Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia berpeluang mengalami pemulihan pada perdagangan awal pekan ini setelah terkoreksi tajam dan menyentuh area support US$ 3.959-US$ 3.982 per ons troi pada akhir pekan kemarin.
Senin (26/10/2026) pukul 11.30 WIB, harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 4.009,87 per ons troi, setelah sempat menyentuh level terendahnya sejak pertengahan Juli pada sesi sebelumnya.
Sejalan, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Desember 2026 menguat 0,4% menjadi US$ 4.023,5 per ons troi.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit menjelaskan, area support tersebut menjadi zona penting untuk menentukan arah pergerakan harga emas atau XAUUSD dalam jangka pendek.
Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan ke Rp 18.117 Per Dolar AS pada Tengah Hari Ini (26/10)
Jika mampu bertahan di atas support tersebut, harga emas berpeluang membentuk swing low atau titik terendah lokal sebelum bergerak naik.
Dalam skenario tersebut, apabila momentum kenaikan berlanjut, harga emas spot berpeluang menuju resistance berikutnya di US$ 4.112 per ons troi.
"Kenaikan menuju level tersebut belum dapat diartikan sebagai perubahan tren bearish menjadi bullish. Diperlukan konfirmasi pergerakan yang lebih kuat untuk menilai apakah pemulihan dapat berkembang menjadi pembalikan tren," ujar Geraldo dalam risetnya, Senin (26/10/2026).
Sebaliknya, jika harga emas menembus area support US$ 3.959-US$ 3.982 secara valid, peluang pemulihan berisiko gagal. Kondisi tersebut dapat menandakan tekanan jual masih dominan dan membuka ruang pelemahan lanjutan.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas masih dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury, serta pergerakan dolar AS.
Pelemahan dolar AS berpotensi mendukung harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, penurunan imbal hasil US Treasury dapat mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Baca Juga: Akan Buyback Saham, Red Planet Indonesia (PSKT) Siapkan Rp 5 Miliar
Sebaliknya, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury berpotensi kembali menekan harga emas. Ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed juga dapat memicu volatilitas seiring perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













