Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (18/9/2026) diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga minyak dunia serta respons investor terhadap keputusan kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Kamis (17/9/2026), IHSG ditutup menguat 25,58 poin atau 0,40% ke level 6.462,43. Penguatan indeks terutama ditopang sektor consumer cyclicals yang naik 1,63%. Sementara itu, sektor health care mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 0,55%.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Jumat.
"Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level 6.400 dan indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold," ujar Alrich dalam risetnya, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan kondisi tersebut, Alrich memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.400-6.550 pada perdagangan Jumat.
Baca Juga: Gagal Bayar Kupon, Rating Adhi Karya (ADHI) Dipangkas Pefindo Jadi Selective Default
Menurut Alrich, salah satu sentimen positif yang dapat menopang pergerakan pasar saham berasal dari berlanjutnya koreksi harga minyak Brent yang kembali berada di bawah US$104 per barel.
Penurunan harga minyak tersebut terjadi setelah muncul pemberitaan bahwa Arab Saudi berencana memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa pengiriman minyaknya dalam beberapa hari. Kapasitas operasional penuh pipa tersebut ditargetkan dapat kembali dalam waktu sekitar enam pekan.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah masih menjadi perhatian investor. Rupiah melemah 0,33% ke level Rp17.753 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Kamis.
Senada dengan Alrich, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan IHSG masih memiliki potensi untuk menguat pada perdagangan Jumat.
"Rentang 6.400-6.510," kata Nico saat memberikan proyeksi perdagangan IHSG.
Nico menilai sejumlah sektor masih berpotensi menjadi perhatian investor. Beberapa di antaranya adalah sektor energi, basic industrial, properti, serta transportasi dan logistik.
Baca Juga: Penawaran SR025 Berakhir, Dana Dihimpun Tembus Rp 29,77 Triliun dari 93.548 Investor
Sentimen The Fed dan Harga Minyak
Dari pasar global, investor mencermati respons pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai dengan ekspektasi. Bank sentral Amerika Serikat tersebut juga mengisyaratkan masih terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Pergerakan harga minyak yang lebih rendah turut memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Namun, investor tetap perlu memperhatikan potensi risiko inflasi yang bersumber dari kenaikan harga energi.
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati arah kebijakan Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara. Komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas anggaran menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor.
Selain itu, investor mulai meningkatkan kewaspadaan menjelang rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) yang akan digelar pada pekan depan.
Untuk strategi sektoral, Nico menyebut sektor energi, basic industrial, properti, serta transportasi dan logistik sebagai sektor yang dapat dicermati investor dalam perdagangan saham Jumat (18/9/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














