Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Teluk Persia berpotensi mengganggu likuiditas pasokan minyak mentah dunia di tengah ketatnya respons para produsen utama.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,43% ke level US$ 86,439 per barel, sementara jenis Brent melonjak 2,48% ke level US$ 93,894 per barel.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai pergerakan pasar saat ini mulai bertransisi dari sekadar kepanikan psikologis murni menuju kekhawatiran atas berkurangnya volume komoditas secara riil.
Baca Juga: Prospek Saham Properti Aguan di Tengah Buyback Saham CBDK, Menarik Dicermati
Deklarasi ketat dari Amerika Serikat terhadap rantai logistik dan kapal tanker penyokong ekspor Iran mengancam hilangnya pasokan fisik Teheran sekitar 0,8 hingga 1,2 juta barel per hari dari pasar global.
Ancaman gangguan distribusi tersebut diperparah oleh keterbatasan fleksibilitas dari negara produsen utama dalam menambah pasokan secara instan.
Produsen shale oil di AS tertahan oleh kedisiplinan modal dan jeda waktu pengeboran sekitar 4–6 bulan, sedangkan aliansi OPEC+ bersikap sangat berhati-hati dan memilih memprioritaskan stabilitas harga dibandingkan dengan membanjiri pasar.
"OPEC+ (terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab) memegang kartu kunci dengan kapasitas cadangan sekitar 3–4 juta barel per hari. Namun, Riyadh dan Abu Dhabi cenderung bersikap sangat hati-hati dan tidak akan terburu-buru membuka keran produksi secara drastis hanya untuk meredam retorika politik AS, kecuali gangguan fisik riil di Selat Hormuz benar-benar terjadi dan pembeli global mengalami krisis pasokan," ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).
Selain isu geopolitik, pergerakan harga komoditas energi hingga penutupan tahun ini bakal diwarnai dinamika suku bunga bank sentral global, kekuatan indeks dolar AS, serta tingkat kepatuhan kilang-kilang independen di Asia terhadap sanksi sekunder.
Di sisi lain, kebijakan diplomasi transaksional AS juga membuka peluang aksi ambil untung cepat apabila terjadi deeskalasi mendadak.
Menurut Wahyu, dalam jangka pendek hingga menengah, grafik pergerakan harga minyak sedang berada pada fase pemulihan momentum beli pasca-koreksi tajam pertengahan tahun, dengan level resistansi psikologis terdekat di US$ 90 untuk WTI dan US$ 95–98 untuk Brent.
"Secara keseluruhan, hingga akhir 2026 harga minyak mentah diperkirakan akan bergerak konsolidasi korektif, di mana faktor premi risiko geopolitik Iran dan disiplin pasokan aliansi OPEC+ masih menjadi jangkar utama penahan harga dari penurunan atau anjlok signifikan," kata Wahyu.
Dalam skenario normal atau moderat hingga penutupan tahun 2026, harga WTI diproyeksikan bergerak dalam rentang US$ 55,00–US$ 90,00 per barel dan Brent berada di kisaran US$ 60,00–US$ 95,00 per barel.
Namun, jika eskalasi militer dan penutupan jalur maritim di Timur Tengah benar-benar terjadi, WTI berpotensi melesat ke rentang US$ 95,00–US$ 105,00 per barel, sementara Brent dapat menguji kisaran US$ 100,00–US$ 112,00 per barel.
Baca Juga: Habco Trans (HATM) Gelar Private Placement 868 Juta Saham, Cermati Tujuannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














