Reporter: Herlina KD | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Jumat (21/8/2026) pagi, dengan mayoritas indeks melemah. Pukul 08.50 WIB, indeks Nikkei 225 turun 560,29 poin atau 0,86% ke 65.645,m56, Hang Seng naik 201 poin atau 0,77% ke 25.893,71, Taiex naik 33,89 poin atau 0,08% ke 44.978,70, Kospi naik 46,18 poin atau 0,59% ke 6.893,60, ASX 200 turun 14,15 poin atau 0,16% ke 9.069,60, Straits Times naik 5,79 poin atau 0,11% ke 5.679,08 dan FTSE Malaysia turun 1,14 poin atau 0,07% ke 1.735,55.
Mengutip Reuters, Jumat (21/8/2026), sebagian besar indeks saham Asia bersiap mencatat penurunan mingguan karena tekanan di pasar obligasi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara kebuntuan diplomatik di kawasan Teluk mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam satu bulan dan terus menyoroti risiko inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) kembali naik setelah intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan pada hari Rabu hanya memberikan jeda sesaat dari aksi jual.
Baca Juga: Resmi Dirilis! Pemerintah Tawarkan SR025 dengan Kupon Tetap 6,80% dan 6,90%
Kenaikan ini terjadi meskipun Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah dan melontarkan gagasan konsolidasi fiskal.
Para analis meragukan kemampuannya menemukan langkah pemangkasan belanja yang cukup signifikan untuk menekan defisit anggaran yang melampaui 6% dari produk domestik bruto (PDB), mengingat beban bunga saja tahun ini mencapai US$ 1,2 triliun.
"Secara historis, pasar cenderung melawan ketika mereka yakin faktor-faktor fundamental—seperti rekor tingkat utang dan defisit yang sangat besar—berpihak pada mereka, dan intervensi lebih lanjut bisa menjadi terlalu mahal untuk ditanggung," ujar Steven Zeng, seorang ahli strategi di Deutsche Bank.
"Ada juga potensi risiko terhadap kredibilitas institusional Departemen Keuangan jika pendekatan 'aktivis'-nya mengikis kepercayaan dan manfaat yang telah dibangun selama bertahun-tahun melalui kepatuhan pada kerangka kerja yang teratur dan dapat diprediksi," tambahnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap di Level Rp 2.725.000 Per Gram, Jumat (21/8)
Investor menunjukkan keraguan mereka dengan mendorong kembali imbal hasil obligasi tenor 30 tahun ke level 5,25%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun mencapai 4,71%.
Pasar berasumsi bahwa level 5,30% kini menjadi ambang batas tekanan bagi Departemen Keuangan, mirip dengan level 160,00 yen bagi para pembuat kebijakan Jepang.
Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan biaya utang secara global—tepat saat perusahaan-perusahaan raksasa teknologi meminjam dana dalam jumlah besar untuk membiayai belanja modal (capex) AI—sekaligus meningkatkan tingkat diskonto terhadap laba perusahaan dan menantang valuasi saham.
Tekanan ini terlihat jelas pada indeks Nikkei yang turun 0,8%, menjadikan total penurunan mingguan sejauh ini mencapai 4,4%. Pasar saham Korea Selatan dan Taiwan sempat menguat tipis, namun tetap mencatatkan penurunan secara mingguan.
Indeks MSCI yang mencakup saham-saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,5%.
Data menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang meningkat pada bulan Juli seiring langkah perusahaan membebankan kenaikan biaya impor kepada konsumen; hal ini memperkuat argumen bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga pada bulan September.
Namun, pasar sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin menjadi 1,25%, dan sebenarnya mengharapkan adanya komitmen dari para pembuat kebijakan untuk melakukan pengetatan yang lebih cepat dan agresif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














