Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja operasional PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menunjukkan daya tahan yang solid di tengah tingginya permintaan properti yang makin selektif.
Pencapaian pra-penjualan emiten pengembang kawasan mandiri ini bahkan berhasil melampaui estimasi pasar.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim menjelaskan bahwa SMRA mengantongi pra-penjualan sebesar Rp 2,54 triliun pada semester I-2026.
Angka tersebut melonjak 17,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan melampaui target internal perusahaan maupun estimasi analis.
Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Targetkan Aset Recurring Sumbang 85% ke Pendapatan 2026
Wilayah Serpong menjadi penopang utama dengan pertumbuhan pra-penjualan 18,9% YoY menjadi Rp 1,12 triliun meski tanpa adanya peluncuran proyek baru.
Klaster Finore dan Bellefont East yang menyasar segmen menengah ke atas seharga Rp 3,5 miliar hingga Rp 8 miliar per unit menjadi kontributor kunci.
Selain Serpong, kawasan Bandung turut mencatatkan lonjakan pra-penjualan sebesar 62,6% YoY menjadi Rp 487 miliar.
Penjualan perumahan yang bebas PPN ikut menyumbang sekitar Rp 1 triliun atau setara dengan 40% dari total pra-penjualan semester I-2026.
Pada semester II-2026, SMRA menyiapkan deretan proyek baru yang lebih kuat di berbagai kawasan kunci.
Penyelenggaraan Summarecon Expo pada kuartal III dan IV 2026 juga diproyeksikan akan menjaga momentum pra-penjualan.
Namun, skema pembayaran konsumen membawa tantangan tersendiri bagi arus kas emiten.
Pembayaran secara bertahap atau cash instalment mendominasi hingga 68% dari total pra-penjualan.
Baca Juga: Sektor Saham Ini Terdampak Ketidakpastian Pimpinan Bank Sentral
Kevin menyoroti implikasi dari tingginya porsi pembayaran bertahap tersebut.
"Tidak seperti penjualan berbasis KPR di mana bank biasanya memberikan pembiayaan di awal kepada pengembang, skema angsuran tunai mengharuskan pengembang menanggung beban pembiayaan sehingga meningkatkan kebutuhan modal kerja," ungkap Kevin dalam risetnya, Kamis (23/7/2026).
Meskipun demikian, tingkat net gearing SMRA dinilai masih terjaga di level 64,6%.
"Kami percaya rekam jejak eksekusi kawasan mandiri perusahaan yang kuat serta ekspansi pendapatan berulang yang berkelanjutan akan terus menopang kekuatan neraca keuangan," ujar Kevin.
Sebelumnya, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa mencatat kinerja keuangan SMRA pada kuartal I-2026 mengalami kenaikan pendapatan 6,1% YoY menjadi Rp 2,23 triliun.
Baca Juga: Kinerja Laba dan Pendapatan Midi Utama (MIDI) Melonjak pada Semester I-2026
Segmen pengembangan properti menyumbang Rp 1,41 triliun (+6,2% YoY), sedangkan pendapatan berulang (recurring income) tumbuh 6,6% YoY menjadi Rp 589 miliar.
Namun, laba bersih SMRA pada kuartal I-2026 terkoreksi 20,3% YoY menjadi Rp 190 miliar akibat tekanan beban operasional dan tingginya beban bunga.
Untuk keseluruhan tahun 2026, Kevin dan Yasmin memproyeksikan perbaikan kinerja tahunan bagi SMRA.
Kevin memproyeksikan pendapatan SMRA mencapai Rp 9,11 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 924 miliar (+20,5% YoY).
Sementara itu, Yasmin memperkirakan pendapatan penuh tahun sebesar Rp 9,10 triliun (+3,8% YoY) dengan proyeksi laba bersih yang direvisi menjadi Rp 829 miliar untuk memperhitungkan tingginya beban non-operasional.
"SMRA membukukan pra-penjualan sebesar Rp 1,2 triliun pada kuartal I-2026 (+36,7% YoY), mencapai 23% dari target tahun anggaran 2026 sebesar Rp 5,2 triliun (+4% YoY), yang utamanya didorong oleh permintaan rumah tapak di Summarecon Serpong (kontribusi 37%) dan Bandung (kontribusi 19%)," ungkap Yasmin dalam risetnya, Jumat (8/5/2026) .
Yasmin menambahkan bahwa sentimen sektor properti tetap didukung oleh ekspektasi suku bunga yang stabil dan insentif PPN.
Melihat capaian tersebut, Yasmin mempertahankan rekomendasi buy untuk saham SMRA dengan target harga Rp 520 per saham.
Sementara itu, Kevin juga merekomendasikan BUY untuk saham SMRA dengan target harga Rp 470 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














