Penulis: Bimo Adi Kresnomurti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Simak profil emiten VKTR yang menjadi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menjadi salah satu emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tengah memperkuat bisnis kendaraan listrik komersial.
Perseroan mengembangkan bisnis di sektor elektrifikasi transportasi, mulai dari kendaraan listrik untuk transportasi publik hingga kendaraan untuk kebutuhan logistik, pertambangan, kawasan industri, dan operasional korporasi.
Memasuki kuartal IV 2026, VKTR juga menjalankan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau right issue.
Baca Juga: Segera Right Issue Jumbo, Cek Profil Saham KOTA dan Kinerja Terbarunya
Aksi tersebut menawarkan 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham sehingga berpotensi menghimpun dana hingga Rp3 triliun sebelum dikurangi biaya pelaksanaan.
Dana right issue tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas VKTR dalam memenuhi permintaan kendaraan listrik komersial sekaligus mengembangkan ekosistem mobilitas listrik di Indonesia.
Mengutip data IPOT, saham VKTR berada di level Rp815,00, turun 2,40% atau Rp20,00 pada sesi 1 perdagangan hari ini Senin (5/10).
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi menarik selengkapnya.
Baca Juga: CDIA Segera Bagi Dividen Interim, Intip Profil Emiten & Kinerja Terbaru
Profil VKTR
VKTR merupakan emiten yang fokus pada elektrifikasi kendaraan komersial. Perseroan sebelumnya bernama PT Bakrie Steel Industries dan didirikan pada 23 November 2007. Nama perseroan kemudian berubah menjadi PT VKTR Teknologi Mobilitas pada 29 Maret 2022.
VKTR resmi mencatatkan sahamnya di BEI pada 19 Juni 2023 dengan kode saham VKTR. Dalam kegiatan usahanya, perseroan bergerak antara lain pada perdagangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, komponen dan suku cadang, karoseri kendaraan, serta industri pengecoran besi dan baja melalui entitas anak.
Perseroan memosisikan diri sebagai salah satu pelopor industri kendaraan listrik komersial di Indonesia dengan menggabungkan manufaktur lokal, kemitraan dengan produsen teknologi global, serta layanan purna jual kendaraan listrik.
Baca Juga: Segera Right Issue dan Inbreng Saham, Cek Profil Emiten LAPD dan Kinerja Terkini
Lini Bisnis VKTR
Bisnis VKTR berfokus pada kendaraan listrik komersial dan industri pendukungnya. Portofolio perseroan mencakup beberapa jenis kendaraan dan layanan.
1. Bus Listrik
Bus listrik menjadi salah satu lini utama VKTR, terutama untuk kebutuhan transportasi publik.
Perseroan memproduksi dan memasok bus listrik dengan ukuran 8 meter dan 12 meter, termasuk tipe low floor dan high floor.
Pada Semester I 2026, VKTR menyelesaikan pengiriman tambahan 30 unit bus listrik 12 meter kepada TransJakarta. Dengan tambahan tersebut, total bus listrik yang telah dipasok VKTR untuk armada TransJakarta mencapai 152 unit atau sekitar 30% dari armada bus listrik TransJakarta yang beroperasi saat itu.
Baca Juga: BUVA Right Issue Rp1,54 Triliun, Intip Profil Emiten Properti dan Real Estate Ini
2. Transporter Listrik
VKTR juga mengembangkan kendaraan listrik transporter melalui produk LOKON. Kendaraan ini ditujukan untuk kebutuhan operasional perusahaan dan logistik.
Pada Semester I 2026, perseroan telah menyelesaikan pengiriman transporter listrik kepada perusahaan logistik di Malang serta entitas dalam ekosistem Kelompok Usaha Bakrie.
3. Truk Listrik
Perseroan juga memiliki portofolio truk listrik heavy-duty untuk kebutuhan industri.
Varian yang dikembangkan mencakup konfigurasi 6x4 Long Wheelbase, 6x4 Short Wheelbase, 4x2 Medium Wheelbase hingga Tractor Head 6x4.
Kendaraan tersebut ditujukan untuk berbagai kebutuhan operasional, termasuk sektor pertambangan, logistik, kawasan industri, serta penggunaan on-road maupun off-road.
4. Komponen dan Suku Cadang
Selain kendaraan listrik, VKTR memiliki bisnis manufaktur komponen suku cadang kendaraan. Segmen tersebut menjadi salah satu penopang kinerja perseroan bersama bisnis kendaraan listrik.
Perseroan menyebut pemulihan industri otomotif nasional turut meningkatkan permintaan terhadap produk komponen otomotif.
Baca Juga: Segera Right Issue dan Akuisisi TCP, Cek Profil Emiten MEJA dan Kinerja Terbarunya
5. Manufaktur dan Karoseri
Kegiatan usaha VKTR juga mencakup industri karoseri kendaraan bermotor roda empat atau lebih, kendaraan listrik berbasis baterai, serta industri pengecoran besi dan baja melalui entitas anak.
Perseroan mengembangkan fasilitas manufaktur lokal sebagai bagian dari strategi meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat kandungan lokal.
Kinerja VKTR Semester I 2026
Melansir data BEI, Kinerja terbaru yang telah dipublikasikan VKTR adalah laporan untuk Semester I 2026. Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp647 miliar, meningkat 56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan tersebut terutama didukung peningkatan bisnis kendaraan listrik komersial. Segmen manufaktur suku cadang juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perseroan.
Dari sisi profitabilitas, laba usaha VKTR mencapai Rp16 miliar, melonjak 1.890% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp10 miliar, tumbuh 25% dibandingkan Semester I 2025.
Baca Juga: FORU Right Issue Rp27,1 Triliun: Intip Profil Emiten, Lini Usaha, hingga Kinerjanya
Berikut ringkasan kinerja VKTR:
| Indikator | Semester I 2026 | Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Penjualan bersih | Rp647 miliar | 56% |
| Laba usaha | Rp16 miliar | 1.890% |
| Laba bersih | Rp10 miliar | 25% |
| Total aset | Rp1,849 triliun | 3% |
| Total liabilitas | Rp589 miliar | 6% YTD |
| Ekuitas | Rp1,260 triliun | 1% YTD |
Pada akhir Semester I 2026, total aset VKTR mencapai sekitar Rp1,849 triliun, sedangkan liabilitas sebesar Rp589 miliar dan ekuitas Rp1,260 triliun.
Baca Juga: 6 Saham Masuk dalam Radar UMA BEI Awal September 2026: Ada SQMI hingga PIPA
Kinerja Operasional Kendaraan Listrik
Pertumbuhan VKTR juga terlihat dari jumlah kendaraan listrik yang telah beroperasi. Hingga akhir Semester I 2026, armada kendaraan listrik perseroan secara kumulatif telah menempuh lebih dari 19 juta kilometer.
VKTR memperkirakan penggunaan armada tersebut telah mengurangi emisi sekitar 17 ribu ton CO₂ dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
Perseroan juga terus memperluas penggunaan kendaraan listrik di luar transportasi publik. Selain TransJakarta, kendaraan listrik VKTR telah diarahkan untuk kebutuhan logistik, pertambangan, kawasan industri, serta operasional korporasi.
Baca Juga: Ada 3 Saham Terkena Suspensi BEI Awal September 2026, Cek Daftarnya
Manajemen VKTR Terbaru
Berdasarkan susunan kepengurusan yang disetujui dalam RUPST dan RUPSLB pada 19 Mei 2026, VKTR memiliki susunan Dewan Komisaris dan Direksi sebagai berikut.
1. Dewan Komisaris
| Nama | Jabatan |
|---|---|
| Sharif Cicip Sutardjo | Komisaris Utama |
| Anindya Novyan Bakrie | Wakil Komisaris Utama |
| Dr. Ing. Ilham A. Habibie | Komisaris |
| Dr. Dino Patti Djalal | Komisaris Independen |
| The Lord Aamer Ahmad Sarfraz | Komisaris Independen |
Baca Juga: Cek 4 Saham yang Terkena Suspensi BEI Akhir Pekan Pertama September 2026
2. Direksi
| Nama | Jabatan |
|---|---|
| A. Ardiansyah Bakrie | Direktur Utama |
| Mochammad Yana Aditya | Direktur |
| S. Erika Mouna Hamizar | Direktur |
| Valentinus Bimo Kurniatmoko | Direktur |
| Achmad Amri Aswono Putro | Direktur |
| Dino Ahmad Ryandi | Direktur |
| Indah Permatasari Saugi | Direktur |
Baca Juga: 4 Saham Masuk Radar UMA BEI per 10 September 2026: Ada ACST hingga SAPX
VKTR Right Issue 2026
Aksi right issue VKTR memasuki tahap penting setelah perseroan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 September 2026.
Melalui PMHMETD I, VKTR menawarkan sebanyak 15 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham dan harga pelaksanaan Rp200 per saham.
Jika seluruh saham baru terserap, perseroan berpotensi memperoleh dana sebesar: 15.000.000.000 saham × Rp200 = Rp3 triliun.
Dengan rasio tersebut, pemegang 35 saham VKTR yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 8 Oktober 2026 berhak memperoleh 12 HMETD. HMETD tersebut dapat diperdagangkan selama periode yang telah ditentukan.
Baca Juga: Cek Saham dalam Radar UMA BEI per 1 Oktober 2026: Ada UVCR hingga AIMS
Potensi Dilusi Pemegang Saham
Investor yang tidak menggunakan haknya dalam right issue perlu memperhatikan potensi dilusi.
Jika seluruh 15 miliar saham baru diterbitkan dan pemegang saham lama tidak mengambil HMETD yang menjadi haknya, kepemilikan pemegang saham tersebut dapat terdilusi hingga sekitar 25,53% setelah pelaksanaan PMHMETD I.
Dengan demikian, investor perlu memperhatikan jadwal perdagangan dan pelaksanaan HMETD serta ketentuan dalam prospektus sebelum mengambil keputusan terkait hak yang dimilikinya.
Baca Juga: GEMS Segera Tebar Dividen Interim Jumbo, Cek Profil Emiten Pertambangan dan Kinerja
Penggunaan Dana Right Issue VKTR
Dana hasil right issue tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan operasional langsung. Sebagian besar dana bersih akan diarahkan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik komersial VKTR.
Sekitar 66,86% dari dana bersih direncanakan disalurkan melalui setoran modal kepada PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembelian kendaraan listrik dari VKTR yang diperkirakan berlangsung pada 2026–2027.
Sementara itu, sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja VKTR. Penggunaannya mencakup kebutuhan operasional serta pengadaan persediaan kendaraan listrik, antara lain bus listrik, truk listrik, transporter listrik, dan forklift listrik.
Dengan struktur tersebut, right issue menjadi bagian dari strategi VKTR untuk memperbesar kapasitas penyediaan kendaraan listrik komersial sekaligus mendukung model bisnis mobilitas berbasis layanan.
Baca Juga: Ada BIKE dan MSJA, Simak Daftar 61 Saham HSC Terbaru per 1 Oktober 2026
Dukungan Pemegang Saham dan Pembeli Siaga
Dalam pelaksanaan right issue, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai pemegang saham utama menyatakan tidak akan melaksanakan HMETD sesuai porsinya. HMETD tersebut akan dialihkan kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).
BCI kemudian akan melaksanakan HMETD yang dialihkan BNBR sebanyak sekitar 3,66 miliar saham dengan nilai sekitar Rp732,13 miliar pada harga pelaksanaan Rp200 per saham.
Selain itu, BCI bersama PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap saham baru yang tidak terserap pemegang saham lainnya sesuai ketentuan prospektus.
Total komitmen pembelian siaga BCI dan BIS mencapai hingga sekitar 11,34 miliar saham, dengan nilai maksimal sekitar Rp2,27 triliun.
Struktur tersebut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan right issue karena terdapat pihak yang telah berkomitmen menyerap saham yang tersisa sesuai mekanisme yang ditetapkan.
Tonton: Selat Hormuz Belum Dibuka! Iran Tegas Minta AS Penuhi 7 Syarat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














