kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.668   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.095   -223,56   -3,54%
  • KOMPAS100 805   -27,79   -3,34%
  • LQ45 616   -14,28   -2,26%
  • ISSI 214   -11,19   -4,97%
  • IDX30 352   -8,00   -2,22%
  • IDXHIDIV20 439   -9,68   -2,16%
  • IDX80 93   -3,02   -3,15%
  • IDXV30 121   -3,14   -2,53%
  • IDXQ30 115   -2,35   -2,00%

Indika Energy (INDY) Fokus Diversifikasi Bisnis, Kinerjanya Positif di Kuartal I-2026


Kamis, 21 Mei 2026 / 19:58 WIB
Indika Energy (INDY) Fokus Diversifikasi Bisnis, Kinerjanya Positif di Kuartal I-2026
ILUSTRASI. PT Indika Energy Tbk (INDY) mencetak laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 7 juta pada kuartal I-2026. (NULL/Indika Energy)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) mencetak laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 7 juta pada kuartal I-2026. Angka ini naik signifikan 141,4% dibandingkan dengan capaian kuartal I-2025 yakni US$ 2,9 juta.

Pertumbuhan positif ini didorong oleh meningkatnya kinerja Kideco dan efisiensi biaya operasional.

Sepanjang kuartal I-2026, INDY membukukan pendapatan US$ 493,2 juta atau meningkat 0,7% dari US$ 489,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan terutama disebabkan karena meningkatnya kontribusi Interport dan Indika Indonesia Resources, walaupun ada sedikit penurunan kontribusi pendapatan dari Kideco.

Baca Juga: IHSG Jatuh Saat Mayoritas Bursa Asia Menguat, Ini Penyebabnya

Pada tiga bulan pertama 2026, pendapatan Kideco menurun 5,7% menjadi US$ 377,4 juta seiring dengan penurunan volume penjualan batubara sebesar 4,1% menjadi 7 juta ton dan penurunan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 1,7% menjadi US$ 51,1 per ton. 

Kideco tetap berkomitmen pada ketahanan energi nasional dengan menyalurkan 3,1 juta ton (45% dari total volume produksi) untuk pasar domestik, sehingga melampaui ketentuan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 25%. Adapun 55% sisanya atau sebesar 3,9 juta ton diekspor ke China, India, Jepang, dan negara lainnya.

Indika Indonesia Resources (IIR) mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 38,3% menjadi US$ 13 juta pada kuartal I-2026. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari perdagangan batubara sebesar 5% menjadi 126.000 ton dibandingkan 120.000 ton pada kuartal I-2025.

Selain itu, kinerja IIR tumbuh berkat meningkatnya ASP perdagangan batubara sebesar 88,3% menjadi US$ 88,3 per ton dibandingkan US$ 46,9 per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring penjualan batubara dengan nilai kalori yang lebih tinggi. 

IIR juga mencatat Pendapatan sebesar US$ 1,9 juta dari perdagangan non-batubara, terutama bauksit dari Mekko.

Anak-anak perusahaan INDY lainnya seperti Tripatra dan Interport juga mencatat kenaikan pendapatan. Tripatra mencatat kenaikan pendapatan sebesar 11,2% menjadi US$ 68,7 juta pada kuartal I-2026, terutama didorong oleh proyek APA Geng North senilai US$ 33,9 juta, proyek Kaltim Parna LCO2 (US$ 3,4 juta), PMC untuk proyek UCC (US$ 4,3 juta), proyek PHR Utara (US$ 3,3 juta), dan FEED FPCI untuk proyek LNG Abadi (US$ 2,9 juta). 

Perusahaan logistik terintegrasi, Interport Mandiri Utama mencatat kenaikan pendapatan sebesar 53,4% menjadi US$ 43,1 juta, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari bisnis perdagangan bahan bakar. Pada 3M 2026, Pendapatan Interport terdiri dari Cotrans sebesar US$ 16,4 juta, KGTE atau penyimpanan bahan bakar sebesar US$ 5,8 juta, perdagangan bahan bakar sebesar US$ 16,8 juta, sementara sisanya berasal dari Interport Business Park (IBP) dan ILSS.

Baca Juga: Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham

Sementara itu, INDY berhasil menekan beban pokok kontrak dan penjualan sebesar 1,6% menjadi US$ 419,2 juta pada kuartal I-2026 dari sebelumnya US$ 425,9 juta pada kuartal I-2025. Penurunan ini terutama disebabkan penurunan biaya tunai (cash cost) Kideco termasuk royalti menjadi US$ 44,6 per ton. 

Hasilnya, laba kotor INDY meningkat 16,2% menjadi US$ 74 juta dengan margin laba kotor terkonsolidasi meningkat menjadi 15,0% dari 13,0% pada kuartal I-2025. Hal ini terutama didorong oleh peningkatan margin laba kotor Kideco yaitu menjadi 18,9% pada kuartal I-2026, dibandingkan 12,5% pada kuartal I-2025.

Beban penjualan, umum, dan administrasi INDY turun 0,5% menjadi US$ 36,6 juta pada kuartal I-2026 dari sebelumnya US$ 36,8 juta lantaran adanya penurunan beban umum dan administrasi, sedikit penurunan biaya pemasaran sejalan dengan pendapatan Kideco yang lebih rendah, dan peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terkait Kideco.

Di sisi lain, bagian laba bersih entitas asosiasi INDY menurun menjadi US$ 4,5 juta pada kuartal I-2026 dibandingkan US$ 9,6 juta pada periode sebelumnya akibat kontribusi yang lebih rendah dari PLTU Cirebon (CEPR).

Beban keuangan INDY juga berhasil dipangkas sebesar 8,6% menjadi US$ 16 juta pada kuartal I-2026 berkat penurunan biaya utang rata-rata.

Sebagai hasilnya, INDY membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 7 juta pada kuartal I-2026.

Komitmen INDY untuk mengembangkan bisnis non-batubara tercermin dari realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang kuartal I-2026 yang mencapai US$ 26,2 juta, di mana 100% dialokasikan seluruhnya untuk sektor non-batubara. Sektor mineral melalui proyek tambang emas Awak Mas menyerap US$ 20,4 juta dan sisanya sebesar US$ 5,8 juta didistribusikan untuk inisiatif bisnis hijau.

Hingga 31 Maret 2026, konstruksi proyek Awak Mas telah mencapai 56,8% penyelesaian, dengan total biaya yang telah direalisasikan sebesar US$ 288,1 juta.

“Indika Energy tetap menunjukkan ketahanan kinerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar US$ 7 juta pada kuartal pertama 2026 di tengah dinamika industri energi global,” ujar Diektur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026). 

INDY pun terus memperkuat transformasi bisnis, di mana seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau. “Langkah ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan yang relevan dengan arah transisi energi global menuju net-zero,” tandas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×