi saham MIKA. Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, sektor kesehatan dinilai berpotensi mendapat perhatian investor karena karakter bisnisnya yang defensif.
Baca Juga: Industri Kripto Dorong Fatwa MUI, Ini Kriteria Aset Kripto yang Halal
Menurut Wafi, pertumbuhan kunjungan pasien, tarif layanan, dan ekspansi kapasitas juga saling berkaitan dalam bisnis rumah sakit premium.
“Kunjungan pasien relatif stabil dari segmen menengah atas yang lebih tidak sensitif terhadap daya beli. Tarif juga memiliki ruang penyesuaian mengingat positioning MIKA sebagai rumah sakit premium,” katanya.
Kombinasi pertumbuhan volume, tarif, dan ekspansi tersebut dinilai dapat menciptakan operating leverage positif bagi MIKA.
Dari sisi saham, Wafi menilai prospek MIKA cenderung positif karena ditopang kualitas fundamental dan positioning defensif. Namun, ia mengingatkan bahwa MIKA secara historis memang diperdagangkan dengan valuasi premium dibandingkan emiten rumah sakit lainnya.
“Valuasi menarik perlu dilihat relatif terhadap quality, bukan sekadar murah atau mahal secara multiple,” ungkap Wafi.
Baca Juga: Investor Menanti Keputusan MSCI, Cek Proyeksi IHSG dalam Jangka Pendek hingga Panjang
Ia menilai kombinasi kualitas laba, neraca yang kuat, serta karakter bisnis defensif membuat MIKA masih menarik untuk investor dengan profil risiko konservatif.
“MIKA menarik sebagai core holding jangka panjang bagi investor konservatif,” katanya.
Sementara itu, terkait rekomendasi, Azis memberikan rekomendasi trading buy untuk MIKA dengan target harga Rp 1.950 per saham.
Dengan fundamental yang relatif solid, neraca sehat, serta prospek pertumbuhan dari kenaikan tarif, perbaikan case mix, utilisasi rumah sakit dan ekspansi kapasitas, MIKA dinilai masih memiliki ruang untuk mempertahankan pertumbuhan hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
