Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran dan membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Ketiga indeks utama Wall Street mencatat kenaikan harian terbesar sejak 8 April 2026, ketika AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara.
Baca Juga: 2 Tahun Absen, Saham Farmasi PEHA Siap Bagikan Dividen, Cek Rinciannya!
Melansir Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 929,97 poin atau 1,86% ke level 50.848,75.
Sementara itu, indeks S&P 500 naik 127,31 poin atau 1,75% menjadi 7.394,30 dan Nasdaq Composite melompat 640,16 poin atau 2,54% ke posisi 25.809,66.
Sentimen pasar membaik setelah Trump mengumumkan pembatalan serangan yang sebelumnya direncanakan terhadap Iran hanya beberapa jam sebelum operasi militer tersebut dijadwalkan berlangsung.
Trump juga mengatakan bahwa AS dan Iran berpotensi menandatangani perjanjian damai secepatnya akhir pekan ini.
Baca Juga: Investor Kripto Indonesia Tumbuh 50%, Industri Fokus Perkuat Literasi Digital
Kesepakatan tersebut diyakini dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini terganggu akibat konflik.
Kabar tersebut memicu aksi beli di pasar saham dan memperpanjang rebound Wall Street setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya.
Saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, menjadi motor utama penguatan pasar.
Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) melonjak 7,9%, mencatat kenaikan harian terbesar sejak April 2025.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,27% ke 5.886, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing, Kamis (11/6)
Direktur Per Stirling Capital Management Robert Phipps menilai, reli tersebut juga didorong oleh faktor teknikal setelah pasar mengalami koreksi yang cukup dalam dalam beberapa hari terakhir.
"Seperti halnya pasar sebelumnya naik terlalu jauh dan terlalu cepat, penurunan yang terjadi juga terlalu dalam dan terlalu cepat," ujarnya.
S&P 500 sendiri sempat terkoreksi dari rekor tertinggi yang dicapai pada awal Juni. Ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi menjadi salah satu faktor yang membebani pasar dalam beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain, perhatian investor kini mulai beralih ke debut perdagangan saham perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, yang dijadwalkan mulai diperdagangkan di bursa Nasdaq pada Jumat (12/6).
Baca Juga: Wall Street Menguat Dipimpin Saham Chip, Pasar Tetap Waspadai Timur Tengah
SpaceX pada Kamis menetapkan harga penawaran saham perdana (IPO) sebesar US$ 135 per saham dalam transaksi yang disebut sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.
Perusahaan berhasil menghimpun dana sebesar US$ 75 miliar melalui penjualan sekitar 555,56 juta saham. Nilai tersebut membuat valuasi SpaceX mencapai sekitar US$ 1,77 triliun dan menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Chief Executive Officer 50 Park Investments Adam Sarhan mengatakan, respons pasar setelah saham mulai diperdagangkan akan menjadi faktor yang jauh lebih penting dibandingkan harga IPO itu sendiri.
"Yang paling penting bagi investor adalah memahami horizon investasi mereka," katanya.
Meski mayoritas saham menguat, tidak semua emiten menikmati reli pasar. Saham Oracle Corporation anjlok 8,5% setelah perusahaan memproyeksikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun fiskal 2027 di atas ekspektasi Wall Street.
Dari sisi makroekonomi, investor juga masih menghadapi kekhawatiran inflasi. Data terbaru menunjukkan harga produsen AS (Producer Price Index/PPI) pada Mei naik lebih tinggi dari perkiraan, sehingga mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Baca Juga: BUVA, SMRA, PWON, BUKA, SRAJ, hingga MORA Gelar RUPS, Simak Rekomendasi Sahamnya
Sementara itu, jumlah klaim tunjangan pengangguran mingguan di AS meningkat tipis, menunjukkan pasar tenaga kerja mulai melambat meskipun masih relatif solid.
Dengan kombinasi inflasi yang tetap tinggi dan ketahanan ekonomi AS, pasar kini memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Namun, pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













