kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Fed Rate Naik, Cek Prospek IHSG Hingga Akhir Tahun dan Saham Rekomendasi Analis


Jumat, 18 September 2026 / 05:15 WIB
Fed Rate Naik, Cek Prospek IHSG Hingga Akhir Tahun dan Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Kenaikan Fed Rate menekan rupiah, yield AS dan aliran dana asing, sehingga IHSG berpotensi bergerak lebih terbatas hingga akhir 2026. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) menambah tantangan bagi pasar saham Indonesia. 

Kenaikan yield US Treasury, tekanan terhadap rupiah dan potensi tertahannya aliran dana asing menjadi risiko utama yang dapat membatasi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026.

Head Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai kenaikan Fed Rate, terlebih jika masih diikuti peluang kenaikan lanjutan, akan menjadi tekanan bagi IHSG.

"Fed hike 25 bps dan peluang kenaikan lanjutan masih menjadi tekanan untuk IHSG," ujar Liza dalam wawancara tertulis bersama Kontan.

Baca Juga: Foreign Inflow Mulai Masuk, Bagaimana Prospek IHSG hingga Akhir 2026?

Menurut dia, tekanan terutama akan terasa jika yield US Treasury 10 tahun (US10Y) kembali menembus 5%, rupiah melemah dan arus dana asing berubah menjadi negatif.

Kondisi tersebut dapat membuat investor semakin selektif terhadap aset pasar negara berkembang, termasuk saham Indonesia.

Situasi ini membuat Liza lebih konservatif terhadap target IHSG 2026. Target sebelumnya di kisaran 7.250-7.700 belum langsung diubah, tetapi ia melihat level 7.000 hingga 7.200 lebih realistis untuk dicapai pada akhir tahun selama tekanan eksternal tetap terkendali.

"Dengan kondisi sekarang saya lebih konservatif, asal bisa tutup di kepala 7, up to 7.200," katanya.

Sementara itu, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama memperkirakan IHSG akhir 2026 berada di kisaran 6.700-6.900, dengan rentang pergerakan 6.250-6.900.

Menurut Elandry, kenaikan Fed Rate dapat mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat sehingga daya tarik aset negara berkembang berpotensi berkurang.

Baca Juga: IHSG Rawan Koreksi pada Rabu (16/9), Cermati Saham Rekomendasi Analis

Meski begitu, dampaknya terhadap IHSG tidak selalu berupa koreksi berkepanjangan karena sebagian sentimen sudah dapat tercermin dalam harga saham.

"Foreign flow berpotensi tetap fluktuatif dan selektif," ujarnya.

Rotasi ke saham berkualitas

Tekanan suku bunga tinggi juga berpotensi memicu rotasi sektor. Emiten properti, konstruksi, otomotif, consumer discretionary dan perusahaan dengan utang besar menghadapi risiko kenaikan biaya pendanaan.

Sebaliknya, saham dengan neraca kuat, arus kas berulang dan utang terkendali dinilai lebih defensif. Bank besar, consumer staples, telekomunikasi, energi dan komoditas menjadi sektor yang mendapat perhatian.

Namun, kinerja bank tetap bergantung pada biaya dana, pertumbuhan kredit, likuiditas dan kualitas aset. Bank dengan CASA tinggi dan kualitas kredit yang baik dinilai memiliki daya tahan lebih baik dalam kondisi suku bunga tinggi.

Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi, Cermati Saham Pilihan Analis untuk Jumat (11/9)

Liza menempatkan sektor bank, telekomunikasi, consumer, energi dan infrastruktur dalam positioning investasinya.

Bagi investor, arah IHSG hingga akhir 2026 akan sangat bergantung pada tiga indikator utama, yakni pergerakan US10Y, rupiah dan foreign flow.

Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga disertai kenaikan yield global dan pelemahan rupiah, ruang penguatan IHSG berpotensi semakin terbatas.

Dalam kondisi tersebut, Liza menekankan pentingnya memilih emiten dengan neraca sehat, laba nyata dan valuasi yang masuk akal.

"Di era suku bunga tinggi saya lebih pilih quality first," kata Liza.

Baca Juga: Prospek Saham BRMS Masih Cukup Menarik Hingga Akhir Tahun

Adapun saham pilihan Liza adalah ANTM dengan target Rp 4.800, KLBF Rp970, BBNI Rp4.100, BBRI Rp3.600 dan JSMR Rp3.850.

Elandry merekomendasikan saham BBCA dengan target Rp7.000-Rp7.300, TLKM Rp3.500-Rp3.700, ICBP Rp11.500-Rp12.000 dan ANTM Rp3.400-Rp3.600.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×