Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi berkonsolidasi di tengah dinamika tekanan sentimen eksternal dan keberadaan benteng penyangga ekonomi domestik.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (24/7/2026), rupiah spot ditutup menguat di level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah di posisi Rp 17.973 per dolar AS.
Sejumlah katalis global dan upaya penstabilan domestik diperkirakan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Garuda pada awal pekan.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada Jumat (24/7) terutama digerakkan oleh tarik-menarik antara tekanan global dan penyangga domestik.
Baca Juga: Rupiah Berisiko Melemah Lagi, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah dan The Fed
Dolar AS tetap kuat dengan indeks DXY di sekitar 101,4 seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara lonjakan harga minyak menuju US$ 100 per barel menekan mata uang negara pengimpor energi.
Eskalasi konflik Timur Tengah serta kebijakan tarif baru Amerika Serikat turut memperburuk sentimen risiko terhadap aset negara berkembang.
Tekanan tersebut sempat membuat mata uang Garuda melemah sebelum akhirnya membaik seiring hadirnya intervensi dan bauran kebijakan Bank Indonesia (BI).
Syafruddin menilai dukungan kuat hadir dari keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF, serta daya tarik imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Pelemahan rupiah hari ini lebih mencerminkan tekanan dolar, minyak, dan sentimen risk-off global daripada perubahan tajam pada fundamental domestik," kata Syafruddin kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).
Memasuki perdagangan Senin (27/7), diprediksi arah pergerakan rupiah dipengaruhi oleh lima sentimen utama di pasar keuangan.
Pertama, respons pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 29 Juli mendatang.
Kedua, dinamika harga minyak Brent di kisaran US$ 100 per barel berisiko memperbesar beban devisa impor serta inflasi.
Faktor ketiga berkaitan dengan dampak kebijakan tarif baru AS terhadap arus modal safe haven.
Keempat, prospek arus modal asing pada instrumen SRBI, SBN, dan saham. Kelima, tingkat efektivitas intervensi berkelanjutan BI di pasar valas.
Syafruddin menyebutkan bahwa posisi rupiah berpeluang bertahan di bawah level psikologis Rp 18.000 per dolar AS jika pasokan valas domestik tetap terjaga.
"Rupiah berpeluang bertahan di bawah 18.000 jika dukungan BI dan arus masuk portofolio mampu mengimbangi penguatan dolar," ujar Syafruddin.
Baca Juga: Rupiah Terancam Menuju Rp 19.000, Harga Minyak dan The Fed Jadi Tekanan Utama
Untuk proyeksi perdagangan Senin (27/7/2026), Syafruddin memperkirakan nilai tukar USD/IDR berada di kisaran realistis Rp 17.870–Rp 18.000 per dolar AS.
Model estimasi tidak menemukan momentum arah yang dominan, sehingga pergerakan harga berpotensi masuk ke fase konsolidasi.
Namun, batas Rp 18.000 tetap rawan teruji apabila harga minyak dan yield obligasi AS kembali melonjak tinggi.
"Rentang risiko yang lebih lebar berada pada 17.835–18.035, terutama karena perdagangan Senin membawa risiko gap setelah akhir pekan," tutup Syafruddin.
Baca Juga: Prospek Valas Asia & Rupiah, Hadapi Risiko Harga Minyak Serta Sikap The Fed
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














