Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri tampak masih bervariasi sepanjang tahun 2025.
Tengok saja, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan penjualan dan pendapatan jasa Rp 5,14 triliun sepanjang tahun 2025, naik 11,87% year on year (YoY) dari Rp 4,60 triliun di tahun 2024.
Laba bersih KIJA tercatat sebesar Rp 423,19 miliar sepanjang 2025, naik 16,48% YoY.
KIJA juga mengantongi penjualan pemasaran alias marketing sales real estat sebesar Rp 3,6 triliun pada tahun 2025, melampaui target tahunan sebesar Rp 3,5 triliun.
Baca Juga: Menilik Prospek Emiten Properti Kawasan Industri di Tengah Lesunya Investasi Asing
Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda mengatakan, pencapaian ini kembali menjadi rekor tertinggi bagi perseroan dan mencerminkan pertumbuhan sekitar 13% dibandingkan tahun 2024, di mana marketing sales tercatat sebesar Rp 3,2 triliun.
“Hal ini semakin menegaskan daya tarik kawasan industri KIJA yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global,” katanya.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) membukukan pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun, menurun 35,58% dibandingkan Rp 2,03 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bersih DMAS juga turun ke Rp 800,30 miliar di 2025, dari sebelumnya Rp 1,33 triliun di 2024.
Tondy Suwanto, Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS mengatakan, DMAS mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 1,6 triliun sepanjang 2025.
Raihan itu diakui mencapai hanya sekitar 88% dari target marketing sales tahun 2025 yang sebesar Rp1,81 triliun.
“Penjualan lahan industri menjadi penyumbang utama atas pencapaian prapenjualan. DMAS menjual sekitar 46 hektare (ha) lahan industri di tahun 2025,” katanya.
Baca Juga: Ditopang Segmen Kawasan Industri, Kinerja AKR Corporindo (AKRA) Kian Mentereng
Sementara, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencetak rugi bersih Rp 89,36 miliar di 2025, berbanding terbalik dari laba bersih Rp 234,22 miliar pada tahun sebelumnya.
Pendapatan usaha SSIA juga turun 29,84% secara tahunan ke Rp 4,42 triliun di 2025, dari sebelumnya Rp 6,31 triliun.
Sepanjang 2025, SSIA mencatat penjualan lahan industri di Suryacipta Karawang seluas 10,8 hektar dan di Subang Smartpolitasn seluas 36,1 hektar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah melihat, perbedaan kinerja ketiga emiten kawasan industri sepanjang tahun 2025 dipengaruhi oleh dinamika siklus penjualan lahan dan struktur sumber pendapatan masing-masing perusahaan.
Peningkatan kinerja KIJA didorong oleh kuatnya pendapatan berulang (recurring income) dari pilar bisnis infrastruktur matang, seperti air, listrik, dan dry port, serta rekor marketing sales yang tinggi.
Sebaliknya, penurunan kinerja DMAS diakibatkan oleh efek normalisasi (high base effect) pasca-meredanya euforia masif penjualan lahan untuk data center pada periode 2023-2024.
Sementara itu, SSIA harus berbalik mencatatkan rugi bersih dan penurunan pendapatan induk hampir 30% lantaran tingginya beban operasional.
Baca Juga: Chandra Daya Investasi (CDIA) Operasikan PLTS di Kawasan Industri Krakatau
“Siabilitas untuk pembangunan mega-proyek Subang Smartpolitan juga belum diimbangi dengan pengakuan pendapatan penjualan lahan yang bisa dicatatkan secara penuh pada buku kas tahun 2025,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan, perbedaan kinerja SSIA, DMAS, dan KIJA pada 2025 terutama disebabkan oleh perbedaan pada sumber pendapatan, timing pengakuan penjualan lahan, serta struktur bisnis masing-masing emiten.
Selain akibat lesunya penjualan kawasan industri, kinerja SSIA masih tertekan karena terbebani oleh segmen hotel yang belum sepenuhnya pulih.
DMAS juga mengalami penurunan kinerja karena kontribusi penjualan lahan industrinya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Sementara kinerja KIJA justru menunjukkan perbaikan karena penjualan lahan, infrastruktur, dan pendapatan dari bisnis pendukung masih cukup kuat, sehingga kinerjanya bisa tumbuh.
“Perbedaan ini bukan hanya karena kondisi industri kawasan industri secara umum, tetapi juga karena eksekusi proyek dan komposisi pendapatan masing-masing emiten,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.
Di tahun 2026, laju kinerja emiten kawasan industri diproyeksikan akan bergeser secara signifikan dari tren tahun sebelumnya.
Hari melihat, sentimen positif untuk sektor ini dipengaruhi oleh keberlanjutan hilirisasi logam, ekspansi rantai pasok kendaraan listrik (EV) China, dan tren pemangkasan suku bunga.
Sementara, sentimen negatif berasal dari gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap wait and see investor akibat eskalasi geopolitik global.
SSIA diperkirakan bisa memiliki probabilitas tertinggi untuk menjadi jawara momentum pertumbuhan alias turnaround yang spektakuler di tahun ini.
Namun, hal ini bergantung apakah proses serah terima lahan masif di Subang Smartpolitan kepada tenant besar bisa tuntas dan diakui sebagai pendapatan tahun ini.
Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Diproyeksi Positif, Cermati Saham Rekomendasi Analis
“Saham SSIA sudah bervaluasi premium, karena pasar sudah memperhitungkan prospek megaproyek Subang Smartpolitan,” tuturnya.
Di sisi lain, KIJA memegang probabilitas terkuat sebagai jawara stabilitas fundamental. Sebab, pundi-pundi recurring income dari lini infrastruktur milik Jababeka akan membuat arus kas kebal terhadap siklus puasa penjualan lahan industri.
“Saham KIJA masih undervalued, karena kinerja impresifnya pada 2025 belum dihargai penuh oleh pasar murni lantaran kekhawatiran atas porsi utang valasnya,” ungkapnya.
Sementara itu, DMAS menyimpan probabilitas besar untuk tetap menjadi jawara profitabilitas dan imbal hasil dividen.
Hal ini mengingat fundamental kasnya yang sangat tebal tanpa tekanan utang valas, sehingga perseroan siap memaksimalkan marjin dari setiap serapan lahan baru yang masuk pasca-normalisasi.
“Saham DMAS punya valuasi yang wajar dan kas tebal tanpa utang, sangat cocok bagi dividend seeker yang mengincar yield jumbo di tengah fase normalisasi laba perseroan,” ungkapnya.
Ekky melihat, sektor properti kawasan industri masih cukup positif, tetapi tetap selektif. Sentimen positifnya datang dari potensi masuknya investasi manufaktur, data center, dan logistik, terutama di kawasan industri yang punya lokasi strategis dan infrastruktur memadai.
Baca Juga: Emiten Properti Kawasan Industri Masih Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Di sisi lain, sentimen negatifnya berasal dari perlambatan investasi asing, pelemahan rupiah, biaya energi, dan ketidakpastian global yang bisa membuat keputusan ekspansi tenant tertunda.
“Dengan kondisi tersebut, laju kinerja 2026 kemungkinan tidak akan sama persis dengan tahun lalu,” tuturnya.
Ekky melihat, KIJA berpeluang menjadi yang paling menonjol dari sisi momentum kinerja sepanjang 2026. Sementara, SSIA masih menarik jika monetisasi proyek dan pemulihan bisnis hotel berjalan sesuai rencana di tahun ini.
“DMAS cenderung lebih defensif, tetapi pertumbuhannya tetap akan sangat bergantung pada realisasi penjualan lahan industrinya,” paparnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menambahkan, prospek emiten properti kawasan industri di tahun 2026 cenderung membaik, namun belum merata.
Katalis kinerja berasal dari relokasi manufaktur terkait kebijakan China+1, hilirisasi, dan masuknya sektor data center. Namun, risiko tetap berasal dari perlambatan penanaman modal asing (PMA), tensi geopolitik, dan persaingan kawasan.
Baca Juga: Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Ini Rekomendasi Analis
“KIJA diperkirakan tetap paling stabil, SSIA berpotensi recovery seiring pengembangan Subang, sementara DMAS cenderung defensif dan bergantung pada deal besar,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa.
Dari sisi valuasi saham, ketiganya masih berada di level relatif murah yang mencerminkan ekspektasi pasar yang masih konservatif. Saham KIJA dinilai paling menarik dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10x dan price to book value (PBV) di bawah 1x.
”SSIA lebih ke arah asset play dengan potensi leverage tinggi saat siklus membaik, sedangkan DMAS lebih cocok sebagai defensif dengan potensi dividen yield,” katanya.
Sukarno pun merekomendasikan beli untuk KIJA dengan target harga di Rp 230 per saham. Rekomendasi hold disematkan untuk SSIA dan DMAS dengan target harga masing-masing Rp 1.500 per saham dan Rp 145 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













