Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi prospek pasar energi global menjelang akhir 2026.
Ancaman konflik militer antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak, sehingga harga minyak mentah dan batubara berpeluang bertahan di level tinggi.
Melansir Trading Economics pada Kamis (22/10/2026) pukul 17.05 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 99,7 per barel, naik 8% dalam sebulan terakhir. Sementara itu, harga minyak mentah Brent melonjak 8,88% dalam periode yang sama menjadi US$ 111,7 per barel.
Harga batubara juga menguat 3,5% dalam sebulan terakhir menjadi US$ 150,5 per ton. Sebaliknya, harga gas alam melemah 8,6% menjadi US$ 2,7 per MMBtu.
Baca Juga: Sentimen Global dan Isu MSCI Tekan Rupiah, Simak Proyeksinya Jumat (23/10)
Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan pengerahan tambahan kekuatan militer AS ke Timur Tengah, ancaman serangan terhadap fasilitas energi, serta meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan premi risiko di pasar energi.
"Secara umum, tren kenaikan harga energi fosil cair dan padat masih memiliki peluang besar untuk berlanjut (bullish continuation) akibat dominasi premi risiko perang, sementara gas alam mengalami dinamika pasokan yang terpisah," jelas Wahyu kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).
Wahyu memperkirakan harga minyak mentah Brent berpotensi bergerak dalam kisaran US$ 90-US$ 120 per barel hingga akhir 2026. Adapun harga WTI diproyeksikan berada di rentang US$ 85-US$ 115 per barel.
Potensi kenaikan harga minyak akan semakin besar apabila konflik berkembang menjadi bentrokan militer langsung yang mengganggu produksi maupun distribusi energi global.
Serangan terhadap fasilitas minyak Shaybah milik Saudi Aramco, misalnya, menambah kekhawatiran pasar mengenai keamanan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Menurut Wahyu, sentimen geopolitik saat ini lebih dominan dalam menentukan pergerakan harga energi jangka pendek dibandingkan faktor permintaan global. Ancaman gangguan pasokan juga mendorong negara-negara importir, terutama di Asia, untuk mengamankan kebutuhan energi guna mengantisipasi kemungkinan kelangkaan.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Berakhir, Investor Lebih Minati Tenor 2 Tahun
Meski demikian, kenaikan harga minyak tetap menghadapi risiko koreksi. Harga energi yang terlalu tinggi berpotensi menekan konsumsi bahan bakar industri, terutama di China dan negara-negara berkembang.
"Namun, dalam jangka pendek, kepanikan defisit pasokan fisik mengesampingkan kekhawatiran pelemahan permintaan tersebut," imbuhnya.
Harga Batubara Berpeluang Menguat hingga US$ 165 per Ton
Selain minyak mentah, Wahyu menilai batubara masih memiliki prospek penguatan hingga akhir 2026. Harga batubara acuan Newcastle diperkirakan bergerak dalam kisaran US$ 145-US$ 165 per ton.
Prospek tersebut ditopang kebutuhan untuk mengamankan pasokan energi menjelang musim dingin di Asia Timur dan Eropa. Kenaikan harga minyak juga berpotensi mendorong tambahan permintaan batubara sebagai sumber energi alternatif bagi sejumlah sektor industri dan pembangkit listrik.
Bagi investor di pasar saham domestik, pergerakan harga batubara menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam menilai prospek kinerja emiten pertambangan. Namun, dampaknya terhadap masing-masing perusahaan tetap bergantung pada biaya produksi, volume penjualan, dan realisasi harga jual batubara.
Harga Gas Alam Berbeda Arah, Pasokan AS Jadi Penekan
Berbeda dengan minyak mentah dan batubara, prospek harga gas alam dinilai masih menghadapi tekanan pasokan. Wahyu memperkirakan harga gas alam di pasar Amerika Serikat berpotensi bergerak konsolidatif dalam kisaran US$ 2-US$ 4 per MMBtu hingga akhir 2026.
Tekanan harga antara lain berasal dari melimpahnya pasokan gas di AS seiring tingginya produksi gas serpih atau shale gas. Selain itu, kesiapan penyimpanan gas di Eropa menjelang musim dingin turut berpotensi membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Menguat, Analis Proyeksikan Tren Bullish Berlanjut
Meski begitu, harga gas alam masih berpeluang berbalik menguat apabila konflik Timur Tengah mengganggu ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari kawasan Teluk Persia.
Peningkatan permintaan untuk kebutuhan pemanas apabila cuaca lebih dingin dari perkiraan juga dapat menjadi katalis positif bagi harga gas alam.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Komoditas Energi
Dari sisi investasi, Wahyu menilai minyak mentah Brent menarik untuk dicermati oleh pelaku perdagangan derivatif karena sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan gangguan distribusi energi global.
Sementara itu, batubara dapat menjadi salah satu komoditas yang diperhatikan investor saham domestik melalui prospek kinerja emiten pertambangan.
Kendati demikian, ketidakpastian geopolitik yang tinggi juga berpotensi meningkatkan volatilitas harga komoditas energi. Perkembangan diplomasi, keputusan produksi negara-negara produsen, kondisi permintaan global, serta pergerakan nilai tukar dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














