CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Investor Asing Bidik Surat Utang Indonesia Berbekal Yield Tinggi


Kamis, 10 September 2026 / 18:46 WIB
Investor Asing Bidik Surat Utang Indonesia Berbekal Yield Tinggi
ILUSTRASI. Indonesia masih menjadi salah satu pasar obligasi yang menarik bagi investor asing di tengah dinamika pasar surat utang Asia Tenggara. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia masih menjadi salah satu pasar obligasi yang menarik bagi investor asing di tengah dinamika pasar surat utang Asia Tenggara.

Imbal hasil (yield) yang relatif tinggi menjadi daya tarik utama, meski aliran dana asing tetap dibayangi sentimen global dan domestik.

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan posisi Indonesia dalam menarik dana asing memiliki dinamika yang cukup unik. Di satu sisi, Indonesia menawarkan yield nominal yang relatif paling tinggi dibandingkan mayoritas negara besar ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Saat ini, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,1%. Level tersebut membuat Indonesia menjadi pilihan bagi investor institusional yang mengejar imbal hasil lebih tinggi.

Baca Juga: Edwin Soeryadjaya Gelontorkan Rp 2,73 Miliar Buat Borong Saham Saratoga (SRTG)

“Pasar obligasi Malaysia dan Thailand cenderung lebih stabil dan defensif terhadap gejolak mata uang, tetapi mereka menawarkan yield yang jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. Investor institusional yang mengejar high yield biasanya melirik Indonesia, sementara Thailand dan Malaysia lebih sering menjadi tempat berlindung saat pasar sangat volatile,” jelas Rahma kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).

Tak hanya itu saja, keunggulan kompetitif Indonesia terletak pada yield spread yang relatif tebal. Ketika investor global menilai imbal hasil di pasar maju belum cukup untuk mengompensasi risiko inflasi global, pasar domestik Indonesia menjadi lebih menarik.

Lebih lanjut, selain mengejar yield, investor global juga melakukan diversifikasi portofolio lintas negara. Ketika investor memperkirakan siklus pengetatan The Federal Reserve (The Fed) mendekati akhir dan dolar AS berpotensi melemah dalam jangka menengah, mereka dapat mulai masuk lebih awal ke pasar negara berkembang dengan yield tinggi.

Rahma menambahkan, bagi manajer investasi besar seperti Aberdeen Investments atau dana pensiun global, Indonesia memiliki bobot yang signifikan dalam indeks obligasi global (EM local currency bond index).

“Mereka wajib melakukan rebalancing dan mempertahankan porsi kepemilikan tertentu di Indonesia selama asesmen risiko fiskal dan makroekonomi domestik dinilai masih dalam batas terkendali,” lanjutnya.

Baca Juga: Pefindo Pangkas Rating PTPP, Pemegang Obligasi Rp 618 Miliar Tolak Restrukturisasi

Meski demikian, ketatnya likuiditas global membuat aliran modal asing ke SBN Indonesia masih berfluktuasi. Kondisi lesunya lelang obligasi regional tidak terlepas dari dinamika pasar SBN di Indonesia.

Lelang Surat Utang Negara (SUN) 1 September 2026, pemerintah menyerap Rp 34 triliun. Namun, total penawaran yang masuk hanya sekitar Rp 65,97 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya. Ada pun yield SUN tenor 10 tahun saat ini ada di level 7,1% atau turun 1,03% sepekan.

Dalam kondisi tersebut, instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kerap menjadi alternatif bagi investor asing untuk menempatkan dana dalam jangka pendek.

Menurut Rahma, jika fase ini dipandang sebagai momentum bagi investor asing untuk masuk (entry point), ada beberapa variabel krusial yang wajib dicermati oleh pelaku pasar, sekaligus gambaran mengenai proyeksi pergerakan yield ke depan.

Dia pun membeberkan hal-hal yang perlu dicermati oleh investor obligasi. Bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum pelemahan pasar ini, fokus perhatian tidak boleh hanya pada besaran kupon, melainkan pada indikator-indikator risiko seperti stabilitas dan pergerakan nilai Tukar Rupiah (USD/IDR).

Bagi investor asing, risiko mata uang adalah faktor penentu terbesar. Penguatan atau pelemahan rupiah secara langsung menggerus atau menambah total return dalam denominasi dolar. Stabilitas rupiah sangat bergantung pada intervensi Bank Indonesia melalui instrumen seperti SRBI/SVBI, serta suplai valas dari sektor komoditas.

Baca Juga: Kerajaan Energi RAJA dan RATU Makin Besar, Begini Prospek Sahamnya

Dinamika kebijakan BI Rate dan The Fed karena investor harus memantau arah kebijakan moneter lanjutan. Lalu kesehatan anggaran negara (APBN) terutama rasio defisit terhadap PDB serta realisasi target pembiayaan utang menjadi sorotan utama pasar.

“Jika pemerintah harus menerbitkan SBN dalam volume besar untuk menambal kebutuhan fiskal di tengah pasar yang tipis, hal ini bisa memberi tekanan tambahan (supply pressure) pada kenaikan yield,” imbuhnya.

Tak ketinggalan, harga minyak mentah seperti Brent dan eskalasi geopolitik juga sensitif terhadap inflasi domestik Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×