Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim pembagian dividen interim mulai bergulir. Sejumlah emiten telah mengumumkan pembagian dividen tahun buku 2026, dengan perbankan besar menjadi salah satu penggeraknya.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu pelopor dengan rencana tiga kali dividen interim sepanjang 2026. Setelah BBCA, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menyusul membagikan dividen interim.
BBCA telah membagikan dividen interim Rp25 per saham pada Agustus, setelah sebelumnya Rp 20 per saham pada Juni. Total interim yang dibayarkan tahun ini mencapai Rp 45 per saham.
BMRI menetapkan dividen interim Rp 66 per saham atau sekitar Rp 6,16 triliun. Di luar perbankan, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) menyiapkan dividen interim Rp 793,8 miliar atau Rp 30 per saham.
Baca Juga: Harga Semen Indonesia (SMGR) Turun 33% di Tengah Upaya Perbaikan, Simak Prospeknya
Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengatakan ASII konsisten membagikan dividen tunai, dengan besaran mempertimbangkan kondisi keuangan, profitabilitas, serta kebutuhan kas operasional dan investasi.
“Apabila posisi keuangan memungkinkan dan memperoleh persetujuan Dewan Komisaris, manajemen dapat memutuskan pembagian dividen interim sebagai bagian dari dividen tahunan yang akan ditetapkan dalam RUPS Tahunan berikutnya,” katanya kepada Kontan, Selasa (8/9).
Terkait dividen interim tahun buku 2026, kata Tira, ASII menyatakan belum ada keputusan yang dapat disampaikan. Waktu dan besaran pembagian akan mempertimbangkan berbagai faktor serta ketentuan berlaku.
Berbeda dengan ASII, PT United Tractors Tbk (UNTR) memberikan sinyal lebih jelas untuk tahun buku 2026. Sekretaris Perusahaan United Tractors Ari Setiyawan, bilang kebijakan pembagian dividen akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Perdagangan ETF Emas Mulai Menggeliat, Investor Ritel Jadi Penggerak
“Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, UNTR selalu memberikan dividen interim dan final,” jelasnya saat dihubungi.
Namun, konsistensi tersebut datang ketika kinerja UNTR menghadapi tekanan. Per Juni 2026, laba bersih UNTR merosot 88,2% secara tahunan atau Year on Year (YoY) menjadi Rp 956,28 miliar.
Emiten Potensial
Head of Research KISI Muhammad Wafi menyebut musim dividen interim memang sudah dimulai. Secara historis, puncaknya biasanya berlangsung Agustus-Oktober setelah laporan semester pertama memberikan visibilitas arus kas.
“Secara historis, puncak musim dividen interim di Indonesia biasanya Agustus-Oktober, karena ini periode pasca laporan keuangan semester I dirilis dan emiten sudah punya visibility cukup terhadap cash flow generation,” katanya.
Wafi melihat peluang dividen interim tahun ini lebih besar, terutama pada emiten tambang emas dan perkebunan sawit. Namun, penguatan laba tidak otomatis membuat seluruh emiten menaikkan pembagian dividen.
Dia menyebut BBCA dan BMRI memiliki rekam jejak distribusi yang kuat. Sementara ANTM menarik karena permintaan Logam Mulia, MDKA didukung ramp-up Pani, dan INDF memiliki karakter defensif.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menambah musim dividen interim tahun ini sudah ramai lebih awal. Namun, secara historis, puncak pembagian biasanya terjadi Oktober-November setelah laporan sembilan bulan.
Baca Juga: IPO Lesu, Kiwoom Sekuritas Andalkan Obligasi dan Bisnis Advisory
“Musim dividen interim sudah mulai ramai lebih awal, tetapi secara historis puncaknya biasanya terjadi pada Oktober-November setelah emiten merilis kinerja 9M, dengan pembayaran banyak jatuh pada November-Desember,” jelasnya.
Liza melihat potensi menarik dari sektor CPO, terutama TAPG, LSIP, DSNG dan AALI, karena laba semester pertama tumbuh ditopang harga CPO kuat dan implementasi B50.
Di sektor emas, ruang pembagian dividen juga terbuka seiring kenaikan laba dan arus kas. Namun, Liza menyarankan selektivitas karena kebutuhan belanja modal pertambangan relatif lebih tinggi.
Untuk pilihan akumulasi hingga dividen final, Liza memilih BBCA, BMRI, TAPG, SMSM dan ITMG karena kombinasi visibilitas laba serta rekam jejak distribusi yang kuat. PSAB menjadi pilihan agresif.
“Investor sebaiknya tidak mengejar saham hanya karena dividend yield, karena setelah cum-date harga secara teoritis akan menyesuaikan. Idealnya akumulasi dilakukan bertahap sebelum keramaian Oktober-November,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














