Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah acuan masih reli dengan Brent bertahan di atas US$ 100 per barel. Brent pun dianggap memiliki peluang kenaikan lebih besar dibandingkan West Texas Intermediate (WTI) hingga akhir tahun 2026.
Berdasarkan Bloomberg, Kamis (10/9/2026) pukul 17.05 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 menguat 1,22% ke US$ 102,45 per barel.
Sejalan, harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 menguat 1,75% menjadi US$ 97,74 per barel.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, kenaikan Brent tidak hanya dipengaruhi oleh risiko perang, tetapi juga gangguan pada jalur pengiriman minyak.
Baca Juga: UBS Lepas 3,54 Juta Saham Charoen Pokphand (CPIN) di Harga Rp 3.220 per Saham
“Brent memiliki ruang kenaikan lebih besar karena pasar mulai memasukkan bukan hanya war premium, tetapi juga logistics premium akibat risiko pelayaran, biaya asuransi, dan terbatasnya arus tanker melalui Selat Hormuz,” kata Brahmantya kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).
Risiko pelayaran yang masih tinggi membuat harga Brent berpotensi mendapat tambahan dorongan. Terlebih, arus tanker di jalur utama perdagangan minyak masih belum kembali normal.
Brahmantya memproyeksikan, WTI berada di kisaran US$ 97-US$ 115 per barel hingga akhir tahun. Untuk Brent, proyeksinya lebih tinggi, yakni US$ 110-US$ 125 per barel.
“Target Brent US$ 120-US$ 125 semakin terbuka apabila serangan terhadap tanker berlanjut, arus Hormuz tetap jauh di bawah kondisi normal, atau konflik meluas ke infrastruktur energi dan jalur alternatif seperti Laut Merah,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Berisiko Melemah Jumat (11/9), Pasar Cermati Konflik Timteng dan Inflasi AS
Di sisi lain, kenaikan harga minyak masih bisa berbalik jika ketegangan mulai mereda. Pemulihan arus kapal melalui Selat Hormuz dapat mengurangi premi risiko yang saat ini masuk ke harga minyak.
Jika deeskalasi terjadi lebih cepat, war premium dan logistics premium berpotensi turun dan menekan harga Brent.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














