kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.371   -228,56   -3,46%
  • KOMPAS100 843   -31,00   -3,55%
  • LQ45 635   -16,26   -2,50%
  • ISSI 228   -10,12   -4,25%
  • IDX30 361   -7,63   -2,07%
  • IDXHIDIV20 447   -8,36   -1,83%
  • IDX80 97   -3,13   -3,13%
  • IDXV30 125   -3,42   -2,67%
  • IDXQ30 117   -1,94   -1,63%

Yield Obligasi Melonjak, Wall Street Kembali Tertekan Tiga Hari Berturut-turut


Rabu, 20 Mei 2026 / 04:59 WIB
Yield Obligasi Melonjak, Wall Street Kembali Tertekan Tiga Hari Berturut-turut
ILUSTRASI. Wall Street / Bursa AS (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026), terseret lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan terbesar kembali menghantam saham teknologi, membuat indeks Nasdaq memimpin pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 322,24 poin atau 0,65% ke 49.363,88. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,67% ke 7.353,61 dan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 0,84% ke level 25.870,71.

Sentimen pasar dibebani kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 4,687%, level tertinggi sejak Januari 2025. 

Baca Juga: Wall Street Mixed Senin (18/5), Yield dan Harga Minyak Melemah Redakan Tekanan Pasar

Meski kemudian sedikit melandai ke kisaran 4,66%, kenaikan yield selama tiga hari beruntun memicu kekhawatiran investor bahwa tekanan inflasi masih sulit mereda.

Kondisi itu diperparah harga minyak dunia yang tetap tinggi di atas US$ 110 per barel di tengah ketegangan konflik Iran dan Amerika Serikat. 

Pasar masih mencermati perkembangan diplomasi kedua negara setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sempat menunda serangan militer terhadap Iran menyusul proposal perdamaian dari Teheran. Namun Trump juga menegaskan AS masih mungkin kembali menyerang Iran jika diperlukan.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan kedua pihak tidak menginginkan eskalasi perang kembali terjadi. Meski demikian, pelaku pasar menilai belum ada kepastian yang cukup kuat untuk meredakan ketegangan.

Managing Director Rosenblatt Securities Michael James mengatakan pasar mulai gelisah karena belum ada tanda-tanda gencatan senjata yang benar-benar solid. 

Menurut dia, selama konflik belum mereda, harga minyak dan yield obligasi akan tetap tinggi sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham.

Baca Juga: Bursa Wall Street Memerah di Akhir Perdagangan Tahun 2025

Kenaikan yield juga memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve. Pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga kembali jika inflasi bertahan tinggi.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 41,7%. Bahkan peluang kenaikan 50 basis poin naik menjadi 15,7%, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 4,7% sepekan sebelumnya.

Investor kini menanti risalah rapat terbaru Federal Reserve yang akan dirilis Rabu waktu setempat untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Tekanan terbesar di pasar datang dari sektor teknologi dan layanan komunikasi yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Yield yang lebih tinggi biasanya menekan valuasi saham pertumbuhan karena prospek keuntungan masa depan menjadi kurang menarik.

Indeks sektor material menjadi yang paling tertekan dengan penurunan hampir 2,3%. Sebaliknya, sektor kesehatan yang bersifat defensif justru menguat 1,1%.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Naik Kamis (22/1), Terdorong Pelonggaran Tarif dan Data Positif

Saham-saham perangkat lunak sempat menguat pada awal perdagangan, namun berbalik melemah dan menutup hari dengan penurunan 1,2%. Di sisi lain, indeks semikonduktor Philadelphia bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup nyaris stagnan dengan kenaikan tipis 0,03%.

Pelaku pasar juga mulai bersikap hati-hati menjelang laporan keuangan raksasa chip kecerdasan buatan Nvidia yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu. 

Kinerja Nvidia dinilai akan menjadi indikator penting untuk mengukur seberapa kuat permintaan teknologi AI dan apakah valuasi tinggi sektor semikonduktor masih layak dipertahankan.

Di level saham individual, saham perusahaan layanan cloud Akamai Technologies anjlok 6,3% setelah mengumumkan penawaran obligasi konversi senilai US$ 2,6 miliar.

Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi perdagangan Wall Street. Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang turun melampaui saham naik dengan rasio 2,66 banding 1. Sementara di Nasdaq, saham yang melemah juga jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. 

Baca Juga: Wall Street: Dow Jones Cetak Rekor, Saham Energi Naik Pasca AS Menyerang Venezuela

Volume transaksi di bursa AS mencapai 19,45 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 18,38 miliar saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×