kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Rupiah Terancam Menuju Rp 19.000, Harga Minyak dan The Fed Jadi Tekanan Utama


Jumat, 24 Juli 2026 / 19:21 WIB
Rupiah Terancam Menuju Rp 19.000, Harga Minyak dan The Fed Jadi Tekanan Utama
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia hingga mendekati US$ 92 per barel kian memperberat langkah mata uang di kawasan Asia.

Tekanan tersebut kian membengkak akibat menguatnya spekulasi pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed) di tengah lonjakan inflasi global.

Alhasil, jajaran valuta asing Asia kompak keok di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data Trading Economics per Jumat (24/7/2026), Yen Jepang (USD/JPY) terdepresiasi ke level 163,78 per dolar AS, sementara Peso Filipina (USD/PHP) terperosok ke area 61,82 per dolar AS.

Baca Juga: Prospek Valas Asia & Rupiah, Hadapi Risiko Harga Minyak Serta Sikap The Fed

Di pasar domestik, data Bloomberg mencatat mata uang Garuda berada di level Rp 17.963 per dolar AS.

Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menetapkan rupiah di posisi Rp 17.973 per dolar AS.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai rupiah masih menghadapi tekanan yang cukup besar meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan serta menyiapkan instrumen DHE SDA.

Brahmantya menjelaskan bahwa eskalasi konflik AS-Iran yang mengerek harga minyak menjadi penekan utama kebutuhan impor energi negara-negara Asia.

"Kedua, penguatan dolar AS sebagai petrodollar, karena hampir seluruh transaksi minyak dunia masih menggunakan USD sehingga permintaan dolar ikut meningkat," ujar Brahmantya kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).

Faktor ketiga adalah ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan pasar mulai membuka peluang kenaikan suku bunga pada semester II-2026 jika inflasi naik.

Menurut Brahmantya, lonjakan harga minyak ini memberikan dampak cukup signifikan dalam menguras cadangan devisa dan memicu inflasi impor (imported inflation) bagi negara net-importir minyak seperti Indonesia, Jepang, Filipina, dan India.

Biaya energi yang membengkak otomatis mendongkrak tarif transportasi, logistik, hingga biaya produksi manufaktur.

Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memaksa bank sentral di Asia mengambil langkah bertahan dengan menaikkan suku bunga acuan.

Baca Juga: IHSG Anjlok Tiga Hari Beruntun, Ini Saham Rekomendasi Analis dan Proyeksi Pekan Depan

"Dalam kondisi seperti itu, The Fed berpotensi mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga, dan langkah tersebut bisa menjadi pemicu bagi bank sentral lain, termasuk di Asia, untuk mengikuti agar stabilitas nilai tukar dan arus modal tetap terjaga," kata Brahmantya.

Di tengah gempuran ketidakpastian global, Yuan Tiongkok (CNY) dan Dolar Singapura (SGD) dinilai relatif lebih tangguh dibanding mata uang Asia lainnya.

Brahmantya menyebut pergerakan Yuan lebih stabil karena dikelola secara aktif oleh People's Bank of China (PBOC), sedangkan SGD disokong oleh surplus transaksi berjalan dan kebijakan moneter MAS yang berfokus pada stabilitas nilai tukar.

Sebaliknya, mata uang yang bergantung pada impor energi cenderung menghadapi tekanan paling dalam.

Memasuki kuartal III-2026, ruang penguatan mata uang Asia diproyeksikan masih sangat terbatas selama harga minyak dan dolar AS bertahan di level tinggi.

Brahmantya memproyeksikan pergerakan kurs USD/IDR akan berada di kisaran Rp 18.500–Rp 19.000 per dolar AS, sementara USD/JPY diperkirakan bergerak pada rentang 165–170 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×