CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Wall Street Melemah, Inflasi yang Tinggi Meningkatkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga


Kamis, 10 September 2026 / 20:51 WIB
Wall Street Melemah, Inflasi yang Tinggi Meningkatkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
ILUSTRASI. Indeks Utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis (10/9/2026)(REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis (10/9/2026), setelah data harga produsen untuk bulan Agustus meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga bulan ini. Sementara konflik yang memanas di Timur Tengah mendorong harga minyak ke atas US$ 100 per barel.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menembus level US$100 per barel dan terakhir tercatat naik 4,61%.

Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 88,8 poin, atau 0,17% ke level 52.291,85. S&P 500 turun 41,6 poin, atau 0,55% ke level 7.594,74, sementara Nasdaq Composite turun 232,3 poin, atau 0,88% ke level 26.021,052.

Baca Juga: Pesanan Jumbo Bisa Dongkrak Penjualan SR025 Tenor 5 Tahun

Mengonfirmasi tren kenaikan biaya, laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen (PPI) naik 5,4% secara tahunan pada bulan Agustus—sedikit lebih tinggi dari perkiraan 5,3% yang diprediksi oleh para ekonom dalam survei Reuters.

"Solar menjadi pendorong utama inflasi tingkat produsen dan tren ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pendanaan untuk perluasan kapasitas produksi solar," ujar Brian Jacobsen, kepala strategi ekonomi di Annex Wealth Management.

Meskipun laporan PPI biasanya kurang mendapat perhatian dibandingkan Indeks Harga Konsumen (IHK)—yang akan dirilis pada hari Jumat—seluruh indikator ekonomi kini dipantau lebih ketat sejak bank sentral berhenti memberikan panduan mengenai kebijakan moneter.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor dua tahun, yang bergerak seirama dengan ekspektasi suku bunga, melonjak ke angka 4,490%—level tertinggi sejak tahun 2024.

Berdasarkan data alat CME FedWatch, para pelaku pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin pada pekan depan; angka ini naik dari sekitar 64% sebelum laporan hari Kamis dirilis.

"Jika The Fed melakukan kenaikan suku bunga pekan depan, langkah tersebut kemungkinan besar bersifat simbolis—untuk menegaskan independensi dan membangun kredibilitas—bukan dengan harapan bahwa hal itu benar-benar akan mengatasi masalah inflasi," kata Jacobsen.

Pasar saham juga berada di bawah tekanan akibat tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) yang bebas risiko. Departemen Keuangan AS pada hari Rabu menyatakan akan membeli obligasi Treasury berjangka waktu lebih panjang senilai hingga US$6 miliar sebagai upaya menjaga imbal hasil tetap terkendali.

Baca Juga: Obligasi ASEAN Tertekan, SBN Indonesia Masih Tawarkan Imbal Hasil Menarik

Namun, imbal hasil obligasi acuan Treasury AS tenor 10 tahun berada di level 4,901%, angka tertinggi sejak tahun 2023. 

"Ini masih tahap awal. Namun, pasar mungkin sedang memberi sinyal kepada (Menteri Keuangan Scott) Bessent bahwa akan sulit baginya untuk mengendalikan secara signifikan suku bunga jangka panjang," tulis para ahli strategi ING.

Perkembangan di pasar obligasi berdampak pada pasar saham, karena imbal hasil yang lebih tinggi pada obligasi Treasury AS yang bebas risiko dapat membuat saham menjadi relatif kurang menarik.

"Meskipun upaya yang lebih agresif untuk menurunkan imbal hasil mungkin memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar, kenaikan imbal hasil saat ini menunjukkan dampak yang terbatas dan bersifat jangka pendek dari langkah pembelian kembali (buyback) tersebut," ujar Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com.

"Pada akhirnya, penurunan imbal hasil jangka panjang yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui perubahan nyata dalam kebijakan makroekonomi: entah pemerintah AS mengurangi belanja atau The Fed menaikkan suku bunga."

Di antara saham-saham yang bergerak signifikan, saham Macy's menunjukkan pergerakan fluktuatif dan terakhir tercatat turun 4% dalam perdagangan pre market. Operator jaringan toserba ini menaikkan perkiraan kinerja tahunannya setelah mencatatkan hasil yang lebih kuat pada jaringan ritel kelas atas miliknya, Bloomingdale's dan Bluemercury.

Saham American Eagle Outfitters turun 14,5% karena perusahaan mempertahankan perkiraan penjualan tahunan yang sebanding (comparable sales) dan menyatakan bahwa margin kotor pada kuartal berjalan kemungkinan tidak akan berubah dibandingkan tahun sebelumnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×