Penulis: Bimo Adi Kresnomurti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Simak profil TOBA yang masuk ke dalam Green Equity Transition. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menjadi sorotan pasar modal setelah ditetapkan sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh predikat Saham Transisi Hijau dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melansir laman BEI, penetapan tersebut efektif sejak 28 Agustus 2026 bersamaan dengan peluncuran perdana IDX Green Equity Designation.
TOBA menjadi satu-satunya emiten yang masuk kategori transisi pada peluncuran tersebut.
Baca Juga: ASII Siap Buyback Saham Rp8 Triliun: Intip Profil Emiten hingga Kinerja Terbarunya
Status tersebut menarik karena TOBA bukan perusahaan yang sejak awal hanya bergerak di sektor energi terbarukan.
Perseroan memiliki sejarah kuat di bisnis batu bara, tetapi dalam beberapa tahun terakhir secara bertahap mengalihkan modal dan ekspansi menuju bisnis rendah karbon.
Saat ini, TBS mengembangkan tiga bisnis utama yang berkaitan dengan transformasi berkelanjutan, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik, sembari melakukan pengurangan ketergantungan terhadap bisnis batu bara.
Baca Juga: Saham GIAA Melesat, Intip Profil Emiten hingga Kinerja Keuangan Terbarunya
TOBA Jadi Saham Transisi Hijau Pertama BEI
Predikat Green Equity Transition diberikan melalui kerangka IDX Green Equity Designation. Kategori transisi ditujukan bagi perusahaan tercatat yang bisnisnya secara terukur sedang bergerak menuju ekonomi rendah karbon.
Dalam penilaiannya, BEI melihat antara lain kontribusi finansial, keselarasan dengan taksonomi, tata kelola, penilaian berkala, serta keterbukaan informasi.
Penetapan juga menggunakan proses reviu independen sehingga investor mendapatkan gambaran yang lebih terukur mengenai perkembangan transformasi perusahaan.
Kini, saham TOBA tercatat alami pelemahan sepekan Rp575/saham atau turun 5,74% (data per sesi 1 hari Selasa, 8 September 2026).
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek perofil dari saham TOBA dan kinerja terbarunya.
Baca Juga: Raffi Ahmad dan Nagita Caplok 61,85% Saham VISI, Intip Profil Emiten dan Kinerjanya
Lini Bisnis TBS Energi Utama (TOBA)
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) saat ini menjalankan transformasi dari perusahaan berbasis batu bara menuju perusahaan infrastruktur berkelanjutan.
Perseroan mengembangkan tiga pilar bisnis utama, yaitu pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, sembari mengelola bisnis batu bara yang masih tersisa selama masa transisi.
1. Pengelolaan Limbah
Pengelolaan limbah menjadi salah satu bisnis utama TOBA dan saat ini menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan.
Bisnis ini mencakup pengelolaan limbah medis, limbah berbahaya, dan limbah domestik di Indonesia dan Singapura. TOBA menjalankan bisnis tersebut melalui sejumlah entitas, termasuk Asia Medical Enviro Services (AMES) dan PT ARAH Environmental Indonesia.
Pada kuartal I 2026, bisnis pengelolaan limbah menyumbang sekitar 60% pendapatan konsolidasi dan 93% adjusted EBITDA TOBA. Pendapatannya mencapai US$51,9 juta, meningkat 447,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
2. Energi Terbarukan
Pilar kedua adalah energi terbarukan. TOBA mengembangkan portofolio pembangkit energi bersih, termasuk tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga mini-hidro.
Perusahaan juga mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung serta proyek energi terbarukan lainnya. Bisnis ini menjadi bagian dari strategi TOBA untuk meningkatkan kontribusi energi rendah karbon sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bisnis energi fosil.
Baca Juga: BUVA Right Issue Rp1,54 Triliun, Intip Profil Emiten Properti dan Real Estate Ini
3. Kendaraan Listrik
TOBA juga masuk ke sektor mobilitas listrik melalui Electrum, perusahaan yang dikembangkan untuk membangun ekosistem kendaraan listrik roda dua.
Bisnis ini mencakup pengembangan dan produksi sepeda motor listrik serta infrastruktur pendukung seperti ekosistem baterai. Electrum menjadi bagian dari strategi TOBA untuk mengambil peluang dari pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.
4. Bisnis Batu Bara sebagai Bisnis Transisi
Meskipun fokus perusahaan telah bergeser ke bisnis berkelanjutan, TOBA masih memiliki bisnis batu bara sebagai bagian dari portofolio transisinya.
Perusahaan menyatakan sedang mengelola sisa operasi batu bara secara bertanggung jawab selama proses transformasi. Dengan demikian, batu bara saat ini lebih tepat dilihat sebagai legacy business yang secara bertahap akan dikurangi, sementara modal dan arus kasnya diarahkan untuk mengembangkan bisnis hijau.
Baca Juga: Dividen MPMX Rp170 per Saham Siap Cair: Intip Profil Emiten Konsumer Otomotif Ini
Manajemen Terbaru TOBA
1. Direksi
| Nama | Posisi | Terafiliasi |
|---|---|---|
| Dicky Yordan | Direktur Utama | Ya |
| Alvin Firman Sunanda | Direktur | Ya |
| Juli Oktarina | Direktur | Ya |
| Mufti Utomo | Direktur | Ya |
| Sudharmono Saragih | Direktur | Ya |
2. Dewan Komisaris
| Nama | Posisi | Independen |
|---|---|---|
| Dr. Ahmad Fuad Rahmany | Komisaris Utama | Ya |
| Yasmin S. Wirjawan | Komisaris | Ya |
| Kang Tzu Ping (Frances Kang) | Komisaris | Ya |
| Judy Lee | Komisaris | Ya |
Baca Juga: Raup Laba Rp1,2 T Semester I-2026, Intip Profil Emiten dan Data Keuangan Terbaru MAPI
Kinerja TOBA 2026
Merangkum data BEI, TOBA membukukan rugi bersih pada 6 bulan pertama 2026 sebesar Rp337,9 miliar, membaik dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat rugi bersih sebesar Rp1,88 triliun.
Dengan demikian, rugi bersih per saham TOBA setara dengan Rp40,62 per lembar. Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan TOBA pada 6M26 mencapai Rp2,97 triliun, naik 6,4% secara tahunan dibandingkan Rp2,80 triliun pada 6M25.
Laba bruto tercatat Rp485,4 miliar, meningkat 115% dari Rp225,8 miliar, sementara EBITDA turun 85,5% menjadi Rp34,3 miliar dari sebelumnya Rp235,9 miliar.
Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pendapatan meningkat 104,6% dari Rp1,45 triliun menjadi Rp2,97 triliun, laba bruto naik 177,5% dari Rp174,9 miliar menjadi Rp485,4 miliar, dan EBITDA tumbuh 81,5% dari Rp18,9 miliar menjadi Rp34,3 miliar.
Rugi bersih juga meningkat secara kuartalan sebesar 121,3%, dari Rp152,7 miliar menjadi Rp337,9 miliar.
Demikian informasi mengenai profil TOBA yang masuk ke dalam Green Equity Transition.
Tonton: Target Tol Baru 2027 Cuma 13,5 Km, Anggaran Rp3,12 Triliun Disiapkan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














