kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

IHSG Diprediksi Konsolidasi pada Pekan Ini, Ini Kata Analis


Senin, 05 Oktober 2026 / 14:48 WIB
IHSG Diprediksi Konsolidasi pada Pekan Ini, Ini Kata Analis
ILUSTRASI. IHSG diproyeksi bergerak konsolidasi pada perdagangan pekan ini dengan peluang rebound terbatas dengan sentimen global mulai membaik (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak konsolidasi pada perdagangan pekan ini dengan peluang rebound terbatas. Meski sentimen global mulai membaik, IHSG masih rawan mengalami koreksi.

Pada penutupan sesi pertama hari ini (5/10/2026), IHSG menguat tipis 2,101 poin atau 0,03% ke 6.038,989.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar saham negara berkembang.

Baca Juga: Harta Djaya (MEJA) Lunasi Utang Kredit Modal Kerja ke Bank BCA

Hal tersebut menyusul data tenaga kerja Amerika Serikat pada September 2026 yang hanya bertambah 29.000, jauh di bawah perkiraan 90.000. Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada akhir Oktober turun menjadi sekitar 22%, dari sebelumnya 65% hingga 71%.

“Pekan ini konsolidasi dengan peluang rebound terbatas, masih rawan,” kata Wafi kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Menurut Wafi, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat mengurangi tekanan terhadap imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang.

Namun, pergerakan IHSG pada awal pekan menunjukkan belum adanya tekanan beli yang kuat. IHSG sempat dibuka menguat, tetapi kemudian kenaikannya menyusut.

Wafi memperkirakan, area support IHSG berada di level 5.950 hingga 6.000. Jika level tersebut ditembus, support berikutnya berada di kisaran 5.850 hingga 5.900. Sementara itu, resistance IHSG berada di level 6.100 hingga 6.150.

Ada sejumlah sentimen yang akan menjadi penggerak IHSG pekan ini. Selain arah imbal hasil obligasi AS setelah rilis data tenaga kerja, pergerakan rupiah juga menjadi perhatian karena masih menjadi salah satu penghambat utama pasar.

“Rupiah yang masih jadi penghambat utama selama mendekati Rp 18.000,” ujar Wafi.

Baca Juga: Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Tumbuh 15,48%, Produksi Geothermal Cetak Rekor

Dari dalam negeri, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi seperti cadangan devisa, keyakinan konsumen, penjualan ritel dan penjualan otomotif. Selain itu, laporan keuangan emiten kuartal III-2026 mulai menjadi perhatian menjelang akhir bulan.

Terkait penerapan aturan baru batas harga minimum Rp 1 dan mekanisme perdagangan pada papan pemantauan khusus, Wafi bilang, dampaknya terhadap IHSG masih ada, tetapi relatif kecil. Pasalnya, tekanan lebih banyak terkonsentrasi pada saham berharga rendah, sementara pergerakan IHSG lebih banyak ditentukan oleh saham dengan bobot besar.

Menurutnya, gelombang terbesar dampak aturan tersebut telah terjadi pada hari-hari pertama sejak penerapan pada 28 September 2026 dan biasanya mulai mereda dalam dua hingga empat pekan.

Meski begitu, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas ekstrem pada saham di rentang harga Rp 1 hingga Rp 10. Sebab batas kenaikan dan penurunan harga sebesar Rp 1 dapat menghasilkan perubahan persentase yang sangat besar.

Untuk strategi investasi pekan ini, Wafi melihat dua kelompok sektor yang menarik dicermati. Pertama, saham perbankan dengan porsi CASA dominan yang berpotensi diuntungkan dari meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

 

Kedua, saham komoditas dengan pendapatan dalam dolar Amerika Serikat yang dapat menjadi pelindung ketika rupiah melemah, terutama emiten yang bergerak di komoditas emas dan batubara.

Sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

“Akumulasi, jangan kejar harga,” pungkas Wafi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×