Penulis: Bimo Adi Kresnomurti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Intip profil emiten MBMA yang segera buyback saham jumbo. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) kembali menyiapkan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham.
Emiten yang bergerak dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik ini mengalokasikan dana maksimal Rp1,383 triliun untuk membeli kembali saham perseroan di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.
Rencana tersebut menjadi salah satu aksi korporasi MBMA yang berlangsung setelah perseroan sebelumnya juga melakukan program buyback pada 2026.
Baca Juga: ASII Siap Buyback Saham Rp8 Triliun: Intip Profil Emiten hingga Kinerja Terbarunya
MBMA Siapkan Buyback Rp1,38 Triliun
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, MBMA berencana membeli kembali sebanyak-banyaknya 1,465 miliar saham. Dana yang disiapkan mencapai Rp1,383 triliun dan sudah mencakup biaya perantara pedagang efek serta biaya transaksi lainnya.
Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mulai 17 September hingga 16 Desember 2026.
Pembelian dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
| Rincian buyback MBMA | Keterangan |
|---|---|
| Dana maksimal | Rp1,383 triliun |
| Saham maksimal | 1,465 miliar saham |
| Periode | 17 September–16 Desember 2026 |
| Pelaksanaan | Melalui BEI |
| Metode | Bertahap atau sekaligus |
Manajemen menjelaskan bahwa buyback dilakukan dalam kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan.
Pelaksanaan aksi korporasi tersebut dapat berakhir lebih cepat apabila jumlah saham yang ditentukan telah tercapai, dana yang dialokasikan telah digunakan, atau perseroan memutuskan untuk menghentikan program tersebut.
Baca Juga: ALDO Berencana Buyback Saham Rp10 Miliar, Periksa Profil Emiten Manufaktur Ini
Lini Bisnis MBMA
MBMA menjalankan bisnis yang terintegrasi dalam rantai pasok nikel dan bahan baku baterai kendaraan listrik. Kegiatan usaha perseroan mencakup pertambangan bijih nikel, pengolahan dan pemurnian nikel, hingga pengembangan fasilitas bahan baku baterai.
Salah satu aset utama MBMA adalah Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Tambang ini menghasilkan bijih nikel jenis saprolit dan limonit yang kemudian dapat digunakan untuk memasok fasilitas pengolahan perseroan.
Di sisi hilir, MBMA memiliki fasilitas pengolahan berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) yang menghasilkan produk nikel, termasuk nickel pig iron (NPI) dan produk terkait.
Perseroan juga mengembangkan fasilitas high pressure acid leach (HPAL) untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), salah satu bahan antara dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Selain itu, perseroan memiliki fasilitas pengolahan asam melalui PT Acid Iron Metal (AIM). Pada kuartal II 2026, fasilitas tersebut memproduksi 258.060 ton asam sulfat dan mencatat penjualan 383.177 ton.
Baca Juga: Saham GIAA Melesat, Intip Profil Emiten hingga Kinerja Keuangan Terbarunya
MBMA juga melanjutkan pengembangan proyek HPAL melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Fasilitas tersebut memiliki kapasitas yang dirancang mencapai 90.000 ton nikel per tahun.
Hingga kuartal II 2026, pembangunan proyek HPAL tersebut telah memasuki tahap penyelesaian substansial. Perseroan menargetkan produksi perdana MHP dimulai pada semester II 2026, kemudian kapasitas produksi ditingkatkan secara bertahap.
Pengembangan fasilitas HPAL menjadi bagian dari strategi MBMA untuk memperluas bisnis dari pertambangan dan pengolahan nikel menuju rantai pasok material baterai kendaraan listrik.
Baca Juga: Laba GOTO Rp607,5 Miliar Semester I-2026, Intip Profil Emiten hingga Data Keuangan
Kinerja Operasional MBMA Semester I 2026
Dari sisi operasional, peningkatan produksi bijih menjadi salah satu penopang kinerja MBMA pada 2026. Pada kuartal II 2026, produksi bijih saprolit dari tambang SCM mencapai 2,9 juta wet metric tonnes (wmt), meningkat 130% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi bijih limonit pada periode yang sama mencapai 4,7 juta wmt atau meningkat 87% secara tahunan. Kenaikan produksi tersebut juga diikuti peningkatan margin tunai pada kedua jenis bijih.
| Kinerja operasional Q2 2026 | Volume/angka |
|---|---|
| Produksi saprolit | 2,9 juta wmt |
| Produksi limonit | 4,7 juta wmt |
| Produksi NPI dan LGNM | 19.505 ton nikel |
| Produksi asam sulfat | 258.060 ton |
| Penjualan asam sulfat | 383.177 ton |
Pada segmen pengolahan, produksi NPI termasuk low-grade nickel matte mencapai 19.505 ton nikel pada kuartal II 2026. Jumlah tersebut meningkat 16% dibandingkan 16.748 ton pada kuartal II 2025.
Baca Juga: Raup Laba Rp1,2 T Semester I-2026, Intip Profil Emiten dan Data Keuangan Terbaru MAPI
Kinerja Keuangan MBMA
Melansir data BEI, MBMA telah mempublikasikan laporan keuangan konsolidasian kuartal I 2026. Laporan tersebut menunjukkan pendapatan Rp7,67 triliun, meningkat 26,3% dibandingkan Rp6,07 triliun pada kuartal I 2025.
Laba kotor mencapai Rp2,10 triliun, sedangkan EBITDA tercatat Rp2,41 triliun. Pada periode yang sama, MBMA membukukan laba bersih Rp504,6 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp57,3 miliar pada kuartal I 2025.
| Kinerja keuangan | Q1 2026 | Q1 2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp7,67 triliun | Rp6,07 triliun |
| Laba kotor | Rp2,10 triliun | Rp313,1 miliar |
| EBITDA | Rp2,41 triliun | Rp515,4 miliar |
| Laba bersih | Rp504,6 miliar | -Rp57,3 miliar |
Pada akhir kuartal I 2026, MBMA mencatat kas sekitar Rp5,94 triliun. Total aset perseroan mencapai Rp67,44 triliun, sedangkan total ekuitas tercatat Rp41,48 triliun. Utang jangka pendek berada di sekitar Rp6,52 triliun dan utang jangka panjang Rp12,36 triliun.
Tonton: Kejagung Sita 38 Aset Senilai Rp846 Miliar dalam Kasus Febrie Adriansyah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














