Penulis: Bimo Adi Kresnomurti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Simak profil ULTJ yang merencanakan Right Issue dan Akuisisi FFI. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) tengah menyiapkan aksi korporasi besar yang berpotensi mengubah struktur bisnis dan pemegang saham pengendalinya.
Melansir laman BEI, emiten produsen Ultra Milk tersebut berencana mengambil alih 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui skema penyetoran saham atau inbreng yang terintegrasi dengan pelaksanaan rights issue.
Rencana tersebut menjadi bagian dari kemitraan strategis dengan FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH), pemegang saham mayoritas FFI.
Baca Juga: Saham Melesat, Cek Profil Emiten PICO, Lini Bisnis, hingga Kinerja Terbarunya
Jika transaksi rampung, FCIH akan menjadi pengendali baru ULTJ dan diwajibkan melakukan penawaran tender wajib atau mandatory tender offer (MTO) atas saham ULTJ yang masih dimiliki publik.
Namun, transaksi masih membutuhkan sejumlah persetujuan, termasuk RUPSLB dan pernyataan efektif dari OJK.
Melansir data IPOT, sesi 1 Senin (21/9) menunjukkan saham ULTJ ditutup di Rp2.060 per saham atau bergerak stagnan dari pekan lalu. Data pasar tersebut bersifat dinamis sehingga dapat berubah mengikuti perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi menarik dari saham ULTJ.
Baca Juga: BUVA Right Issue Rp1,54 Triliun, Intip Profil Emiten Properti dan Real Estate Ini
Profil Saham ULTJ
PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di industri makanan dan minuman. Perseroan berkantor pusat di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dan dikenal melalui produk susu UHT dengan merek Ultra Milk.
Selain susu, ULTJ memproduksi berbagai minuman UHT lainnya, termasuk Teh Kotak serta minuman kesehatan seperti Sari Kacang Ijo. Perseroan juga memiliki produk krimer kental manis dengan merek Cap Sapi.
Situs resmi perusahaan menyebut Ultra Milk sebagai merek utama pada segmen susu cair, sedangkan Teh Kotak menjadi salah satu merek utama di kategori teh siap minum dalam kemasan karton.
Baca Juga: Segera Right Issue dan Akuisisi TCP, Cek Profil Emiten MEJA dan Kinerja Terbarunya
ULTJ Segera Rights Issue hingga 7,87 Miliar Saham
ULTJ telah mengumumkan rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue.
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, ULTJ berencana menerbitkan maksimal 7.878.669.985 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham.
Jika seluruh saham baru diterbitkan pada harga tersebut, dana bruto yang berpotensi dihimpun mencapai sekitar Rp16,94 triliun.
| Rencana Rights Issue ULTJ | Keterangan |
|---|---|
| Maksimal saham baru | 7.878.669.985 saham |
| Harga pelaksanaan | Rp2.150 per saham |
| Potensi dana bruto | Rp16,94 triliun |
| Tujuan utama | Akuisisi 100% FFI |
| Nilai akuisisi/inbreng | Rp14,57 triliun |
| RUPSLB | 27 Oktober 2026 |
Sekitar 86,01% dana hasil rights issue setelah memperhitungkan biaya akan digunakan untuk mengambil alih seluruh saham FFI.
Sisanya dalam bentuk setoran tunai akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung, pemeliharaan dan perbaikan, serta listrik.
Baca Juga: Saham GIAA Melesat, Intip Profil Emiten hingga Kinerja Keuangan Terbarunya
Akuisisi 100% Frisian Flag Indonesia
Rencana akuisisi ULTJ mencakup 100% saham PT Frisian Flag Indonesia atau sebanyak 24.440 saham. Nilai transaksi yang ditetapkan dalam rencana inbreng mencapai Rp14,57 triliun.
FFI saat ini memiliki tiga pemegang saham, yakni:
| Pemegang Saham FFI | Kepemilikan |
|---|---|
| FrieslandCampina International Holding B.V. | 78,09% |
| Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. | 16,91% |
| PT Bahtera Wiraniaga Internusa | 5,00% |
| Total | 100% |
Seluruh saham tersebut nantinya disetorkan kepada ULTJ sebagai penyetoran modal dalam bentuk nonkas atau inbreng. Sebagai gantinya, pemegang saham FFI akan memperoleh saham baru ULTJ melalui rights issue.
KJPP Rengganis, Hamid dan Rekan memberikan nilai pasar 100% ekuitas FFI sebesar sekitar Rp14,57 triliun per 31 Juli 2026. Dalam laporan pro forma, biaya akuisisi yang digunakan ULTJ mencapai sekitar Rp14,57 triliun.
Baca Juga: Akuisisi oleh Korporasi China Jadi Sorotan, Intip Profil EKAD hingga Kinerja Terbaru
FrieslandCampina Jadi Pengendali Baru ULTJ
Transaksi tersebut juga akan mengubah struktur pengendalian ULTJ. Saat ini, Sabana Prawirawidjaja merupakan pemegang saham pengendali ULTJ dengan kepemilikan 53,17%. PT Prawirawidjaja Prakarsa memiliki 23,78%, sedangkan publik menggenggam 13,99% saham berdasarkan daftar pemegang saham per 17 September 2026.
Setelah rights issue, kepemilikan FCIH diperkirakan berada di kisaran 28,95%-30,81%, tergantung pada tingkat partisipasi pemegang saham lainnya. Meskipun tidak mencapai 50%, FCIH akan menjadi pengendali baru ULTJ berdasarkan kemampuan pengendalian yang ditetapkan dalam transaksi.
Dalam skenario seluruh pemegang saham menggunakan haknya, FCIH akan memiliki 28,95% ULTJ. Sementara jika hanya FCIH, BWG, dan BWI yang mengambil seluruh HMETD yang dialihkan kepada mereka, kepemilikan FCIH mencapai 30,81%.
Setelah perubahan pengendalian efektif, FCIH akan melakukan mandatory tender offer terhadap sisa saham ULTJ yang dimiliki pemegang saham publik sesuai ketentuan POJK Nomor 9/2018.
Baca Juga: Tender Offer Berlanjut, Intip Profil KETR hingga Kinerja Keuangan Terkini
Risiko Dilusi bagi Pemegang Saham
Rights issue tersebut juga membawa konsekuensi terhadap persentase kepemilikan pemegang saham lama. ULTJ menyatakan pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dalam PMHMETD IV berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 43,11%.
Sebagai contoh, dalam skenario seluruh pemegang saham menggunakan haknya, kepemilikan Sabana Prawirawidjaja akan turun dari 53,17% menjadi 30,25%. PT Prawirawidjaja Prakarsa turun dari 23,78% menjadi 13,53%.
Sementara itu, FCIH akan memperoleh 28,95%, BWG 6,27%, dan BWI 1,85% dalam skenario tersebut.
Baca Juga: Laba GOTO Rp607,5 Miliar Semester I-2026, Intip Profil Emiten hingga Data Keuangan
Rights issue ULTJ belum langsung dilaksanakan. Perseroan terlebih dahulu membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.
Setelah memperoleh persetujuan RUPSLB, ULTJ akan mengajukan pernyataan pendaftaran kepada OJK. PMHMETD IV baru dapat dilaksanakan setelah pernyataan pendaftaran tersebut dinyatakan efektif oleh OJK.
Dengan demikian, kabar mengenai rights issue ULTJ perlu dipahami sebagai rencana aksi korporasi, bukan rights issue yang sudah memasuki tahap perdagangan HMETD.
Baca Juga: FORU Right Issue Rp27,1 Triliun: Intip Profil Emiten, Lini Usaha, hingga Kinerjanya
Lini Bisnis ULTJ
Sebelum rencana integrasi dengan FFI, bisnis utama ULTJ berada pada industri makanan dan minuman, khususnya produk susu dan minuman UHT.
Beberapa lini produk ULTJ antara lain:
| Lini Bisnis | Produk/Merek |
|---|---|
| Susu UHT | Ultra Milk, Ultra Mimi |
| Teh UHT | Teh Kotak |
| Minuman kesehatan UHT | Sari Kacang Ijo, Sari Asem |
| Krimer kental manis | Cap Sapi |
| Produk lainnya | Berbagai produk minuman dan makanan |
Situs resmi ULTJ menyebut perseroan sebagai produsen produk susu cair segar, minuman ringan, dan minuman kesehatan yang menggunakan teknologi UHT serta kemasan aseptik.
Baca Juga: Fortune Indonesia (FORU) Rancang Right Issue Jumbo Rp 27,1 Triliun
Lini Bisnis Frisian Flag yang Akan Masuk ke Grup ULTJ
Akuisisi FFI akan memperluas portofolio ULTJ karena bisnis kedua perusahaan memiliki sejumlah kategori produk yang saling melengkapi.
FFI menjalankan kegiatan usaha di bidang pengolahan susu segar dan krim, susu bubuk dan susu kental, makanan bayi, produk olahan susu lainnya, produk makanan, serta perdagangan grosir produk susu. FFI juga memiliki fasilitas produksi di Pasar Rebo, Jakarta, dan Cikarang, Jawa Barat.
Portofolio FFI juga mencakup produk susu UHT, susu kental manis, susu bubuk dan produk nutrisi anak seperti Friso. Sementara ULTJ memiliki kekuatan pada susu cair UHT Ultra Milk dan minuman non-susu seperti Teh Kotak serta Sari Kacang Ijo.
Dengan demikian, jika transaksi terealisasi, grup ULTJ akan memiliki portofolio yang lebih luas di berbagai kategori produk susu dan minuman.
Kinerja Terbaru ULTJ
Merangkum data BEI, ULTJ mencatat pertumbuhan kuat pada semester I 2026. Penjualan bersih perseroan mencapai Rp5,49 triliun, naik 34,6% dibandingkan Rp4,08 triliun pada semester I 2025.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp1,05 triliun, meningkat 73,7% secara tahunan dari Rp603,81 miliar. Laba bruto juga naik 38,5% menjadi Rp1,90 triliun, sedangkan laba usaha meningkat 73,9% menjadi Rp1,30 triliun.
| Kinerja | Semester I 2026 | Semester I 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penjualan bersih | Rp5,49 triliun | Rp4,08 triliun | +34,6% |
| Laba bruto | Rp1,90 triliun | Rp1,37 triliun | +38,5% |
| Laba usaha | Rp1,30 triliun | Rp746,32 miliar | +73,9% |
| Laba bersih atribusi induk | Rp1,05 triliun | Rp603,81 miliar | +73,7% |
Data ini menjadi basis laporan keuangan yang digunakan dalam penyusunan informasi transaksi dengan FFI.
Tonton: Serapan Anggaran MBG Capai Rp 139 Triliun, Ini Dampaknya ke Emiten Unggas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













