CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Agenda FOMC Jadi Sorotan, Cermati Arah Pergerakan IHSG ke Depan


Minggu, 13 September 2026 / 19:42 WIB
Agenda FOMC Jadi Sorotan, Cermati Arah Pergerakan IHSG ke Depan
ILUSTRASI. Meski berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek, analis optimistis IHSG mampu mencapai level 7.000 hingga akhir tahun 2026 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September waktu Amerika Serikat mendatang menjadi salah satu sorotan utama pelaku pasar dalam negeri.

Perhatian pasar tertuju pada agenda tersebut lantaran keputusan arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserves (The Fed), kerap memberikan dampak signifikan terhadap arus modal global, tak terkecuali pasar saham domestik.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mengatakan setidaknya ada sejumlah sentimen global yang tengah bergulir dan berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, seperti harga minyak dunia yang kembali naik seiring memanasnya kembali situasi konflik di Iran.

Menurut Teguh, pola yang biasa terjadi ketika ketegangan di Iran memanas termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz, Presiden AS Donald Trump kerap turun tangan dengan menyatakan tercapainya kesepakatan damai sehingga eskalasi serangan urung terjadi.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Volatil Pekan Depan, Ada Agenda FOMC dan Rebalancing FTSE

Namun kali ini, perhatian Trump dinilai lebih tertuju pada agenda midterm election yang akan berlangsung sekitar November mendatang, sehingga ia belum memberikan komentar ataupun upaya mediasi terkait konflik tersebut.

"Artinya, pada titik ini harga minyak ini kayaknya sudah lepas, enggak akan ditahan-tahan lagi, bisa naik tinggi banget," kata Teguh, kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).

Di samping harga minyak, Teguh juga menyoroti data inflasi AS terakhir yang berada di atas atau setara dengan perkiraan analis sebelumnya. Kombinasi antara kenaikan harga minyak dan data inflasi tersebut mengarah pada satu kesimpulan yaitu kemungkinan besar The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya.

Kondisi ini berpotensi membuat pasar saham AS tertekan, atau setidaknya menahan laju penguatannya lebih lanjut. Imbasnya bisa merembet ke Indonesia, jika suku bunga AS naik, nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 17.500 dan cenderung menguat, berpotensi kembali melemah.

Teguh menilai, jika rupiah kembali melemah di tengah posisi IHSG yang sudah cukup tinggi dari titik terendahnya pada Juni lalu, ada kemungkinan indeks mengalami koreksi kecil dalam jangka pendek. Ia menegaskan koreksi tersebut tidak akan berlangsung hingga beberapa bulan atau sampai akhir tahun.

Ia mencontohkan pola pergerakan pasar pada era pandemi Covid-19. Setelah market crash pada Maret-April 2020, IHSG sempat menguat selama empat bulan berturut-turut sebelum mengalami koreksi kecil pada September, lalu kembali menguat hingga akhir tahun.

Pola serupa berpotensi terulang saat ini. Setelah anjlok pada Juni lalu, IHSG belum mengalami koreksi berarti hingga sempat menembus level 6.700 sebelum kembali turun dalam dua hari terakhir. 

Dari posisi terendah 5.300, kenaikan indeks sudah mencapai lebih dari 1.400 poin, sebuah kenaikan yang menurutnya wajar apabila kemudian diikuti koreksi hingga mendekati level 6.000–6.200.

"Bahan sentimennya untuk koreksi itu sudah ada, yaitu dari luar negeri," ucap Teguh. 

Ia menambahkan, sentimen negatif dari dalam negeri biasanya turut menyusul, misalnya potensi kenaikan harga BBM maupun persoalan penanganan kebakaran hutan.

Meski berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek, Teguh tetap optimistis IHSG mampu mencapai level 7.000 hingga akhir tahun 2026, bahkan berpeluang menyentuh 7.200. 

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas pada Senin (14/9), Investor Cermati FOMC

Menurutnya, dari posisi 5.300 ke 6.700 saja kenaikan indeks sudah lebih dari 1.000 poin, sehingga jarak menuju 7.000 relatif tidak jauh dan waktu tiga bulan tersisa dinilai lebih dari cukup.

Ia memperkirakan pola pergerakannya berupa koreksi terlebih dahulu ke level 6.200 atau 6.000, sebelum kembali menguat menuju 7.000.

Sebab, sentimen seperti FOMC dinilai hanya bersifat sementara, sementara faktor yang lebih berpengaruh dalam jangka panjang adalah kinerja emiten, pertumbuhan ekonomi, dan data inflasi dalam negeri yang sejauh ini masih terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×