kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.658   1,00   0,01%
  • IDX 6.686   66,77   1,01%
  • KOMPAS100 877   10,98   1,27%
  • LQ45 666   9,17   1,40%
  • ISSI 233   2,34   1,01%
  • IDX30 372   4,41   1,20%
  • IDXHIDIV20 459   4,13   0,91%
  • IDX80 100   1,30   1,32%
  • IDXV30 127   1,31   1,04%
  • IDXQ30 119   1,06   0,90%

Sektor Properti Hadapi Tantangan Kondisi Ekonomi


Selasa, 08 September 2026 / 19:23 WIB
Sektor Properti Hadapi Tantangan Kondisi Ekonomi
ILUSTRASI. Minat masyarakat untuk membeli properti dinilai masih belum cukup kuat meski pengembang dan perbankan telah menawarkan beragam insentif pembiayaan (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Minat masyarakat untuk membeli properti dinilai masih belum cukup kuat meski pengembang dan perbankan telah menawarkan beragam insentif pembiayaan. Kondisi tersebut tercermin dari realisasi transaksi dalam expo perumahan yang digelar Danantara pada akhir Agustus 2026 yang jauh di bawah target.

Expo perumahan yang berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2 Jakarta tersebut diikuti sekitar 130 pengembang, lembaga keuangan, dan perusahaan yang bergerak di sektor perumahan.

Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dan Aurelia Barus mencatat, pameran tersebut menghadirkan proyek properti dari berbagai segmen, mulai dari rumah subsidi hingga hunian kelas atas.

Pameran juga menawarkan berbagai insentif pembiayaan dari bank-bank BUMN, seperti uang muka atau down payment (DP) mulai 1%, suku bunga tetap progresif mulai 2,75% per tahun, serta tenor kredit hingga 30 tahun.

Namun, berbagai promosi tersebut belum mampu mengerek transaksi secara signifikan. Nilai transaksi yang berhasil dihimpun hanya mencapai sekitar Rp 2 triliun, atau jauh di bawah target sebesar Rp 10 triliun.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguji Level 6.700 pada Rabu (9/9), Cek Rekomendasi Saham Berikut

“Ini menunjukkan bahwa biaya pembiayaan yang lebih rendah saja mungkin tidak cukup untuk meningkatkan permintaan,” ujar Halima dan Aurelia dalam risetnya pada 7 September 2026.

Permintaan Properti Masih Selektif

Indo Premier Sekuritas melihat sejumlah pengembang yang berpartisipasi dalam pameran turut menawarkan skema pembiayaan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), termasuk tenor hingga 30 tahun. Namun, fasilitas tersebut tetap bergantung pada kelayakan calon pembeli dan kebijakan masing-masing bank.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), misalnya, memamerkan apartemen Eluna dan Elora di kawasan perluasan Kota Kasablanka. Pengembang juga memberikan sejumlah promo khusus, termasuk hadiah emas 44 gram serta pembebasan biaya administrasi dan asuransi hingga Rp 60 juta.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) meluncurkan klaster Lacewood di CitraGardenCity dengan harga mulai Rp 1,8 miliar. Sementara itu, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menawarkan diskon hingga 20% untuk produk tertentu serta voucher furnitur hingga 1,5% melalui program Royal Key.

Berdasarkan pemantauan Indo Premier Sekuritas, permintaan selama pameran secara umum masih lemah. Sebagian besar transaksi terkonsentrasi pada properti dengan nilai sekitar Rp 2 miliar, termasuk proyek Izzi milik BSDE.

PWON disebut berhasil mengamankan sejumlah penjualan unit premium di Perluasan Kota Kasablanka dan Permata Hijau. CTRA juga mencatat beberapa kesepakatan penjualan, meski volumenya masih terbatas.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa calon pembeli masih sangat selektif dalam menentukan properti yang akan dibeli meskipun pengembang telah menawarkan berbagai promosi.

Properti Subsidi Masih Jadi Pilihan

Di sisi lain, Indo Premier Sekuritas mencatat penawaran hunian bersubsidi dan terjangkau berada di kisaran Rp 166 juta hingga Rp 387 juta. Produk tersebut mencakup rumah tapak maupun hunian vertikal yang ditawarkan oleh PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), PT PP Persero Tbk (PTPP), dan Perumnas.

Salah satu penawaran yang menjadi perhatian adalah Samesta Parayasa milik Perumnas di Parung Panjang. Properti tersebut ditawarkan mulai Rp 387 juta dengan cicilan bulanan sekitar Rp 3,3 juta.

Ada pula Pondok Banten Indah yang dikembangkan Kawah Anugerah Property dengan harga mulai Rp 166 juta. Properti tersebut ditawarkan dengan sejumlah insentif, termasuk pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), serta Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).

Baca Juga: IPO Lesu, Kiwoom Sekuritas Andalkan Obligasi dan Bisnis Advisory

PTPP turut menawarkan Isabella Tower di Grand Kamala Lagoon dengan harga mulai Rp 190 juta secara tunai atau Rp 240 juta melalui kredit pemilikan apartemen (KPA) dengan suku bunga tetap 6%.

Namun, mayoritas proyek hunian terjangkau tersebut berada di lokasi yang membutuhkan waktu sekitar 1–2 jam perjalanan dari kawasan Central Business District (CBD). Grand Kamala Lagoon menjadi salah satu pengecualian karena lokasinya relatif lebih dekat dengan pusat aktivitas perkotaan.

“Penawaran perumahan bersubsidi dan terjangkau tetap terkonsentrasi di daerah yang kurang terjangkau, dengan harga Rp 166 – Rp 387 juta,” terang Halima & Aurelia.

Konsumen Masih Wait and See

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, berbagai promo pembiayaan yang ditawarkan pengembang dan perbankan belum cukup untuk mendorong masyarakat segera membeli properti.

Menurutnya, persoalan di sektor properti saat ini bukan hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam membeli rumah atau affordability, tetapi juga tingkat kepercayaan konsumen.

Banyak calon pembeli masih memilih menunggu dan melihat perkembangan ekonomi sebelum mengambil keputusan. Mereka mempertimbangkan kondisi ekonomi, stabilitas pendapatan, hingga ekspektasi terhadap harga properti pada masa mendatang.

“Selain itu, suku bunga rendah dan uang muka ringan belum sepenuhnya mengatasi tantangan daya beli masyarakat yang masih tertekan,” ujar Harry Su kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).

Harry melihat sektor properti masih menghadapi tantangan yang cukup berat, khususnya karena pemulihan permintaan belum berlangsung secara merata.

Pengembang masih harus menghadapi tingginya biaya konstruksi, persaingan yang semakin ketat, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam membeli properti.

Segmen menengah ke bawah dinilai masih menjadi salah satu penopang pasar. Sementara itu, segmen menengah atas cenderung bergerak lebih lambat karena calon pembeli memiliki lebih banyak pertimbangan sebelum melakukan transaksi.

Menurut Harry, insentif pemerintah dan program pembiayaan memang dapat memberikan dukungan terhadap sektor properti. Namun, dampaknya kemungkinan belum akan terlihat secara signifikan dalam waktu dekat.

Ia memperkirakan pemulihan sektor properti akan berlangsung secara bertahap, dengan peluang pertumbuhan yang lebih baik pada segmen hunian terjangkau dan properti yang memiliki lokasi strategis.

“Hingga akhir tahun, kami melihat sektor properti masih akan bergerak cukup terbatas dan membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan signifikan,” ujar Harry Su.

Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Ungkap 3 Katalis yang Bakal Topang Pertumbuhan Kinerja

Penjualan Properti Mulai Membaik

Meski permintaan masih menghadapi tekanan, data Bank Indonesia menunjukkan adanya perbaikan pada penjualan properti residensial di pasar primer.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, penjualan properti residensial pada kuartal II 2026 secara tahunan masih mengalami kontraksi sebesar 2,36% year on year (yoy).

Namun, angka tersebut membaik dibandingkan kuartal I 2026 yang mencatat kontraksi jauh lebih dalam sebesar 25,67% yoy.

Perbaikan tersebut terutama didorong oleh penjualan rumah tipe kecil dengan luas bangunan maksimum 36 meter persegi. Meskipun masih terkontraksi 2,88% yoy, kinerja tersebut membaik signifikan dibandingkan kontraksi 45,59% yoy pada kuartal I 2026.

Penjualan rumah tipe besar dengan luas bangunan lebih dari 70 meter persegi juga menunjukkan perbaikan. Pertumbuhannya mencapai 13,08% yoy pada kuartal II 2026, berbalik dari kontraksi 8,03% yoy pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, segmen rumah tipe menengah dengan luas bangunan lebih dari 36 meter persegi hingga 70 meter persegi justru mengalami pelemahan.

Pertumbuhan penjualan rumah tipe menengah turun dari 8,28% yoy pada kuartal I 2026 menjadi kontraksi 10,51% yoy pada kuartal II 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×