CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Harga Minyak Melonjak 6%, Brent dan WTI Tembus Level US$ 100 per Barel


Jumat, 11 September 2026 / 04:57 WIB
Harga Minyak Melonjak 6%, Brent dan WTI Tembus Level US$ 100 per Barel
ILUSTRASI. Kilang Minyak Venezuela (REUTERS/Gaby Oraa)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 6% pada perdagangan Kamis (10/9), dengan harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama menembus US$100 per barel.

Lonjakan terjadi setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman berikutnya ditutup naik US$6,42 atau 6,34% menjadi US$107,63 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI naik US$6,43 atau 6,69% ke US$ 102,48 per barel.

Kedua harga acuan tersebut mencapai level tertinggi sejak 19 Mei sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan. WTI juga kembali menembus US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 21 Mei.

Baca Juga: Peluang Harga Minyak Brent Tembus Level US$ 122, Ini Penopang Utamanya

Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran energi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis, meningkatkan ancaman terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah.

Di kawasan Teluk, arus pelayaran melalui Selat Hormuz juga masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran ekspor minyak.

"Risiko gangguan kini semakin meluas ke jalur ekspor, fasilitas produksi dan infrastruktur energi," kata Simon-Peter Massabni, head of business development XS.com.

Ancaman gangguan pasokan kini tidak lagi hanya berpusat pada Selat Hormuz. Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menambah sumber risiko baru bagi pasar minyak.

Konflik Iran Jadi Penentu

Ketegangan juga meningkat setelah Iran menyatakan teah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Pernyataan tersebut muncul setelah Amerika Serikat menyerang lima kapal tanker Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan akan meningkatkan respons apabila terjadi serangan lanjutan.

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap Pickaxe Mountain, yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya mengalami kerusakan parah.

Baca Juga: Harga Minyak Memanas, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel Kembali

Trump mengatakan perang kemungkinan akan berlangsung hingga melewati pemilu paruh waktu AS pada November.

Ketidakpastian mengenai berakhirnya konflik membuat risiko gangguan pasokan minyak dipandang sebagai ancaman yang lebih permanen.

Analisis S&P Global Energy menyebut pasar minyak kini menghadapi kondisi baru, dengan risiko gangguan pasokan yang bersifat terus-menerus, bukan lagi sekadar kejadian sementara.

China Jadi Faktor Penentu

Di tengah gejolak geopolitik, China menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan apakah reli harga minyak berlanjut.

China dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan pembelian minyak mentah setelah permintaan sempat lesu selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut mulai memperkuat pasar minyak fisik.

Menurut analis ING, apabila pembelian China terus meningkat, dampak gangguan pasokan akan semakin besar dan berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Sebaliknya, penurunan impor China dapat meredam kenaikan harga.

"Kasus bearish selama berbulan-bulan bertumpu pada lemahnya permintaan China," kata David Jorbenaze, global oil market lead di ICIS.

Baca Juga: Harga Minyak Reli, Brent Bertahan di Atas US$ 100 Per Barel: Ini Pemicunya

Dari Amerika Serikat, persediaan minyak mentah juga menunjukkan penurunan. Data Energy Information Administration (EIA) mencatat stok minyak mentah AS turun 391.000 barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan tersebut terjadi ketika aktivitas pengolahan minyak di kilang masih kuat. Namun, penurunan stok tersebut lebih kecil dibandingkan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan mencapai 1,55 juta barel.

Di sisi lain, OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 380.000 barel per hari. Ini menjadi revisi penurunan kelima secara beruntun.

Produksi minyak OPEC juga turun sekitar 640.000 barel per hari pada Agustus, berdasarkan survei Reuters. Penurunan antara lain terjadi karena gangguan ekspor Arab Saudi akibat perang dan blokade AS yang memangkas pengiriman minyak Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Anjlok 5% ke Level Terendah 2 Minggu, WTI ke Bawah US$ 80

Kombinasi meningkatnya risiko gangguan pasokan, penurunan stok AS, serta ketidakpastian konflik membuat pasar minyak kembali menghadapi tekanan dari sisi pasokan. Namun, arah harga selanjutnya tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kekuatan permintaan China.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×