kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   19.000   0,67%
  • USD/IDR 17.099   75,00   0,44%
  • IDX 6.971   -18,40   -0,26%
  • KOMPAS100 958   -7,36   -0,76%
  • LQ45 702   -6,10   -0,86%
  • ISSI 250   -0,25   -0,10%
  • IDX30 382   -5,99   -1,54%
  • IDXHIDIV20 472   -9,70   -2,02%
  • IDX80 108   -0,78   -0,72%
  • IDXV30 130   -2,34   -1,76%
  • IDXQ30 124   -2,23   -1,77%

Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Beragam di 2025, Simak Prospek Sahamnya


Selasa, 07 April 2026 / 19:17 WIB
Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Beragam di 2025, Simak Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. Jababeka Residence (Dok/KIJA). KIJA cetak rekor penjualan dan laba bersih di 2025. Analis sebut sahamnya menarik, cocok untuk jangka panjang. Simak alasannya!


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti kawasan industri tampak masih bervariasi sepanjang tahun 2025. 

Tengok saja, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan penjualan dan pendapatan jasa Rp 5,14 triliun sepanjang tahun 2025, naik 11,87% year on year (YoY) dari Rp 4,60 triliun di tahun 2024.

Laba bersih KIJA tercatat sebesar Rp 423,19 miliar sepanjang 2025, naik 16,48% YoY. 

KIJA juga mengantongi penjualan pemasaran alias marketing sales real estat sebesar Rp 3,6 triliun pada tahun 2025, melampaui target tahunan sebesar Rp 3,5 triliun. 

Baca Juga: Menilik Prospek Emiten Properti Kawasan Industri di Tengah Lesunya Investasi Asing

Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda mengatakan, pencapaian ini kembali menjadi rekor tertinggi bagi perseroan dan mencerminkan pertumbuhan sekitar 13% dibandingkan tahun 2024, di mana marketing sales tercatat sebesar Rp 3,2 triliun.

“Hal ini semakin menegaskan daya tarik kawasan industri KIJA yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global,” katanya.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) membukukan pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun, menurun 35,58% dibandingkan Rp 2,03 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bersih DMAS juga turun ke Rp 800,30 miliar di 2025, dari sebelumnya Rp 1,33 triliun di 2024.

Tondy Suwanto, Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS mengatakan, DMAS mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 1,6 triliun sepanjang 2025.

Raihan itu diakui mencapai hanya sekitar 88% dari target marketing sales tahun 2025 yang sebesar Rp1,81 triliun.

“Penjualan lahan industri menjadi penyumbang utama atas pencapaian prapenjualan. DMAS menjual sekitar 46 hektare (ha) lahan industri di tahun 2025,” katanya.

Baca Juga: Ditopang Segmen Kawasan Industri, Kinerja AKR Corporindo (AKRA) Kian Mentereng

Sementara, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencetak rugi bersih Rp 89,36 miliar di 2025, berbanding terbalik dari laba bersih Rp 234,22 miliar pada tahun sebelumnya.

Pendapatan usaha SSIA juga turun 29,84% secara tahunan ke Rp 4,42 triliun di 2025, dari sebelumnya Rp 6,31 triliun.

Sepanjang 2025, SSIA mencatat penjualan lahan industri di Suryacipta Karawang seluas 10,8 hektar dan di Subang Smartpolitasn seluas 36,1 hektar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah melihat, perbedaan kinerja ketiga emiten kawasan industri sepanjang tahun 2025 dipengaruhi oleh dinamika siklus penjualan lahan dan struktur sumber pendapatan masing-masing perusahaan.

Peningkatan kinerja KIJA didorong oleh kuatnya pendapatan berulang (recurring income) dari pilar bisnis infrastruktur matang, seperti air, listrik, dan dry port, serta rekor marketing sales yang tinggi. 

Sebaliknya, penurunan kinerja DMAS diakibatkan oleh efek normalisasi (high base effect) pasca-meredanya euforia masif penjualan lahan untuk data center pada periode 2023-2024. 

Sementara itu, SSIA harus berbalik mencatatkan rugi bersih dan penurunan pendapatan induk hampir 30% lantaran tingginya beban operasional.

Baca Juga: Chandra Daya Investasi (CDIA) Operasikan PLTS di Kawasan Industri Krakatau

“Siabilitas untuk pembangunan mega-proyek Subang Smartpolitan juga belum diimbangi dengan pengakuan pendapatan penjualan lahan yang bisa dicatatkan secara penuh pada buku kas tahun 2025,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan, perbedaan kinerja SSIA, DMAS, dan KIJA pada 2025 terutama disebabkan oleh perbedaan pada sumber pendapatan, timing pengakuan penjualan lahan, serta struktur bisnis masing-masing emiten. 

Selain akibat lesunya penjualan kawasan industri, kinerja SSIA masih tertekan karena terbebani oleh segmen hotel yang belum sepenuhnya pulih.

DMAS juga mengalami penurunan kinerja karena kontribusi penjualan lahan industrinya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

Sementara kinerja KIJA justru menunjukkan perbaikan karena penjualan lahan, infrastruktur, dan pendapatan dari bisnis pendukung masih cukup kuat, sehingga kinerjanya bisa tumbuh. 

“Perbedaan ini bukan hanya karena kondisi industri kawasan industri secara umum, tetapi juga karena eksekusi proyek dan komposisi pendapatan masing-masing emiten,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×