Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar modal Indonesia tengah menanti hasil review penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan diumumkan pada 13 Agustus 2026 pukul 04.00 WIB.
Pengumuman ini menjadi salah satu katalis penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu ke depan.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya menyampaikan IHSG kini berpotensi membentuk pola ascending triangle yang mulai terbentuk sejak titik terendah (bottom) pada Juni 2026 di level 5.350.
"Ini gambaran klasik pasar yang menahan napas, menunggu satu katalis untuk naik bullish," kata Hendry kepada Kontan, Rabu (11/8/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.877, Inflasi AS Jadi Penentu Begini Proyeksi Kamis (13/8)
Untuk jangka pendek, Hendry memetakan level support IHSG berada di 6.270 dan 6.240 yang menjadi benteng terakhir, sementara area resistance berada di rentang 6.400-6.450 yang menjadi gerbang penentu arah.
Apabila IHSG mampu menembus level resistance tersebut, jalan menuju zona support di 6.650-6.750 akan terbuka lebar. Namun jika gagal dan support tersebut patah, indeks berpotensi terseret kembali ke area 6.000-5.750.
"Selama support naik bertahan, IHSG masih condong ke atas. Pasar seolah menunggu momentum breakout," ujar Hendry.
Sementara untuk horizon jangka menengah hingga panjang, Hendry menegaskan bahwa faktor penentu bukan terletak pada rebalancing yang berlangsung nanti, melainkan pada keputusan apakah status freeze atas Indonesia akhirnya dicabut oleh MSCI.
Ia mencatat, bobot Indonesia dalam indeks MSCI telah pulih dan stabil di level 0,5%, bangkit dari titik nadir 0,4% yang sempat tercatat pada Juni 2026.
Jika reformasi free float dan transparansi berhasil meyakinkan MSCI, arus dana pasif global akan kembali mengalir, dan IHSG punya bahan bakar menembus 6.650 secara berkelanjutan menuju 2027. Jika gagal, Indonesia berpotensi tetap terperangkap dalam status diskon.
Sentimen yang Perlu Dicermati Investor
Hendry juga menerangkan katalis utama yang perlu menjadi sorotan investor pada rebalancing kali ini cukup sederhana, yakni apakah kejutan dari hasil review MSCI melampaui ekspektasi yang sudah diantisipasi pelaku pasar.
Hendry menilai, tanpa adanya kejutan negatif, keputusan MSCI justru berpotensi menjadi pemantik rally bagi IHSG untuk breakout menembus resistance pola ascending triangle yang telah terbentuk.
Baca Juga: Pasar Obligasi Indonesia Masih Menarik pada Paruh Kedua 2026
Sebaliknya, apabila hasilnya lebih buruk dari ekspektasi, misalnya MSCI menurunkan peringkat Indonesia ke status frontier market, hal itu berisiko mematahkan level support yang ada.
Di sisi lain, Hendry mengingatkan kondisi geopolitik global turut menjadi tekanan tersendiri bagi pasar. Tensi antara Amerika Serikat dan Iran beserta pergerakan harga minyak dunia berpotensi mengancam inflasi, ditambah ekspektasi sikap hawkish dari bank sentral AS (The Fed) pada September mendatang.
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyampaikan, sejak 7 Juli 2026 sudah dikonfirmasi tidak ada saham Indonesia baru yang masuk ke dalam indeks MSCI. Selain itu, status Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) yang dibekukan (freeze) serta larangan upgrade saham dari kategori Small Cap ke Standard tetap berlaku.
"Fokus utama bukan addition/deletion konstituen, tapi arah kebijakan FIF/NOS," tulis riset tersebut.
BRI Danareksa Sekuritas juga memperkirakan status freeze masih akan bertahan pada review Agustus ini. Pelonggaran yang lebih substantif baru berpotensi muncul pada Market Accessibility Review berikutnya.
Adapun sejumlah saham turut menjadi sorotan menjelang pengumuman MSCI kali ini. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berisiko turun kelas dari indeks Standard ke Small Cap. Sementara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi risiko full deletion dari indeks seiring likuiditas yang mengering dan harga saham yang berada di level Rp 50 per saham.
Selain itu, saham PT MD Pictures Tbk (FILM) juga terancam keluar dari indeks Small Cap terkait isu kepemilikan saham beredar.
Pergerakan Arus Dana Asing
Terkait arus dana asing, Hendry memaparkan investor asing cenderung melakukan aksi jual bersih (net sell) selama periode ketidakpastian status freeze Indonesia berlangsung tinggi, yakni pada Mei hingga Juli 2026. Tekanan jual tersebut mulai mengecil seiring munculnya sinyal reformasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mulai memberikan insentif ekspektasi positif ke pasar.
Hendry mencatat, aksi net buy asing sebesar Rp326,91 miliar tercatat terjadi sebelum pengumuman resmi MSCI keluar, tepatnya pada penutupan sesi pertama perdagangan 12 Agustus 2026.
"Ini mengindikasikan asing sudah mulai pre position dengan asumsi hasil review tidak membawa kejutan negatif tambahan," jelas Hendry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
