CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Foreign Inflow Mulai Masuk, Bagaimana Prospek IHSG hingga Akhir 2026?


Minggu, 13 September 2026 / 17:01 WIB
Foreign Inflow Mulai Masuk, Bagaimana Prospek IHSG hingga Akhir 2026?
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil dalam sepekan ke depan. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil dalam sepekan ke depan. Pelaku pasar akan mencermati arus dana asing, keputusan bank sentral global, hingga perkembangan harga komoditas yang berpotensi mempengaruhi sentimen pasar saham.

Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus pengamat pasar modal Budi Frensidy melihat IHSG masih cenderung konsolidatif di kisaran 6.400–6.700. Pada perdagangan terakhir, IHSG ditutup di level 6.541 setelah turun 1,43% dalam sepekan.

Menurut Budi, fokus utama pasar pekan ini adalah keputusan The Fed pada 15-16 September. Perhatian investor juga tertuju pada imbal hasil US Treasury yang masih tinggi serta kenaikan harga minyak.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas pada Senin (14/9), Investor Cermati FOMC

Di tengah kondisi tersebut, arus dana asing mulai kembali masuk ke sejumlah saham. Namun, Budi menilai aliran dana asing tersebut belum menunjukkan pola pembelian secara luas.

Foreign inflow bisa menjadi katalis kuat jika berlangsung konsisten karena asing biasanya masuk ke saham-saham big caps dan likuid,” kata Budi kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).

Ia melihat investor asing saat ini masih melakukan rotasi sehingga belum dapat disebut sebagai broad-based buying. Pada perdagangan terakhir, asing masih mencatatkan pembelian bersih pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), meski secara keseluruhan pasar masih mencatatkan net sell.

Budi menilai sejumlah sektor masih menarik dicermati, terutama perbankan, telekomunikasi, serta metal dan pertambangan. Menurut dia, saham berkapitalisasi besar dan likuid berpotensi menjadi pilihan ketika arus dana asing kembali menguat.

Sementara itu, maraknya aksi korporasi berupa rights issue dinilai tidak serta-merta menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Budi mengatakan dampaknya lebih banyak bersifat spesifik terhadap masing-masing saham.

Rights issue dapat menjadi katalis positif apabila dana yang dihimpun digunakan untuk ekspansi produktif dan mampu meningkatkan laba. Sebaliknya, sentimen negatif dapat muncul apabila dana hasil rights issue lebih banyak digunakan untuk menutup utang atau menimbulkan dilusi besar tanpa prospek peningkatan laba yang jelas.

Baca Juga: Pefindo Pertahankan Rating idAAA Obligasi Pollux Hotels Rp500 Miliar

“Hingga akhir Juli, nilai rights issue di BEI telah mencapai sekitar Rp 15,8 triliun,” ujar Budi.

Karena itu, investor disarankan tidak hanya melihat besarnya dana yang dihimpun emiten. Penggunaan dana, harga pelaksanaan rights issue, tingkat dilusi, serta komitmen pemegang saham pengendali menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project William Hartanto juga melihat peluang technical rebound pada IHSG. Ia menyebut level 6.454 sebagai support dan 6.600 sebagai resistance.

Menurut William, dampak rights issue terhadap pasar akan bervariasi. Aksi tersebut dapat mendapat respons positif apabila terjadi pada saham-saham yang menjadi movers dan diikuti kenaikan harga, tetapi tidak seluruh rights issue akan langsung mendapat respons positif dari pasar.

Selain faktor domestik, pergerakan harga komoditas juga menjadi perhatian. Kenaikan harga komoditas dapat menjadi katalis bagi saham-saham tambang, terutama karena sejumlah emiten pertambangan memiliki kapitalisasi pasar besar sehingga berpotensi menopang pergerakan IHSG.

Dari sisi risiko domestik, pasar juga akan mencermati rencana aksi demonstrasi Hari Tani pada 24 September. Budi menilai dampaknya terhadap IHSG kemungkinan terbatas dan temporer selama aksi berlangsung kondusif.

“Pasar biasanya tidak terlalu bereaksi terhadap demonstrasi satu hari,” jelasnya.

Namun, risiko terhadap pasar dapat meningkat apabila aksi meluas, berlangsung berkepanjangan, atau memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas politik dan kebijakan ekonomi.

Di pasar global, pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee mengatakan investor masih menghadapi sejumlah sentimen yang dapat mempengaruhi pasar saham, mulai dari inflasi Amerika Serikat, tingginya imbal hasil Treasury, harga minyak, hingga arah kebijakan bank sentral global.

Menurut Hans, kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi Indonesia karena posisi sebagai importir neto minyak dapat memberikan tekanan terhadap ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi. Kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor dan menekan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Hans mencatat rupiah telah mengalami pemulihan dari level terendahnya di sekitar 18.200 per dolar AS. Imbal hasil obligasi juga menurun dan arus masuk ekuitas asing telah kembali dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk IHSG, Hans memperkirakan indeks masih berpeluang bergerak konsolidatif dengan support di level 6.450–6.375 dan resistance di 6.712–6.800.

Dari sisi sektoral, kenaikan harga minyak berpotensi menjadi katalis bagi sektor energi. Hans melihat emiten produsen dan jasa pendukung minyak dan gas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dapat memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga jual rata-rata minyak global.

Kenaikan harga minyak juga dapat memberikan efek substitusi terhadap energi lain. Harga batubara berpotensi ikut terdorong sehingga memberikan sentimen positif bagi emiten seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Budi sendiri memperkirakan IHSG dalam skenario dasar masih berpeluang menuju level 6.800–7.200 hingga akhir 2026. Dalam skenario bullish, IHSG bahkan berpotensi mencapai sekitar 7.400 apabila arus dana asing kembali kuat, rupiah stabil, yield global turun, dan kinerja laba emiten membaik.

Sektor yang menjadi pilihan Budi hingga akhir tahun adalah perbankan, telekomunikasi, consumer, serta metal dan mining. Sementara itu, William memproyeksikan IHSG berada di sekitar 7.200 pada akhir 2026 dengan sektor energi, CPO, dan perbankan sebagai pilihan.

Menurut Budi, tiga faktor utama yang perlu diperhatikan investor hingga akhir tahun adalah pergerakan dana asing, nilai tukar rupiah, serta arah suku bunga global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×