Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak mixed pada pembukaan perdagangan Selasa (8/9/2026).
Investor mencermati kembali risiko inflasi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam lebih dari enam pekan.
Melansir Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 303,8 poin atau 0,57% ke 53.110,45 pada pembukaan. Sementara itu, S&P 500 turun tipis 0,8 poin atau 0,01% ke 7.717,81.
Sebaliknya, Nasdaq Composite menguat 21,6 poin atau 0,08% ke 26.528,571.
Baca Juga: Bunga KPR Murah Mulai 2,75% Tak Dongkrak Properti, Expo Danantara Cuma Raih Rp 2 T
Pergerakan pasar berlangsung setelah volatilitas meningkat dalam beberapa sesi terakhir.
Investor menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed) setelah pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller serta data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Fokus investor kini beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data producer price index (PPI) dijadwalkan terbit Kamis, sedangkan consumer price index (CPI) akan dirilis Jumat.
Sejumlah investor menilai data inflasi akan semakin menentukan arah kebijakan The Fed, terutama setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan pentingnya menekan inflasi.
"Ini masih menjadi sesuatu yang sulit diprediksi. Warsh tidak semudah itu dibaca dibandingkan pendahulunya, Jerome Powell," kata Michael Matousek, head trader U.S. Global Investors.
Menurut dia, potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut juga dapat menjaga volatilitas pasar saham.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini mencapai 60,6%.
Baca Juga: Bencana Alam Jadi Katalis Jangka Pendek Bagi Emiten Kesehatan, Simak Prospek Sahamnya
Harga Minyak Jadi Perhatian
Risiko perang kembali menjadi perhatian utama investor setelah konflik AS-Iran memasuki bulan ketujuh dan ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat.
Kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi dan sejumlah kota di Arab Saudi pada Selasa.
Sementara itu, Israel melancarkan serangan terhadap sebuah kota di Lebanon selatan pada Senin pagi.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz juga melambat setelah Iran mengancam akan melakukan pembalasan jika kembali mendapat serangan dari AS.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent naik 1,64% menjadi US$98,59 per barel. Harga tersebut merupakan level tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Kenaikan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, terutama jika gangguan pasokan energi global berlangsung lebih lama.
"Reli harga minyak membuat gambaran inflasi menjadi semakin keruh," kata Kyle Rodda, senior financial market analyst di Capital.com.
Menurut Rodda, aktivitas militer mempertahankan premi risiko yang signifikan di pasar energi karena meningkatnya kemungkinan gangguan pasokan global yang lebih dalam dan berkepanjangan.
Baca Juga: Musim Dividen Interim Dimulai, Saham Mana yang Menarik Dikoleksi?
Saham Energi Menguat, Saham Kripto Tertekan
Kenaikan harga minyak turut menopang saham sektor energi. Dalam perdagangan awal, saham Marathon Petroleum naik 1,78%, sedangkan Occidental Petroleum menguat 2,02%.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat saham menjadi relatif kurang menarik bagi investor karena instrumen Treasury menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko lebih rendah.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik 0,42 basis poin menjadi 4,7882%.
Sementara itu, saham terkait aset kripto melemah setelah harga Bitcoin kembali turun dari level US$80.000. Saham Coinbase terkoreksi 1,57%, sedangkan Strategy turun 2,92%.
Berbeda dengan saham kripto, saham perusahaan semikonduktor bergerak positif seiring optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (AI). Saham Intel melonjak 4,54%, sementara Nvidia naik 0,51%.
"Sejarah menunjukkan bahwa spekulasi yang meningkat dan kekhawatiran mengenai valuasi berlebih dapat berlangsung cukup lama tanpa diikuti koreksi," tulis Ben May, director of global macro research Oxford Economics.
Baca Juga: Sektor Properti Hadapi Tantangan Kondisi Ekonomi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














