kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.108   11,00   0,06%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Musim Laporan Keuangan Kuartal III-2026, Ini Sektor Saham yang Layak Dicermati


Senin, 26 Oktober 2026 / 06:25 WIB
Musim Laporan Keuangan Kuartal III-2026, Ini Sektor Saham yang Layak Dicermati
ILUSTRASI. Musim laporan keuangan kuartal III-2026, simak sektor saham pilihan analis dan peluang investasi di tengah tekanan rupiah dan sentimen pasar. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor dan pelaku pasar tengah menanti rilis kinerja keuangan para emiten Tanah Air untuk periode per September 2026. Pasalnya, sejumlah emiten telah merilis kinerja keuangan dan berhasil mencetak kinerja positif.

Dari konstituen indeks LQ45, ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang berhasil membukukan penjualan bersih Rp 25,75 triliun hingga September 2026, tumbuh 7,16% secara tahunan atau Year on Year (YoY).

Emiten barang konsumsi tersebut juga mencatatkan laba bersih Rp 4,2 triliun pada Januari–September 2026. Ini meningkat 25,96% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif juga ditorehkan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, AKRA membukukan laba bersih Rp 2,21 triliun, tumbuh 34% secara tahunan.

Pertumbuhan laba AKRA sejalan dengan kenaikan pendapatan sebesar 43,64% secara tahunan menjadi Rp 46,53 triliun hingga September 2026, dibandingkan Rp 32,40 triliun pada periode sebelumnya.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Tertekan, Simak Proyeksi Emas Antam Akhir Oktober 2026

Sejumlah emiten lainnya dijadwalkan merilis laporan keuangan pada pekan terakhir Oktober 2026. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dijadwalkan menyampaikan kinerja pada 27 Oktober, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada 29 Oktober.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta memproyeksikan sektor energi, bahan baku, dan perbankan layak dicermati investor selama musim rilis kinerja kuartal III-2026.

Dia bilang sektor energi dan bahan baku berpotensi memperoleh dukungan dari dinamika harga komoditas. Sementara itu, sektor perbankan masih ditopang pertumbuhan kredit, meskipun investor perlu mencermati kualitas aset.

“Sektor energi, bahan baku, dan perbankan layak dicermati pada musim rilis laporan keuangan kuartal III-2026,” jelas Nafan saat dihubungi Kontan, Sabtu (24/10).

Nafan menambahkan, kinerja keuangan yang solid berpotensi menjadi katalis positif bagi saham tertentu. Namun, dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dapat tertahan sentimen MSCI.

Di sisi lain, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai pelemahan nilai tukar rupiah dapat menekan perusahaan yang memiliki eksposur impor besar, termasuk sektor kesehatan dan farmasi.

Menurut Nico, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Namun, besarnya dampak terhadap kinerja akan bergantung pada kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.

Dia bilang sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, termasuk kredit dan properti. Kenaikan suku bunga berpotensi memengaruhi permintaan pembiayaan ketika daya beli masyarakat dan konsumsi mengalami tekanan.

“Emiten bank-bank besar memiliki basis nasabah dan portofolio kredit yang relatif mapan. Sebaliknya, bank dengan skala lebih kecil berpotensi menghadapi dampak lebih besar ketika penyaluran kredit melambat,” jelasnya kepada Kontan, Minggu (25/10/2026).

Di sisi lain, Nico melihat peluang pada komoditas yang harganya meningkat, termasuk minyak dan gas serta batubara. Kenaikan harga komoditas tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi perusahaan terkait.

Baca Juga: Prospek Saham EBT, Simak Rekomendasi BREN, PGEO, KEEN, dan TOBA

Namun, Nico mengingatkan investor untuk menilai apakah penurunan harga saham mencerminkan pelemahan fundamental atau justru membuka peluang akumulasi. Jika volatilitas pasar terlalu tinggi, investor dapat memilih menunggu kondisi lebih stabil.

“Kalau misalkan memang secara fundamental yang lagi bisa kita lihat mengalami penurunan, kemudian beli-beli itu merupakan salah satu kesempatan,” ujar Nico saat menjelaskan peluang investasi ketika harga saham melemah.

Dalam jangka pendek, Nico memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat. Dia memproyeksikan indeks bergerak pada area 5.380 hingga 5.520, dengan tetap memperhatikan sentimen pasar dan minat investor.

Menurut Nico, daya tarik investasi tidak cukup hanya bertumpu pada penurunan harga saham. Investor juga membutuhkan alasan fundamental yang jelas untuk menempatkan modal di pasar Indonesia. Sementara itu, Nafan menyarankan pembelian saham secara bertahap dan selektif sembari menunggu konfirmasi laporan keuangan serta stabilisasi pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×