kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Harga Minyak Memanas, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel Kembali


Selasa, 11 Agustus 2026 / 15:53 WIB
Harga Minyak Memanas, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel Kembali
ILUSTRASI. Harga minyak mentah dunia berpotensi melanjutkan penguatan di tengah meningkatnya risiko geopolitik. (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia berpotensi melanjutkan penguatan di tengah meningkatnya risiko geopolitik, terutama terkait ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz.

Melansir Trading Economics pada Selasa (11/8/2026) pukul 15.40 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 84,4 per barel atau meningkat 2,7% secara harian dan 11,2% dalam tujuh hari terakhir.

Sama halnya, minyak mentah Brent juga turut melonjak. Saat ini Brent dihargai US$ 90 per barel, yang mana meningkat 2,6% secara harian dan 13% dalam sepekan.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, mengatakan kenaikan harga minyak saat ini lebih banyak didorong oleh faktor geopolitik dibandingkan perubahan fundamental supply-demand.

“Kenaikan minyak karena pasar semakin tidak yakin Selat Hormuz dapat segera dibuka kembali, padahal jalur tersebut terkait dengan hampir seperlima pasokan energi global,” jelas Brahmantya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Harga Emas Masih Bullish, Cek Level Resistance Berikutnya

Brahmantya menjelaskan, ketidakpastian geopolitik kembali meningkat setelah Iran mengajukan beberapa syarat untuk membuka kembali Hormuz, mulai dari kompensasi kerusakan perang, pencairan aset Iran, pencabutan blokade pelabuhan hingga pelonggaran sanksi.

Donald Trump kemudian menyatakan AS juga menuntut Iran bertanggung jawab atas kerusakan dan korban akibat konflik di kawasan.

“Menurut saya, tarik-menarik tuntutan inilah yang membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke harga minyak. Jadi fundamental pasokan tetap penting, tetapi kenaikan 8%–11% dalam sepekan menurut saya lebih mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap akses pasokan, bukan karena permintaan minyak dunia tiba-tiba melonjak,” imbuhnya.

Harga Minyak Masih Berpeluang Menguat

Untuk jangka pendek, Brahmantya masih melihat harga minyak memiliki bias bullish. Namun, volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring pasar menunggu kepastian mengenai pembukaan Selat Hormuz.

Menurut dia, apabila kondisi tersebut berlanjut, harga Brent dalam jangka pendek masih berpeluang menguji level US$ 90-US$ 95 per barel. Sementara itu, harga WTI berpotensi menuju US$ 85-US$ 90 per barel.

Meski demikian, kondisi tersebut juga membuat harga minyak rawan mengalami koreksi tajam. Pasar saat ini mencermati perkembangan negosiasi Iran dan Oman mengenai kerangka pengelolaan lalu lintas di sekitar Selat Hormuz.

“Jika ada kesepakatan dan pelayaran mulai kembali normal, sebagian premi geopolitik yang saat ini melekat pada harga minyak bisa hilang dengan cepat,” jelas Bram.

Selain faktor geopolitik, investor juga perlu mencermati perkembangan produksi OPEC+, persediaan minyak Amerika Serikat, kondisi ekonomi global, serta permintaan minyak dari China.

Dengan demikian, menurut Bram, arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan akan ditentukan oleh pertarungan antara tambahan pasokan dengan risiko gangguan distribusi dari Timur Tengah.

Baca Juga: Rupiah Tertekan di Rp 17.861, Ini Ramalan Kurs Jelang Suksesi Gubernur BI

Proyeksi Harga Minyak hingga Akhir 2026

Untuk sisa tahun 2026, Bram memperkirakan harga minyak masih berpotensi bertahan di level tinggi. Dalam skenario dasar, harga Brent diproyeksikan berada di kisaran US$ 95-US$ 110 per barel, sedangkan WTI berada di rentang US$ 90-US$ 100 per barel.

Namun, apabila konflik kembali meningkat dan gangguan terhadap Selat Hormuz berlanjut, harga Brent berpotensi menembus US$ 120 per barel. Dalam skenario yang lebih ekstrem, harga Brent bahkan dapat mencapai US$ 120-US$ 130 per barel.

Bagi investor, Bram menyarankan untuk tidak mengejar harga setelah minyak mengalami kenaikan tajam. Strategi yang lebih tepat adalah melakukan pembelian saat terjadi pelemahan harga atau buy on weakness.

“Profit taking juga tetap penting karena minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Satu kabar mengenai AS-Iran atau Selat Hormuz dapat mengubah arah harga dengan cepat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×