kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.744   36,00   0,20%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

Wall Street Dibuka Melemah, Dibayangi Isu Iran dan Data Inflasi AS


Senin, 24 Agustus 2026 / 20:51 WIB
Wall Street Dibuka Melemah, Dibayangi Isu Iran dan Data Inflasi AS
ILUSTRASI. Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (24/8). (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (24/8/2026). Para investor menimbang janji AS mengenai "D-Day ekonomi" terhadap Iran, sembari menantikan laporan kinerja kuartalan raksasa AI, Nvidia, serta laporan inflasi yang sangat dinanti-nantikan pada pekan ini.

Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 15,1 poin, atau 0,03%, ke level 53.261,95. S&P 500 turun 11,0 poin, atau 0,14%, ke level 7.663,38, sementara Nasdaq Composite turun 115,1 poin, atau 0,44%, ke level 26.065,32.

Perkembangan ini menandai pekan krusial bagi pasar yang dapat menentukan apakah saham mampu melanjutkan kenaikan menuju rekor tertinggi, setelah lonjakan ketegangan di Timur Tengah sempat menghentikan reli pasar.

Baca Juga: Batas Harga Saham akan Dihapus, Saham GOTO Bisa Diuntungkan, Ini Analisisnya?

AS menyatakan dapat menerapkan sanksi ekonomi yang menyasar mitra dagang Iran, dalam langkah yang disebutnya sebagai "serangan finansial terbesar yang pernah ada."

Menteri Keuangan Scott Bessent, yang sebelumnya memperingatkan tentang "D-Day ekonomi" dalam sebuah artikel opini di Financial Times, dijadwalkan akan mengadakan konferensi pers pada sore hari.

Kekhawatiran akan lonjakan harga energi dan membengkaknya utang pemerintah telah mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS pekan lalu; imbal hasil obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun sebelum Departemen Keuangan mengumumkan langkah-langkah dukungan.

Kenaikan imbal hasil tersebut menekan saham-saham teknologi yang berorientasi pada pertumbuhan, sehingga menyebabkan tiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan pekan lalu.

Bessent dapat memanfaatkan Rekening Umum (General Account) Departemen Keuangan yang bernilai hampir US$ 1 triliun untuk mendanai pembelian kembali obligasi, alih-alih menerbitkan surat utang jangka pendek (T-bills), demikian dilaporkan CNBC pada hari Senin dengan mengutip dua pejabat senior Departemen Keuangan. 

Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sedikit menurun namun tetap berada di atas ambang batas 5%.

Gejolak pasar ini meningkatkan perhatian terhadap pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akhir pekan ini; para investor akan mencermati pernyataannya untuk mencari petunjuk mengenai pandangan para pembuat kebijakan terhadap upaya penyelamatan oleh Departemen Keuangan serta data ekonomi terkini.

Baca Juga: Saham GOTO Terancam Turun di Bawah Rp 50, Ini Target Harga Berikutnya

Laporan kinerja kuartalan dari Nvidia, perusahaan paling bernilai di dunia, diperkirakan akan menjadi katalis penting lainnya bagi pasar. Tanda-tanda perlambatan pertumbuhan dapat memicu kembali kekhawatiran mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi dan seberapa jauh reli yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) ini dapat berlanjut.

"Sektor cip telah menjadi area yang mengalami euforia berlebihan (frothy). Saya tidak tahu lagi kabar baik apa yang belum tercermin dalam harga saham saat ini," ujar Marta Norton, kepala strategi investasi di Empower, penyedia layanan pensiun dan fund manager.

"Hal ini tidak serta-merta berarti bahwa fundamental perusahaan sedang terganggu. Anda bisa saja memiliki perusahaan yang hebat, namun hal itu tidak selalu menjadikannya investasi yang menarik pada waktu tertentu."

Perdagangan saham perusahaan berkapitalisasi pasar sangat besar (megacap) beragam menjelang pembukaan pasar pada hari Senin. Sementara Apple dan Amazon.com masing-masing mencatat kenaikan kurang dari satu persen, Alphabet justru turun 0,3%.

Sebagian besar produsen cip juga mengalami penurunan. Saham Marvell Technology dan Micron Technology masing-masing turun lebih dari 3%, sedangkan saham Sandisk melemah 5,4%.

Saham Alibaba yang tercatat di bursa AS turun 2,4% setelah raksasa e-commerce asal China tersebut meluncurkan penjualan saham senilai US$ 10,2 miliar untuk mendanai ambisi AI-nya.

Pasar juga akan mencermati laporan Personal Consumption Expenditure (PCE)—indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed—yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu, untuk melihat tanda-tanda apakah konflik Iran berdampak pada kondisi ekonomi yang lebih luas.

Berdasarkan data LSEG, para pelaku pasar telah memperhitungkan sepenuhnya kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun 2026. Namun, laporan inflasi yang moderat awal bulan ini telah menurunkan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×