kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Waspada! Meski Harga Turun, Gangguan Jalur Logistik Bisa Genjot Minyak ke US$ 140


Senin, 26 Oktober 2026 / 17:59 WIB
Waspada! Meski Harga Turun, Gangguan Jalur Logistik Bisa Genjot Minyak ke US$ 140
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Christian Hartmann)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingginya ancaman terhadap jalur pelayaran strategis akibat eskalasi geopolitik menyuntikkan premi risiko besar yang memicu volatilitas ekstrem pada pasar energi global.

Mengutip Bloomberg pada Senin (26/10/2026) hingga pukul 17.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di level US$ 101,10 per barel dengan pelemahan harian sebesar 2,1%, sementara minyak mentah Brent bertengger di US$ 115,01 per barel atau terkoreksi 1,47%.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menjelaskan, pergerakan harga emas hitam hingga penghujung tahun tidak hanya disetir oleh potensi penurunan kapasitas produksi, tetapi juga sangat bergantung pada seberapa luas dan lamanya gangguan yang menimpa jalur distribusi utama.

Baca Juga: Reksadana USD Bisa Tambah Cuan, Waspadai Risiko Pembalikan Arah Dolar AS

Pelaku pasar saat ini tengah mengalkulasi ulang berbagai beban tambahan, mulai dari lonjakan biaya pengiriman, melambungnya premi asuransi kapal tanker, hingga faktor keamanan di titik-titik krusial seperti Selat Hormuz.

"Selama konflik belum mereda, pasar kemungkinan tetap memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak," terang Nanang kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Menghadapi ketidakpastian tersebut, tren pergerakan WTI dan Brent diproyeksikan tidak akan berjalan secara linear.

Setiap eskalasi kinetis yang menyasar fasilitas produksi atau pelabuhan ekspor dapat memicu lonjakan harga yang spontan, namun sebaliknya, kabar deeskalasi yang tak terduga akan langsung memantik aksi ambil untung dan memicu koreksi tajam dalam waktu singkat.

Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk memantau respons agresif negara-negara konsumen dalam melepas cadangan minyak strategisnya guna menahan laju harga, serta memperhatikan persediaan global yang menjadi bantalan utama pasokan.

"Risiko terbesar bagi investor bukan hanya kemungkinan harga naik lebih tinggi, melainkan volatilitas yang sangat besar," jelas Nanang.

Mengukur besarnya ketidakpastian di jalur logistik dan geopolitik, Nanang memetakan tiga skenario indikatif untuk rentang proyeksi pergerakan minyak hingga akhir 2026.

Pada skenario dasar, di mana eskalasi tidak memburuk dan arus distribusi berangsur pulih, Brent diproyeksikan berada di rentang US$ 100–US$ 120 per barel dan WTI di kisaran US$ 90–US$ 110 per barel.

Baca Juga: Reksadana USD Beda Nasib, Efek Luar Negeri Cuan, Saham Domestik Tertekan

Apabila terjadi skenario bullish akibat terhambatnya jalur tanker maritim, harga Brent bisa meroket tajam ke level US$ 120–US$ 140 per barel dengan WTI mengekor ke US$ 110–US$ 130 per barel.

Sebaliknya, untuk skenario bearish seiring munculnya kesepakatan damai dan pemulihan pasokan yang lebih cepat, harga Brent diprediksi merosot ke US$ 85–US$ 100 per barel, dan WTI tertekan ke rentang US$ 75–US$ 90 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×