Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penawaran Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seri SBR015 belum mampu menyamai laju penjualan SBR014 pada periode yang sama. Kondisi ini menunjukkan investor ritel masih mencermati prospek suku bunga sebelum mengalokasikan dana ke instrumen investasi tersebut.
Berdasarkan data transaksi di mitra distribusi Bibit per Senin (5/10/2026) pukul 15.30 WIB, kuota SBR015 tenor 2 tahun sebesar Rp 15 triliun masih tersisa 83,4%. Dengan demikian, penjualan telah mencapai 16,6% atau sekitar Rp 2,49 triliun.
Sementara itu, kuota SBR015 tenor 4 tahun sebesar Rp 5 triliun masih tersisa 94%. Artinya, penjualan untuk tenor tersebut baru mencapai 6% atau sekitar Rp 300 miliar.
Realisasi tersebut masih berada di bawah capaian SBR014 pada periode yang sama. Pada saat itu, penjualan SBR014 tenor 2 tahun telah mencapai 18,9%, sementara tenor 4 tahun mencapai 12,1%.
Baca Juga: Performa Seluruh Indeks Sektoral di BEI Masih di Zona Merah, Ini Saran Analis
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, minat terhadap SBR015 sejauh ini masih cukup baik, meski investor cenderung lebih berhati-hati. Hal ini tercermin dari penyerapan tenor 2 tahun yang lebih tinggi, menunjukkan preferensi terhadap instrumen dengan jangka waktu lebih pendek.
"Respons investor sejauh ini dapat dikategorikan cukup positif namun cenderung lebih prudent. Keberhasilan menjual sekitar 16,6% untuk tenor 2 tahun menunjukkan bahwa minat terhadap instrumen jangka pendek tetap kuat," ujar David kepada Kontan, Senin (5/10/2026).
Menurut David, salah satu faktor yang membuat penjualan SBR015 lebih lambat dibandingkan SBR014 adalah investor yang masih mencermati arah suku bunga Bank Indonesia (BI). Suku bunga acuan BI-Rate saat ini berada di level 5,75%.
Sebagai informasi, SBR015 menawarkan tingkat imbal hasil awal sebesar 6,75% untuk tenor 2 tahun dan 6,85% untuk tenor 4 tahun. Imbal hasil tersebut bersifat floating with floor, sehingga dapat naik mengikuti perkembangan suku bunga acuan BI dengan batas bawah sesuai tingkat imbal hasil awal.
Dengan karakteristik floating with floor tersebut, investor dinilai perlu mempertimbangkan momentum pergerakan suku bunga sebelum menentukan pembelian. Investor masih memperhitungkan apakah tingkat suku bunga saat ini sudah mencapai puncak atau masih berpotensi melandai.
Baca Juga: Kinerja Indeks Sektoral BEI Kompak Melemah, Cermati Penyebabnya
"Jika dibandingkan dengan SBR014, penjualan SBR015 ini lebih lambat karena investor saat ini cenderung menakar arah BI rate. Dengan skema floating with floor, investor cenderung menghitung momentum yang tepat apakah suku bunga sudah berada di puncaknya atau akan mulai melandai," jelasnya.
Selain faktor suku bunga, rendahnya penyerapan SBR015 tenor 4 tahun juga menunjukkan kecenderungan investor untuk menghindari komitmen investasi dalam jangka panjang. Terlebih, SBR merupakan instrumen yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Kondisi tersebut membuat tenor 2 tahun relatif lebih diminati dibandingkan tenor 4 tahun. Investor ritel dinilai lebih memilih instrumen dengan periode investasi yang lebih pendek untuk menjaga fleksibilitas dalam mengelola portofolio.
David juga mengungkap, investor ritel saat ini memiliki lebih banyak alternatif instrumen berbasis yield tinggi di pasar. Kondisi tersebut membuat investor memiliki lebih banyak pilihan dalam mengalokasikan dana sehingga keputusan pembelian SBR015 menjadi lebih selektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














