Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rangkaian bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan, obat-obatan hingga alat kesehatan. Kondisi ini pun menjadi sentimen positif jangka pendek bagi sejumlah emiten sektor kesehatan.
Yang terbaru, erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik meningkatkan perhatian terhadap potensi gangguan kesehatan, khususnya masalah pernapasan. Sentimen tersebut turut mendorong penguatan sejumlah saham emiten kesehatan di Bursa Efek Indonesia.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama menilai rangkaian bencana dapat memberikan dampak positif bagi sebagian emiten kesehatan. Namun, dampaknya terhadap sektor secara keseluruhan cenderung terbatas karena peningkatan kebutuhan biasanya terkonsentrasi di wilayah dan periode tertentu.
Baca Juga: Musim Dividen Interim Dimulai, Saham Mana yang Menarik Dikoleksi?
"Dari sisi pendapatan, kenaikan volume layanan serta penjualan obat dan alat kesehatan bisa terlihat lebih cepat. Tetapi dampak ke laba belum tentu sebanding karena tetap ada biaya distribusi, tenaga medis, bahan baku, dan operational cost," kata Elandry kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut lebih berpotensi menjadi tambahan pendapatan dibandingkan mengubah secara signifikan profitabilitas emiten kesehatan dalam jangka panjang.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi. Ia menilai peningkatan kebutuhan layanan kesehatan akibat bencana cenderung bersifat lokal dan temporer, bukan menjadi perubahan struktural terhadap bisnis emiten kesehatan.
Wafi mencontohkan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL). Menurut dia, dampak terhadap permintaan layanan kesehatan akan lebih terasa apabila perseroan memiliki fasilitas di wilayah yang terdampak langsung bencana.
"Efek ke permintaan healthcare ada, tapi dampaknya biasanya localized dan temporary daripada structural game-changer untuk bisnis HEAL secara keseluruhan," ujar Wafi.
Ia menilai peningkatan permintaan akibat bencana umumnya berupa lonjakan sementara. Misalnya, kasus gangguan pernapasan dapat meningkat akibat paparan asap karhutla atau abu vulkanik, sementara gempa dapat meningkatkan kebutuhan penanganan trauma.
Baca Juga: Harga Semen Indonesia (SMGR) Turun 33% di Tengah Upaya Perbaikan, Simak Prospeknya
Namun, volume tersebut berpotensi kembali normal setelah kondisi darurat berakhir. Karena itu, Wafi masih skeptis bencana alam akan menjadi penggerak material terhadap kinerja keseluruhan HEAL.
Elandry melihat sejumlah emiten berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan kebutuhan produk kesehatan. Salah satunya PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang memiliki jaringan produk dan distribusi luas.
Selain itu, PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) juga dinilai berpeluang mendapatkan sentimen positif karena memiliki eksposur terhadap produk medical disposable dan alat kesehatan.
Untuk sektor rumah sakit, Elandry menyebut PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), HEAL dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) berpotensi memperoleh tambahan volume pasien. Namun, dampaknya tetap bergantung pada lokasi fasilitas rumah sakit terhadap wilayah yang terdampak.
Di luar sentimen bencana, Elandry menilai prospek sektor kesehatan masih ditopang sejumlah katalis struktural. Di antaranya pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan, ekspansi jaringan rumah sakit, peningkatan anggaran kesehatan, serta semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Namun, sektor ini tetap menghadapi sejumlah risiko, seperti inflasi biaya medis, pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan margin, serta tingginya biaya ekspansi sebelum kapasitas baru mencapai tingkat utilisasi optimal.
Dengan demikian, sentimen bencana lebih tepat dipandang sebagai katalis tambahan bagi sektor kesehatan, bukan sebagai alasan utama perubahan prospek fundamental emiten.
Untuk strategi investasi, Elandry masih melihat sektor kesehatan menarik secara selektif karena memiliki karakteristik defensif. Namun, investor disarankan tidak mengejar saham hanya karena sentimen bencana.
"Untuk investor, sektor kesehatan masih menarik secara selektif karena relatif defensif, tetapi jangan membeli hanya karena sentimen bencana," ujarnya.
Elandry memilih KLBF sebagai salah satu saham pilihan dengan target harga sekitar Rp970 per saham. Selain itu, MIKA juga menarik dengan target harga sekitar Rp1.950 per saham.
Sementara itu, HEAL dinilai menarik sebagai recovery play. Namun, volatilitas dan tekanan margin pada emiten tersebut dinilai relatif lebih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














