Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Empat anggota MIND ID yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menggeber ekspansi di tengah tuntutan tingginya setor dividen.
INCO, misalnya, yang menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai hingga US$ 1,1 miliar pada 2027. Nilai tersebut menjadi puncak kebutuhan investasi INCO dalam periode ekspansi Indonesia Growth Project (IGP).
Program tersebut mencakup tiga proyek utama, yakni IGP Morowali, IGP Pomalaa, dan IGP Sorowako. Ketiganya mengembangkan fasilitas pertambangan dan pengolahan nikel, termasuk teknologi HPAL yang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP).
Direktur Vale Indonesia Rizky Andhika Putra menjelaskan, kebutuhan capex yang besar tersebut terutama berkaitan dengan pembangunan smelter baru berbasis High-Pressure Acid Leach (HPAL) serta pengembangan tambang.
Baca Juga: Astra International (ASII) Yakin Kinerja Pulih di Semester II-2026, Ini Pendorongnya
“Dan nanti pada puncaknya di 2027, yang akan paling besar dalam masa ekspansi, itu akan mencapai hingga US$ 1,1 miliar yang tidak terdapat investasi yang cukup besar pada smelter-smelter baru kami yaitu HPAL,” katanya dalam konferensi pers, Kamis (10/9/2026).
Rizky menyebut, kebutuhan capex INCO pada 2026 diperkirakan mencapai hampir US$ 700 juta. Belanja tersebut mencakup pengembangan tambang, pembangunan fasilitas HPAL serta sustaining capex untuk menopang kegiatan operasional perseroan.
Setelah mencapai puncak pada 2027, kebutuhan capex INCO diperkirakan masih cukup besar pada 2028. Rizky memproyeksikan belanja modal sekitar US$ 800 juta pada tahun tersebut, terutama untuk investasi pada proyek HPAL Sorowako.
Rizky bilang, fokus utama INCO saat ini adalah memastikan proyek-proyek pertumbuhan dapat diselesaikan sesuai target. Pasalnya, INCO sedang memasuki periode ekspansi yang membutuhkan belanja modal besar.
Menurutnya, apabila terdapat ruang untuk membagikan dividen, Rizki mengindikasikan distribusi lebih diarahkan melalui dividen tunai. Namun Rizky belum memberikan kepastian mengenai besaran maupun keputusan pembagian dividen untuk tahun buku 2026.
“Jika didapatkan efisiensi nantinya dalam kategori spending capex maupun dari sisi operasional ada update, misalkan performa mendapatkan harga yang baik, tentunya itu dapat dilakukan secara berkala dan akan kami distribusikan lebih ke dividen final,” kata Rizki.
Setali tiga uang, ANTM atau yang dikenal dengan Antam mengalokasikan capex sekitar Rp 6 triliun di sepanjang 2026 untuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dan bisnis emas.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira bilang alokasi modal menjadi salah satu fokus utama ANTM untuk menjaga pertumbuhan. Investasi pun akan dilakukan secara bertahap.
“Setiap investasi, kami selalu evaluasi berdasarkan berbagai indikator mulai cash flow hingga value creation serta pertumbuhan tidak hanya mengejar skala, tapi juga mengejar return yang sehat bagi pemegang saham,” tuturnya.
Untuk bisnis emas, ANTM tengah mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 30 ton emas per tahun atau hingga lima juta keping produk dengan kadar 99,99%.
Proyek manufaktur logam mulia Gresik saat ini berada dalam tahap pra-konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028. Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar domestik.
Sementara itu, pada bisnis nikel, ANTM terus mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. Salah satu proyek utamanya adalah pengembangan high pressure acid leach (HPAL) di Buli, Halmahera Timur.
Selain HPAL, ANTM mengembangkan proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di Buli dengan kepemilikan 40%. Proyek tersebut mencakup delapan lini RKEF dan kawasan industri, dengan kapasitas sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.
Nilai investasi proyek RKEF diperkirakan, mencapai US$ 1,4 miliar dan pengembangannya ditargetkan berlangsung hingga 2027. Saat ini, proyek masih berada dalam tahap persiapan sebelum masuk konstruksi penuh.
Di sisi lain, PTBA sedang merintis untuk melebarkan sumber pertumbuhan melalui bisnis hilirisasi batubara, energi terbarukan, dan sejumlah bisnis turunan. Bahkan, PTBA mengincar kenaikan kontribusi dari bisnis non-batubara dan hilirisasi.
Baca Juga: Pesanan Jumbo Bisa Dongkrak Penjualan SR025 Tenor 5 Tahun
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto bilang, pihaknya menargetkan bisnis non-batubara dan produk turunan batubara dapat menyumbang sekitar 20% terhadap total pendapatan dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
“Dalam tiga, empat tahun ke depan segmen non-batubara ini atau turunan dari batubara sudah bisa membuat revenue sekitar 20% dari total revenue,” jelasnya dalam paparannya belum lama ini.
Untuk mengejar target tersebut, PTBA menyiapkan sejumlah proyek hilirisasi, antara lain coal to dimethyl ether (DME), metanol, synthetic natural gas (SNG), kalium humat, serta artificial graphite. PTBA juga mengembangkan bisnis energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Dari empat emiten MIND ID, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menempatkan ANTM sebagai pilihan utama karena kombinasi eksposur emas dan nikel memberikan diversifikasi sumber pertumbuhan.
“Harga emas yang masih tinggi dapat menjadi bantalan kinerja ANTM, sedangkan nikel memberikan opsi pertumbuhan ketika keseimbangan permintaan dan penawaran mengalami perbaikan,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).
Setelah ANTM, Elandry menempatkan TINS sebagai pilihan kedua. Momentum harga timah masih menjadi katalis, terutama dengan prospek permintaan dari industri elektronik dan semikonduktor, meskipun investor perlu mencermati volatilitas.
INCO berada di urutan ketiga karena cerita investasinya lebih cocok untuk investor dengan horizon menengah-panjang. Besarnya ekspansi hilirisasi memberikan peluang pertumbuhan, tetapi eksekusi proyek dan sensitivitas terhadap harga nikel tetap menjadi risiko.
Baca Juga: Rukun Raharja (RAJA) Kembali Bidik IPO Anak Usaha di Tahun Depan
Terakhir ada di PTBA, kata Elandry, perusahaan tambang batubara itu tetap menarik bagi investor yang mengejar arus kas dan dividend yield, tetapi potensi kenaikan struktural batubara lebih terbatas dibandingkan logam.
Lebih lanjut, Elandry merekomendasikan beli atau akumulasi ANTM dengan target di kisaran Rp 4.300–Rp 4.700. Kemudian untuk TINS dia merekomendasikan buy on weakness dengan target di area Rp 4.700–Rp 5.000.
Dia bilang INCO menarik untuk diakumulasi dengan target harga di Rp 6.200–Rp 7.000. Sementara, PTBA dinilai masih layak untuk hold atau buy on weakness bagi investor yang mengejar dividen dengan target di Rp 3.200–Rp 3.400.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














