Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Di tahun 2026, laju kinerja emiten kawasan industri diproyeksikan akan bergeser secara signifikan dari tren tahun sebelumnya.
Hari melihat, sentimen positif untuk sektor ini dipengaruhi oleh keberlanjutan hilirisasi logam, ekspansi rantai pasok kendaraan listrik (EV) China, dan tren pemangkasan suku bunga.
Sementara, sentimen negatif berasal dari gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap wait and see investor akibat eskalasi geopolitik global.
SSIA diperkirakan bisa memiliki probabilitas tertinggi untuk menjadi jawara momentum pertumbuhan alias turnaround yang spektakuler di tahun ini.
Namun, hal ini bergantung apakah proses serah terima lahan masif di Subang Smartpolitan kepada tenant besar bisa tuntas dan diakui sebagai pendapatan tahun ini.
Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Diproyeksi Positif, Cermati Saham Rekomendasi Analis
“Saham SSIA sudah bervaluasi premium, karena pasar sudah memperhitungkan prospek megaproyek Subang Smartpolitan,” tuturnya.
Di sisi lain, KIJA memegang probabilitas terkuat sebagai jawara stabilitas fundamental. Sebab, pundi-pundi recurring income dari lini infrastruktur milik Jababeka akan membuat arus kas kebal terhadap siklus puasa penjualan lahan industri.
“Saham KIJA masih undervalued, karena kinerja impresifnya pada 2025 belum dihargai penuh oleh pasar murni lantaran kekhawatiran atas porsi utang valasnya,” ungkapnya.
Sementara itu, DMAS menyimpan probabilitas besar untuk tetap menjadi jawara profitabilitas dan imbal hasil dividen.
Hal ini mengingat fundamental kasnya yang sangat tebal tanpa tekanan utang valas, sehingga perseroan siap memaksimalkan marjin dari setiap serapan lahan baru yang masuk pasca-normalisasi.
“Saham DMAS punya valuasi yang wajar dan kas tebal tanpa utang, sangat cocok bagi dividend seeker yang mengincar yield jumbo di tengah fase normalisasi laba perseroan,” ungkapnya.
Ekky melihat, sektor properti kawasan industri masih cukup positif, tetapi tetap selektif. Sentimen positifnya datang dari potensi masuknya investasi manufaktur, data center, dan logistik, terutama di kawasan industri yang punya lokasi strategis dan infrastruktur memadai.
Baca Juga: Emiten Properti Kawasan Industri Masih Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Di sisi lain, sentimen negatifnya berasal dari perlambatan investasi asing, pelemahan rupiah, biaya energi, dan ketidakpastian global yang bisa membuat keputusan ekspansi tenant tertunda.
“Dengan kondisi tersebut, laju kinerja 2026 kemungkinan tidak akan sama persis dengan tahun lalu,” tuturnya.
Ekky melihat, KIJA berpeluang menjadi yang paling menonjol dari sisi momentum kinerja sepanjang 2026. Sementara, SSIA masih menarik jika monetisasi proyek dan pemulihan bisnis hotel berjalan sesuai rencana di tahun ini.
“DMAS cenderung lebih defensif, tetapi pertumbuhannya tetap akan sangat bergantung pada realisasi penjualan lahan industrinya,” paparnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menambahkan, prospek emiten properti kawasan industri di tahun 2026 cenderung membaik, namun belum merata.
Katalis kinerja berasal dari relokasi manufaktur terkait kebijakan China+1, hilirisasi, dan masuknya sektor data center. Namun, risiko tetap berasal dari perlambatan penanaman modal asing (PMA), tensi geopolitik, dan persaingan kawasan.
Baca Juga: Emiten Properti Kawasan Industri Prospektif, Ini Rekomendasi Analis
“KIJA diperkirakan tetap paling stabil, SSIA berpotensi recovery seiring pengembangan Subang, sementara DMAS cenderung defensif dan bergantung pada deal besar,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa.
Dari sisi valuasi saham, ketiganya masih berada di level relatif murah yang mencerminkan ekspektasi pasar yang masih konservatif. Saham KIJA dinilai paling menarik dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10x dan price to book value (PBV) di bawah 1x.
”SSIA lebih ke arah asset play dengan potensi leverage tinggi saat siklus membaik, sedangkan DMAS lebih cocok sebagai defensif dengan potensi dividen yield,” katanya.
Sukarno pun merekomendasikan beli untuk KIJA dengan target harga di Rp 230 per saham. Rekomendasi hold disematkan untuk SSIA dan DMAS dengan target harga masing-masing Rp 1.500 per saham dan Rp 145 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













