kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

INDY Raih Pendapatan US$ 1,15 Miliar di Semester I-2026, Ini Penopangnya


Sabtu, 01 Agustus 2026 / 09:29 WIB
INDY Raih Pendapatan US$ 1,15 Miliar di Semester I-2026, Ini Penopangnya
Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand. (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatat perbaikan kinerja keuangan pada semester I-2026, seiring meningkatnya kontribusi dari sejumlah lini usaha utama.

Di saat yang sama, perusahaan mempercepat transformasi bisnis dengan mengarahkan hampir seluruh belanja modalnya ke sektor non-batubara, terutama pengembangan proyek emas Awak Mas.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang berakhir pada 30 Juni 2026, INDY membukukan pendapatan sebesar US$ 1,15 miliar, naik 19,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 956,8 juta.

Baca Juga: Masuk LQ45, Saham Indika Energy (INDY) Melonjak 41% dalam Sebulan

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak menjadi US$ 10,2 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan US$ 2,2 juta pada semester I-2025.

Peningkatan kinerja tersebut ditopang oleh kontribusi yang lebih besar dari sejumlah unit usaha, yakni Kideco Jaya Agung (Kideco), Tripatra, Interport Mandiri Utama (Interport), serta Indika Indonesia Resources.

Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand, mengatakan capaian pada enam bulan pertama tahun ini mencerminkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis sekaligus kemajuan strategi diversifikasi perusahaan.

"Alokasi lebih dari 99% belanja modal ke bisnis non-batubara menegaskan komitmen kami membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi, tangguh, dan berkelanjutan," ujar Azis dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Kontributor terbesar pendapatan tetap berasal dari Kideco dengan nilai US$ 855,1 juta atau meningkat 10,2% secara tahunan.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Fokus Diversifikasi Bisnis, Kinerjanya Positif di Kuartal I-2026

Kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata sebesar 6,8% menjadi US$ 54,7 per ton serta peningkatan volume penjualan 2,4% menjadi 14,8 juta ton.

Dari total penjualan tersebut, sekitar 6,4 juta ton atau 43,5% dipasarkan di dalam negeri, sedangkan 8,3 juta ton atau 56,5% diekspor. Perbaikan kinerja itu juga mendorong marjin laba kotor Kideco meningkat menjadi 19% dari sebelumnya 14,2%.

Sementara itu, Indika Indonesia Resources mencatat pertumbuhan pendapatan paling tinggi, yakni 79,4% menjadi US$ 42,7 juta.

Lonjakan tersebut didorong oleh peningkatan volume perdagangan batubara hingga 104% menjadi 539.000 ton serta kenaikan harga jual rata-rata 51,5% menjadi US$ 72,3 per ton karena penjualan batubara berkalori lebih tinggi.

 

Perusahaan juga mulai mencatat pendapatan dari perdagangan non-batubara sebesar US$ 3,8 juta, terutama berasal dari perdagangan bauksit melalui Mekko.

Di sisi jasa rekayasa, Tripatra membukukan pendapatan US$ 167,4 juta atau naik 41,3% dibandingkan semester I-2025.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Cetak Kenaikan Laba 142% pada Kuartal I-2026

Pertumbuhan itu terutama berasal dari proyek APA Geng North, FEED FPCI Proyek LNG Abadi, Proyek Sambar Development, serta jasa project management consultancy untuk Proyek UCC.

Adapun Interport mencatat pendapatan sebesar US$ 86,7 juta atau tumbuh 57,9%. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya bisnis perdagangan bahan bakar, di samping kontribusi dari bisnis logistik Cotrans dan penyimpanan bahan bakar melalui KGTE.

Di tengah kenaikan aktivitas usaha, harga pokok penjualan meningkat 17,2% menjadi US$ 965,8 juta. Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan biaya operasional Kideco di luar royalti sebesar 9% menjadi US$ 37,3 per ton, dipicu oleh meningkatnya harga bahan bakar dari US$ 0,67 per liter menjadi US$ 0,90 per liter.

Meski demikian, profitabilitas perusahaan tetap membaik. Laba kotor meningkat 36,5% menjadi US$ 181,2 juta, sementara laba usaha melonjak 82,9% menjadi US$ 99 juta. Marjin laba usaha pun naik menjadi 8,6% dari sebelumnya 5,7%.

Adjusted EBITDA juga tumbuh 43,8% menjadi US$ 139,1 juta, dengan marjin meningkat menjadi 12,1% dari 10,1% pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, perusahaan masih membukukan rugi selisih kurs sebesar US$ 8,3 juta akibat depresiasi rupiah, sementara beban keuangan relatif stabil di level US$ 34,7 juta.

Baca Juga: Hasil RUPS Indika Energy (INDY) Bakal Tebar Dividen Tunai US$ 3,01 Juta Bulan Depan

Sebagai bagian dari transformasi bisnis, INDY mengalokasikan US$ 82,4 juta atau sekitar 99,1% dari total belanja modal sebesar US$ 83,1 juta untuk pengembangan bisnis non-batubara. Porsi terbesar digunakan untuk proyek emas Awak Mas dengan nilai investasi US$ 71,4 juta.

Hingga akhir Juni 2026, progres konstruksi proyek Awak Mas telah mencapai 60,63% menuju penyelesaian tahap commissioning kedua (C2), dengan total investasi yang telah digelontorkan mencapai US$ 340 juta.

Selain mencatat pertumbuhan kinerja, pada 19 Juni 2026 INDY juga merealisasikan pembagian dividen sebesar US$ 3,01 juta sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 20 Mei 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×